
Foto: 123RF
Istilah pelakor –perebut laki orang- bisa jadi menjadi istilah yang paling banyak dibicarakan belakangan ini. Bagaimana kita dibanjiri berita tentang suami yang tergoda wanita lain, dan si wanita ‘penggoda’ tidak merasa perlu menyembunyikannya. Bagaimana istri yang ditinggalkan blak-blakan curhat di media sosial sehingga persoalan rumah tangga yang privat pun menjadi persoalan publik. Bahkan, penghujung tahun 2017, ditutup dengan kabar mengejutkan dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menggugat istrinya, Veronica Tan. Wajarlah kalau semua ini membuat sebagian orang pesimistis, sebegitu beratnya kah mempertahankan sebuah pernikahan saat ini?
Mempertahankan Komitmen
Dalam janji pernikahan, pasangan pengantin dengan yakin mengatakan akan setia satu sama lain, dalam kondisi baik-buruk, kaya-miskin, sakit-sehat hingga maut memisahkan. Namun, cepat atau lambat, semua pasangan akan menghadapi kondisi ‘buruk’, ‘miskin’, ‘sakit’ dalam pernikahan mereka. Dan ternyata, bertahan dalam pernikahan ketika menghadapi tantangan berat mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan.
Menurut psikolog keluarga, Anna Surti Ariani, tak ada formula yang cocok untuk semua orang dalam mempertahankan pernikahan. “Tidak ada rumus pasti. Pernikahan adalah sesuatu yang privat dan bersifat individual. 'Cara kerjanya' sangat bergantung pada bagaimana pasangan tersebut berkomitmen dalam menjalankan pernikahan,” tutur Nina. Kendati demikian, seperti disarankan Nina, daripada sibuk menyerang kekurangan masing-masing, lebih baik mencari persamaan pandangan. “Daripada memperuncing hal berbeda, jauh lebih baik melihat yang baik yang bisa dilakukan bersama. Ini akan memperbaiki hubungan yang renggang,” jelasnya.
Di sisi lain, menurut psikolog dan konselor pernikahan, Adriana S. Ginanjar, penting untuk memperkuat komitmen dan mengingat kembali apa yang pernah dijanjikan ketika menikah dulu. Artinya, dalam kondisi jatuh-bangun, bahagia-tidak, bisa coba diselesaikan melalui kerja sama. “Untuk pasangan yang sudah melewati perselingkuhan, penting untuk saling terbuka sehingga keduanya bisa saling menjaga. Pasang ‘pagar emosional’ tinggi-tinggi, lalu bangun lagi rasa percaya dan tunjukkan ekspresi cinta yang cocok di antara mereka,” jelas Adriana.
Yang dimaksud dengan ‘pagar emosi’ adalah untuk tidak asal curhat masalah yang dihadapi di dalam rumah kepada orang lain, seperti sembarang teman, apalagi di media sosial. “Sering kali, ketika membuka masalah kepada publik (teman atau media sosial), kita justru mendapatkan saran-saran yang tidak dibutuhkan. Lebih baik mencari dukungan dari keluarga, karena support system dari keluarga adalah bahan bakar penting untuk bertahan dalam pernikahan yang penuh tantangan.
Ada banyak cara bisa dilakukan untuk mempertahankan pernikahan di tengah tantangan seperti saat ini. Ada yang berusaha selalu hadir di sisi pasangan, ada pula yang memberikan kebebasan dan kepercayaan kepada pasangan. Misalnya saja seperti yang dilakukan Karina*. Setiap suaminya, Raka*, nongkrong bersama teman-temannya, ia sebisa mungkin ikut serta. Bahkan, sekalipun kegiatan tersebut berlangsung larut malam dan ia lelah sepulang kerja. “Perselingkuhan terjadi karena ada kesempatan. Daripada suami disusul wanita lain, lebih baik saya temani. Walau capek yang penting saya tahu dengan siapa suami berteman,” tambah Karina, tertawa.
Sebenarnya, tak ada batasan salah dan benar dalam pilihan tersebut. Hanya, menurut Nina, pahami kapan waktu yang tepat untuk berada di sisi pasangan dan kapan justru harus rela ‘melepasnya’. “Orang berpikir, dengan selalu berada di sisi pasangan akan terhindar dari perselingkuhan. Hal ini bisa saja justru akan membuat hubungan jadi tidak sehat,” imbuh Nina.
Berada terus di sisi pasangan bisa membuat hubungan terasa membosankan dan tidak berkembang. Suami dan istri memerlukan lingkungan yang berbeda-beda dibandingkan lingkungan yang mereka punya. “Ikatan sesungguhnya adalah komitmen, bagaimana kita secara pribadi bisa menjaganya dan mengingatkan pasangan tentang hal itu. Komitmen itu bisa kuat ketika ada rasa nyaman satu sama lain. Rasa nyaman itu bisa dibangun dari komunikasi yang sehat dan terbuka, serta bisa saling melayani,” jelas Nina.
Kekuatan Tersembunyi
Walau pasangan modern menghadapi tantangan yang lebih berat dan beragam, namun temuan Finkel justru melihat satu kekuatan tersembunyi. “Rata-rata pernikahan saat ini lebih lemah daripada rata-rata pernikahan generasi sebelumnya, jika dilihat dari tingkat perceraiannya. Namun, pernikahan modern ini justru jauh lebih kuat, jika dilihat dari kepuasan dan kesejahteraan pribadi,” tutur Finkel.
Adriana membenarkan pendapat Finkel. Menurutnya banyak pasangan saat ini yang lebih terbuka dan membantu pasangannya untuk berkembang. Mulai dari karier, pendidikan, hingga keputusan cara mengasuh anak bersama secara setara antara suami dan istri. Contohnya seperti dilakukan Aji Rezza, ketika istrinya, Nur Ulfa, menerima beasiswa untuk melanjutkan studi pasca sarjana ke Birmingham, Inggris. Sebagai salah satu bentuk dukungan pada Ulfa, Aji rela melepas pekerjaan mapannya di Jakarta selama 5 tahun dan ikut bersama istrinya tinggal di Inggris.
“Tak masalah saya sementara waktu berperan sebagai bapak rumah tangga dan bekerja lepas waktu di negeri orang. Yang penting, istri saya bisa mengejar impiannya untuk sekolah lagi,” ujar Aji bangga. Jika siang hari Ulfa harus mengikuti kelas di kampus, Aji akan mengurus segala kebutuhan sehari-hari di apartemen mungil mereka di pinggir kota. Sesekali, ia mengerjakan pekerjaan sampingan menulis naskah iklan yang dia dapatkan dari Jakarta.
Diakui Aji, pilihannya untuk mendukung kemajuan pendidikan sang istri justru mendapatkan tantangan. Tekanan dari keluarga perihal keputusannya melepas pekerjaannya yang mapan dianggap bisa membuat posisinya sebagai kepala rumah tangga rentan tidak dihargai oleh istri. Aji pun harus terus menerus menjelaskan kepada keluarganya bahwa ia sudah berkomitmen pada Ulfa untuk tidak mempermasalahkan siapa yang lebih besar menafkahi keluarga. “Saya dan Ulfa sepakat bahwa kami akan membagi peran rumah tangga sama adilnya, baik dalam soal mencari nafkah ataupun mengurus anak. Karena kita mau jadi suami-istri dan orang tua yang sukses bersama-sama,” jelas Aji.
Memang, bagi sebagian orang, pandangan terhadap sebuah hubungan pernikahan telah berubah. Tapi, bila melihat Aji, hal ini seperti menjadi bukti bahwa apa yang dikatakan Finkel, bahwa pasangan muda saat ini mulai berubah lebih baik. Para pasangan modern kini lebih mandiri, fleksibel, berkembang bersama, dan bekerja sama untuk mendapatkan kesuksesan berdua. “Memang, pasangan modern lebih lemah dalam usaha mereka mempertahankan pernikahan, namun mereka lebih kuat untuk mendapatkan kebahagiaan bersama,” pungkas Finkel.(f)
*) Semua nama responden disamarkan
Konsultan: Psikolog dan konselor pernikahan, Adriana S. Ginanjar & psikolog keluarga, Anna Surti Ariani
Baca juga:
4 Resep Bahagia untuk Anda yang Menikah dengan Sahabat
25 Cara untuk Memangkas Bujet Pernikahan – Part 2
7 Hal yang Harus Diketahui Pasangan Sebelum Menyiapkan Detail Pernikahan
Topic
#pasanganmodern


