Sex & Relationship
Survei Femina : Hadirnya Orang Ketiga dan KDRT Alasan Utama Wanita Bercerai

25 May 2020



Dok. Pexels



Menurut data Kementerian Agama RI, jumlah perceraian terus bertambah hingga belasan ribu gugatan cerai tiap dua tahunan. Bahkan baru-baru ini, pemerintah menerapkan kebijakan bimbingan pranikah untuk mendapatkan sertifikasi pernikahan, yang konon dilakukan untuk menekan angka perceraian. 

Namun sebenarnya seperti apa pandangan kita terhadap perceraian?

Menurut survei Femina terhadap 920 responden (April, 2020), sekitar 37 persen gen x dan 48 persen milenial menganggap bahwa perceraian akan menimbulkan luka dan trauma buat anak, 32 persen milenial dan 44 persen gen x menilai bahwa jika sudah tidak ada keharmonisan dalam hubungan suami istri sebaiknya pasangan bercerai dan 11 persen gen x dan 14 persen milenial mengatakan bahwa bercerai adalah hal yang tabu untuk mereka.

Berdasarkan pengamatannya, Roslina Verauli, M.Psi, psikolog keluarga dan pasangan, menilai bahwa toleransi masyarakat terhadap perceraian memang semakin besar. 

“Ketika di lingkungan orang tersebut sudah ada yang bercerai, maka toleransi terhadap perceraian juga semakin besar. Selain itu, saat ini wanita makin independen secara finansial, tidak lagi bergantung pada suami dan punya pemahaman bahwa bercerai tapi bahagia itu lebih baik daripada bertahan dalam pernikahan yang runyam. Mereka lebih memilih untuk hidup sendiri dan bahagia,” jelasnya.

Berbeda dengan beberapa dekade lalu, dimana kebanyakan istri tidak bekerja, yang menurut Verauli mereka menelan bulat-bulan masalah pernikahan karena ketergantungan secara finansial dengan pasangan. 

“Karena dulu masih kental budaya malu (shame culture). Jadi terserah pasangan ngapain aja, asal jangan sampai cerai. Dulu cerai kan dianggap momok memalukan bagi keluarga,” tambahnya.

Menurut pengamatan Verauli, perceraian sebenarnya lebih banyak terjadi pada mereka yang masuk dalam gen x. Hal ini terlihat dari hasil cross data survei Femina yang menunjukkan bahwa pandangan jika sudah tidak ada keharmonisan dalam hubungan suami istri sebaiknya pasangan bercerai lebih besar bagi gen x (44 persen) daripada milenial (32 persen).

“Ketika masuk ke usia 40an, individu melakukan ulasan pada hidupnya, apakah ini yang kehidupan yang mereka inginkan. Saya menduga gen x lebih toleransi terhadap perceraian karena mereka mulai merasakan ketidakbahagiaan dalam pernikahannya,” tambahnya.

Ada banyak penyebab terjadinya perceraian. Namun yang mendominasi disebabkan oleh hadirnya orang ketiga (83 persen milenial, 79 persen gen x) dan kekerasan dalam rumah tangga (82 persen milenial, 78 persen gen x). Selebihnya karena mereka merasa tidak nyaman dengan pasangan, tidak mempercayai pasangan, karena pasangan sering mengkritik atau menghina, pasangan yang berbohong tentang kondisi keuangan hingga tidak puas dalam hubungan seks.


Lanjut ke halaman berikutnya.


BACA JUGA :
RUU Ketahanan Keluarga Menuai Kontroversi
Ini Dampak Buruk Memberikan Citra Negatif tentang Mantan Pasangan Kepada Anak
Bangkit Setelah Perceraian Menyakitkan


 


Topic

#SurveiFemina, #Perceraian, #Perselingkuhan, #KDRT

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?