Sex & Relationship
Peremajaan Organ Kewanitaan Tanpa Operasi

28 Nov 2018

Foto: Dok. Pexels

Beberapa tahun terakhir prosedur Platelet Rich Plasma (PRP) lazim digunakan untuk meremajakan kulit dan merangsang kolagen agar kulit kembali kenyal. Tak hanya untuk kulit, kini PRP juga dimanfaatkan untuk meremajakan organ kewanitaan atau vaginal rejuvenation. 

"Peremajaan vagina adalah perawatan yang dilakukan di area kewanitaan, meliputi vagina (rongga, dinding, otot, dan mukosa) serta dasar panggul, yang mengalami perubahan bentuk dan fungsi akibat proses kehamilan, melahirkan, perubahan hormon, dan menopause. Walu disebut peremajaan vagina, prosedur ini juga dilakukan pada area luar vagina, seperti labia mayora, minoral, dan klitoris," jelas dr. Ni Komang Yeni Dhanasari Sp.OG, dari Bamed Women's Clinic, Jakarta.

Meski terkesan sensasional dan tabu, mungkin karena sering dikaitkan dengan selebritas yang kerap membuat sesnsai, sebetulnya tidak tepat kalau dikatakan peremajaan vagina ini hanya demi sensasi seksual. Menurut dr. Yeni, peremajaan vagina sangat membantu wanita yang mengalami kesulitan menahan urin, meningkatkan rasa percaya diri, hingga memperbaiki kualitas  hidup. "Bahkan wanita yang belum pernah melahirkan pun banyak yang sulit menahan urin saat melompat misalnya."

PRP adalah salah satu prosedur yang bisa dipilih untuk meremajakan vagina, terutama bagi yang tidak mau melakukan operasi. Prosedurnya, darah kita diambil sebanyak 10cc, kemudian diproses dalam mesin centrifuge. Dari sana akan didapat plasma yang kemudian dioleskan atau disuntikkan pada area yang dituju. 

PRP ini menurut dr. Yeni dapat dipadukan dengan laser untuk perawatan stress urinary incontinence, mengencangkan otot vagina, mengatasi masalah vagina kering, dan mencerahkan warna bibir vagina. 

PRP juga bisa dipadukan dengan hyaluronic acid dan filler untuk mengembalikan bantalan pada area sekitar vagina (labia mayora augmentation) dan mengembalikan kepekaan pada area g-spot dan orgasme spot. PRP juga bisa digunakan sendiri untuk perbaikan mukosa vagina, labia, serta area g-spot dan orgasme spot.

Memang dokter menyarankan untuk tidak berhubungan intim selama dua hari setelah melakukan perawatan, tapi hasilnya akan segera terasa. Tak heran kalau prosedur yang perlu diulang 3 - 4 bulan sekali ini diminati. 

Tentu saja, ini tidak boleh dilakukan sembarangan. "Untuk melakukan peremajaan vagina dengan PRP, pasien melakukan tes darah dan pap smear, untuk memastikan ia tidak sedang mengalami infeksi virus atau keputihan," ujar dokter yang menyebut dirinya desainer vagina ini.

Peremajaan vagina juga tidak boleh dilakukan mereka yang sedang hamil. Sebaiknya baru dilakukan tiga bulan setelah melahirkan dan tidak memiliki masalah diabetes. (f)

Baca Juga:

4 Masalah Seksual & Solusinya
Gairah Seks Menurun Setelah Melahirkan? Ini Solusinya
Ini Otot-otot yang Bekerja untuk Seks


Nuri Fajriati


Topic

#kesehatan, #seks

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.