Sex & Relationship
Saat Politik Jadi Bumbu Cinta di Antara Pasangan

19 Mar 2017


Foto: Fotosearch

Situs perjodohan ElliteSingels (2015) mengungkap bahwa politik rupanya bisa menjadi topik obrolan menyenangkan pada kencan pertama. Namun, apa yang terjadi ketika Anda dan pasangan punya pandangan politik yang berbeda, bahkan cenderung bertolak belakang? Benarkah masih menjadi bumbu cinta, atau malah pemicu gara-gara? Ully Siregar, Pengajar di Mary Lou Fulton Teachers College Arizona State University berikut ini membagikan ceritanya kepada femina.
 
LIBERAL VS KONSERVATIF
Sejak menikah dengan suami yang warga Amerika Serikat, saya tinggal di negara Paman Sam. Kami berdua sama-sama news junkies seputar berita politik. Bedanya, dia cenderung konservatif, sementara saya lebih condong ke ideologi liberal. Suami resmi terdaftar sebagai partai Republik, sementara saya, meskipun belum rela mengubah WNI menjadi warga negara AS, mendukung partai Demokrat yang lebih sejalan dengan paham liberal.
 
Presiden Donald Trump diusung oleh partai Republik. Meskipun suami saya bukan pendukung berat Trump, bagaimanapun juga itu kandidat dari partainya. Ia tak seperti saya yang bisa mengkritik Trump saat membuat keputusan kontroversi atau menulis tweet ‘ngawur’ yang menimbulkan beragam reaksi negatif.
 
Kadang-kadang saya membayangkan, sepertinya seru juga kalau bisa memiliki pasangan yang punya pandangan politik sama, bisa sama-sama ‘bitching’ mengomentari partai lain. Seperti teman saya di Jakarta, ia dan pasangannya sama-sama pendukung Ahok dan mereka bareng jadi volunteer. Masalahnya, sebelum menikah kita juga tidak bicara banyak soal pandangan politik. Jadi, ya... sudahlah!
 
Tiap pemilihan presiden, saya pasti gencar memengaruhi suami. Soalnya, saya belum punya hak pilih. Satu-satunya jalan ya mencoba memengaruhi suami. Suami saya termasuk pemilih yang cenderung moderat, bukan yang fanatik. Kalau argumen-argumen saya tepat, terkadang dia bisa terima. Dalam tiga kali pilpres sejak kami bersama, setidaknya dua kali dia memilih presiden yang bukan dari partainya, karena pengaruh saya, termasuk tidak memilih presiden yang sekarang ini.
 
Memiliki pandangan politik yang sama mungkin menyenangkan dan lebih sedikit konflik saat berdiskusi. Tapi, memiliki pasangan yang berbeda pandangan politik juga ada baiknya. Dengan adanya perbedaan yang tajam, kami berdua belajar menghargai pilihan masing-masing  sekaligus memahami pilihannya seburuk apa pun itu menurut saya. Mau tak mau kami menjadi lebih terbuka dalam melihat perbedaan.
 
Perbedaan politik juga membuat saya menjadi tidak fanatik, membuka diri untuk melihat hal-hal yang tak sempurna dari pilihan politik saya. Cuma, kalau perdebatan sudah panas dan sepertinya berujung pertengkaran, saya biasanya yang bilang, “Let’s stop here. And let’s not talk about politics for a while. Keep it to yourself. Daripada jadi pisah ranjang gara-gara politik, kan, nggak lucu. Ha… ha… ha….

Apakah pandangan politik Anda juga berbeda dari pasangan? Share di kolom komentar, ya. (f)



Baca juga:
Melania Vs Ivanka Trump Jadi Sorotan di Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45
Wujud Politik Identitas Kini: Atribut Mode untuk Pemimpin Modis
Generasi Millennial Aktif Menyuarakan Opini di Dunia Politik

 



Topic

#politik

 

polling
Uang Elektronik

Belakangan ini segala transaksi dilakukan secara nontunai. Yap, bisa dibilang kini kita bergantung pada uang elektronik (seperti Flazz - BCA, e-money - Mandiri, hingga BRIZZI - BRI) untuk pembayaran transportasi online, makan di restoran, hingga tol.

Berapa jumlah uang elektronik yang Anda miliki?