Sex & Relationship
Mau Menikah Setelah Perkenalan Singkat? Pertimbangkan Juga Hal-Hal Berikut

14 Apr 2017


Foto: 123RF


Tidak ada yang bisa menjamin bahwa mereka yang berhubungan lama sebelum menikah akan langgeng tali pernikahannya. Begitu juga cinta kilat. Waktu yang terlalu singkat untuk mengenal pasangan luar dalam, dan cinta yang belum teruji kadarnya, tapi telah memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan.

Cerita tentang pernikahan kilat sebetulnya sering kita dengar dari para orang tua zaman dahulu. Pernikahan kilat bukan maksudnya masa pernikahan hanya seumur jagung, akan tetapi masa pacarannya yang singkat. Begitu merasa cocok, langsung menikah.

Bagi generasi sekarang, menikah kilat adalah sesuatu yang musykil. Boro-boro mau langsung ijab kabul, yang sudah berpacaran lama saja banyak yang berakhir dengan perceraian. Namun demikian, tampaknya roda berputar.

Ada beberapa alasan pasangan sekarang memutuskan menikah kilat. Pertama, faktor kemudahan yang dimungkinkan oleh teknologi informasi. Saling bertemu lewat online, googling informasi tentang pasangan secara online juga, hingga akhirnya tak butuh waktu lama untuk memutuskan serius. Kedua, faktor kenyamanan, seperti pada kasus Selmadena. Ada pula yang karena faktor agama. Berkenalan dengan pasangan lewat proses ta’aruf singkat, lalu memutuskan menikah. Masa pacaran berlangsung setelah menikah.

Fenomena pernikahan kilat ini sedang menjadi hip di Cina. Belasan pasangan selebritas Cina yang menikah, mengaku hanya berpacaran singkat, ada yang 9 hari, bahkan ada yang baru 90 menit! Selain selebritas, banyak juga kalangan umum yang memilih menikah kilat. Faktor tekanan sosial terhadap lajang dan tingginya harga properti  dinilai menjadi salah satu pemicu tren pernikahan kilat di sana.  

“Dalam mencari pasangan kadang-kadang intuisi memegang peranan. Tapi, intuisi ini tidak datang begitu saja. Ada suatu kesamaan yang membuat kita tertarik pada seseorang,” ujar psikolog Tara de Thouars.  

Menurut Tara, kesamaan ini bisa datang dari minat dan hobi yang sama, punya visi dan mimpi yang sama, punya kepribadian sama, atau bisa karena sama-sama ingin fokus di karier lalu bertemu dengan orang yang support dengan kariernya.

Bagaimana memastikan bahwa si dia adalah orang yang tepat untuk diajak serius? “Coba cek ke pasangan, apa tujuan hidupnya? Kalau tujuan hidupnya belum jelas, berarti dia belum bisa diajak serius ke depannya,” jelas Tara.

Tanda lain untuk mengecek bahwa si dia orang yang tepat adalah apakah selama menjalin hubungan dengan pasangan, kita lebih banyak happy atau tidak? “Kalau lebih banyak menangis, berkorban, dan berantem, ngapain diterusin? Mungkin hubungan bisa diperjuangkan, tapi seharusnya dalam hubungan itu  pasangan adalah orang yang membuat kita bahagia.”

Ada beberapa kasus, pasangan yang bahagia di awal-awal, tapi  lama-kelamaan ternyata tidak. “Coba tanya  pada diri sendiri, apa yang Anda cari dari pasangan hidup Anda. Apakah si dia memenuhi kriteria itu atau tidak. Mau tidak Anda berkompromi? Kalau jawabannya tidak, lebih baik tidak usah diteruskan. Misalnya, Anda punya kriteria pasangan harus romantis. lalu ternyata si dia tidak romantis. Mau tidak Anda berkompromi?”

Sering kali keputusan yang terburu-buru dianggap sebagai keputusan yang impulsif. Lantas, apa tanda bahwa keputusan kita untuk menikah adalah  keputusan yang impulsif semata atau bukan?

Mengenai hal ini, Tara menjawab, sebelum menuju ke jenjang yang lebih serius, Anda harus terlebih dahulu menemukan kekurangan si dia. “Sadari bahwa dalam pernikahan nantinya Anda akan berhadapan dengan hal-hal yang tidak Anda sukai dari si dia. Kalau Anda hanya mau tahu manisnya saja, berarti itu keputusan impulsif,” jelas Tara.

Di titik ekstrem lain, ada pula orang yang terlalu paranoid. Takut berkomitmen dan membuka hati untuk orang yang serius. Bayangannya dipenuhi oleh ketakutan. Takut si dia nanti selingkuh, menjadi pelaku KDRT, takut pasangan tidak membuatnya bahagia, dan sebagainya.(f)
 

Ficky Yusrini (kontributor)
 


Topic

#menikah

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?