
Dok. Unsplash
Zaman berganti, manusia pun ikut berevolusi. Dengan adanya pergeseran tujuan personal, nilai-nilai dalam kehidupan dan peran yang berbeda dari generasi sebelumnya, membuat makin banyak generasi milenial menahan diri dalam pernikahan.
Bukan tanpa sebab, keinginan untuk mengembangkan karier, memenuhi kebutuhan diri, hingga memiliki fondasi finansial yang lebih mapan sebelum membangun keluarga telah membuat mereka mendefinisikan ulang arti pernikahan yang sesungguhnya.
Pernikahan, bukan lagi soal menyatukan cinta dua manusia. Walau memang tak dipungkiri cinta adalah hal esensial dalam sebuah pernikahan, namun nyatanya bagi generasi muda kini, itu saja tak cukup. Seperti temuan Femina terhadap 920 responden yang menemukan bahwa alasan paling penting bagi 77% milenial untuk menikah adalah komitmen seumur hidup, sementara 76% gen x adalah cinta.
Jika merunut pada akarnya, menurut Roslina Verauli, M.Psi, psikolog keluarga dan pasangan, semakin meningkatnya aktivitas seksual sebelum pernikahan membuat generasi muda kini mencari sesuatu yang lebih tinggi, salah satunya adalah komitmen.
“Menurut banyak penelitian global, memang pandangan seseorang terhadap seks sebelum pernikahan semakin terbuka. Ketika biasanya sexual debut (aktivitas seksual pertama) dilakukan saat menikah, kini banyak sudah melakukannya lebih dulu. Komitmen pun jadi sebuah isu bagi generasi lebih muda saat ini, karena mereka membutuhkan pasangan yang benar-benar berkomitmen membina hubungan yang lebih serius,” jelas Verauli.
Dengan menganggap bahwa komitmen seumur hidup adalah alasan terkuat bagi milenial untuk menikah, maka tak heran jika generasi milenial kini menghabiskan waktu yang panjang untuk terjun ke dalam jenjang pernikahan. Bukan hanya soal keinginan mengembangkan karier, menyiapkan mental dan finansial saja, tapi juga keinginan untuk mengenal pasangan lebih dalam.
Seperti kata Verauli, milenial merasa lebih baik menunda menikah daripada bersama orang yang salah.
“Anak-anak muda sekarang punya standar baru dalam memilih pasangan, bahwa bagi mereka menjadi lajang itu bukan masalah yang besar. Jadi mereka tidak masalah kalau mundur dari social clock untuk menikah. Bagi mereka tidak masalah tidak menikah dulu daripada harus bersama orang yang tidak tepat,” papar Verauli.
Belum lagi karena berubahnya zaman, ketika gaung-gaung kesetaraan makin terasa nyata, angan-angan pernikahan yang ideal bagi responden survey Femina sangat berkaitan erat dengan pembagian peran yang rata.
Pernikahan yang ideal bagi 95% responden adalah ketika suami dan istri bertanggung jawab bersama untuk pendidikan dan pengasuhan anak. Dan 55% responden yang mengatakan bahwa istri mempunyai hak yang sama dengan suami dalam mengembangkan karier di luar rumah.
Namun, ketika masuk dalam dunia pernikahan, nyatanya angan-angan akan pernikahan ideal yang setara tak serta merta terjadi seperti yang diinginkan. Pola pengasuhan anak masih jadi tantangan yang berat bagi 52% milenial dan 42% gen x, serta pembagian peran suami dan istri dalam pekerjaan rumah tangga bagi 49% milenial dan 42% gen x.
Peran yang makin setara dalam pernikahan memang sesuatu yang perlu diapresiasi. Namun sayangnya pola yang banyak ditemukan di masyarakat, masih merupakan pola yang tradisional, belum egaliter.
“Suami istri sama-sama bekerja, seharusnya tekanan pekerjaan mereka juga sama. Namun kenyataannya, di rumah si istri tetap lebih banyak mengasuh anak dan mengurus rumah tangga dibandingkan suami. Ketegangan istri yang bekerja ini tinggi sekali. Mereka kelebihan beban,” papar Verauli.
Mengapa istri bekerja lebih banyak untuk mengurus anak dan rumah tangga dibandingkan suami, walau mereka sama-sama bekerja?
“Ternyata ini lebih pada gender stereotipe. Wanita mengkhayati bahwa hal itu memang seharusnya pekerjaan yang dilakukan oleh wanita. Begitu juga yang dipikirkan oleh suami. Sehingga ketika suami turun tangan sedikit mengurus anak, dia sudah merasa berjasa sekali sebagai suami. Padahal seharusnya ini adalah pekerjaan bersama,” ujar Verauli mengingatkan. (f)
BACA JUGA :
Kencan Digital Mulai Ditinggalkan Milenial
Pisah Ranjang Bisa Bikin Pernikahan Lebih Langgeng
Mempertahankan Komitmen di Tengah Konflik Pernikahan
Topic
#SurveiFemina, #Pernikahan, #Cinta


