
Mira Lesmana, ambil bagian membagikan kisah kedekatan anak-anak Sumba dengan ndara, atau kuda/Foto: NJL
Perayaan 15 tahun Sokola Rimba di GoetheHaus, Rabu (26/09) sore lalu sukses menggugah pemahaman terhadap berharganya menjaga keberagaman yang ada di nusantara. Terbagi ke dalam tiga segmen, masing-masing menghadirkan narasi-narasi yang menceritakan kehidupan berbagai suku di wilayah terpencil Indonesia beserta kearifan lokal mereka. Beberapa artis dan tokoh publik hadir untuk membawakan narasi, di antaranya Prisia Nasution, Handry Satriago, Tulus, Maudy Koesnaedi, Reza Rahadian, Mira Lesmana, dan Riri Riza.
Narasi-narasi tersebut meliputi tiga pembelajaran mendasar yang diberikan di Sokola Rimba, yaitu pelestarian lingkungan, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Lebih dari sekadar keterampilan calistung (baca, tulis, hitung), tiga pembelajaran mendasar itu yang ikut membangun anak-anak rimba menjadi sosok manusia utuh, dekat dengan alam, Penciptanya, dan sesamanya.
“Membaca sepenggal kisah kehidupan orang rimba, saya banyak belajar tentang filosofi kehidupan mereka,” ungkap model dan pelakon Maudy Koesnaedi. Ia kebagian membacakan narasi di segmen pertama, tentang Pelestarian Lingkungan.
Dalam narasi yang ia bacakan Maudy mengisahkan Bungo Sanggul, anak rimba dari Bukit Dua Belas Jambi. Bagi orang Rimba, pohon adalah akte kelahiran yang menandakan eksistensi mereka. Masing-masing anak terlahir ke dunia dengan dua pohon sebagai tanda kelahiran mereka, yaitu pohon Sentubung dan Sengoris.
Di bawah pohon Sentubung inilah ari-ari Bungo ditanam oleh ayahnya. Sementara itu, kulit pohon sengoris akan ditumbuk, dicampur dengan minyak, dan dioleska di ubun-ubun bayi. Bersamaan dengan itu, Sang Dukun akan memberikan nama pada sang bayi. Nama yang dibisikkan para dewa kepadanya.
Kedua pohon itu dilindungi seperti melindungi si bayi. Tidak boleh seorang pun menebang pohon-pohon tersebut. Mereka yakin, jika Sentubung ditebang, maka mereka pun akan mati. “Pohon dan kami hidup bersama, saling memberi, saling mengasihi. Setiap kelahiran, menghasilkan kewajiban untuk melindungi dua pohon lagi,” lanjut Maudy bernarasi.
Narasi-narasi tersebut meliputi tiga pembelajaran mendasar yang diberikan di Sokola Rimba, yaitu pelestarian lingkungan, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Lebih dari sekadar keterampilan calistung (baca, tulis, hitung), tiga pembelajaran mendasar itu yang ikut membangun anak-anak rimba menjadi sosok manusia utuh, dekat dengan alam, Penciptanya, dan sesamanya.
“Membaca sepenggal kisah kehidupan orang rimba, saya banyak belajar tentang filosofi kehidupan mereka,” ungkap model dan pelakon Maudy Koesnaedi. Ia kebagian membacakan narasi di segmen pertama, tentang Pelestarian Lingkungan.
Dalam narasi yang ia bacakan Maudy mengisahkan Bungo Sanggul, anak rimba dari Bukit Dua Belas Jambi. Bagi orang Rimba, pohon adalah akte kelahiran yang menandakan eksistensi mereka. Masing-masing anak terlahir ke dunia dengan dua pohon sebagai tanda kelahiran mereka, yaitu pohon Sentubung dan Sengoris.
Di bawah pohon Sentubung inilah ari-ari Bungo ditanam oleh ayahnya. Sementara itu, kulit pohon sengoris akan ditumbuk, dicampur dengan minyak, dan dioleska di ubun-ubun bayi. Bersamaan dengan itu, Sang Dukun akan memberikan nama pada sang bayi. Nama yang dibisikkan para dewa kepadanya.
Kedua pohon itu dilindungi seperti melindungi si bayi. Tidak boleh seorang pun menebang pohon-pohon tersebut. Mereka yakin, jika Sentubung ditebang, maka mereka pun akan mati. “Pohon dan kami hidup bersama, saling memberi, saling mengasihi. Setiap kelahiran, menghasilkan kewajiban untuk melindungi dua pohon lagi,” lanjut Maudy bernarasi.

Prisia Nasution, sebagai Butet Manurung di film Sokola Rimba (2013) produksi MILES Films/Foto: Dok. MILES Films.
Di segmen ke-2 menghadirkan narasi yang mengulas hubungan manusia dengan penciptanya. Kali ini, Ketua Dewan Sokola Institute dan Dewan Penyantun Sokola, Handry Satriago, mengisahkan tentang perburuan madu, atau Melantok Sialong, di kalangan pria Rimba.
“Melantok Sialong hanya bisa dilakukan oleh orang yang kuat dan bersih hatinya. Sebab, di puncaknya sana, apa saja bisa terjadi. Angin mengembus lebih kencang, membutuhkan kaki-kaki yang kuat berpijak dan lisan yang fasih merapalkan doa-doa perlindungan,” kisah Handry, diiringi lantunan tembang dalam bahasa Kubu oleh Pengendum Tampung.
Berbekal lantunan doa pada Sang Pencipta ini yang membuat kaum pria dari orang Rimba berani memanjat ketinggian pohon Sialong yang batangnya bisa mencapai puluhan meter tanpa pengaman.
Namun, bagian yang tak kalah menarik dan memancing tawa terjadi di segmen ke-3, melalui narasi yang menggambarkan relasi antar manusia, termasuk di dalamnya antara wanita dan pria. Narasi kocak yang dibawakan apik oleh Prisia Nasution ini mengandaikan wanita sebagai durian yang berduri tajam, dan pria sebagai mentimun yang lebih rapuh.
“Melantok Sialong hanya bisa dilakukan oleh orang yang kuat dan bersih hatinya. Sebab, di puncaknya sana, apa saja bisa terjadi. Angin mengembus lebih kencang, membutuhkan kaki-kaki yang kuat berpijak dan lisan yang fasih merapalkan doa-doa perlindungan,” kisah Handry, diiringi lantunan tembang dalam bahasa Kubu oleh Pengendum Tampung.
Berbekal lantunan doa pada Sang Pencipta ini yang membuat kaum pria dari orang Rimba berani memanjat ketinggian pohon Sialong yang batangnya bisa mencapai puluhan meter tanpa pengaman.
Namun, bagian yang tak kalah menarik dan memancing tawa terjadi di segmen ke-3, melalui narasi yang menggambarkan relasi antar manusia, termasuk di dalamnya antara wanita dan pria. Narasi kocak yang dibawakan apik oleh Prisia Nasution ini mengandaikan wanita sebagai durian yang berduri tajam, dan pria sebagai mentimun yang lebih rapuh.
“Sebagai perempuan rimba, kami punya kemewahan: adat yang melindungi dan mengistimewakan kami. Kami hampir selalu dimenangkan dalam setiap perkara adat dengan laki-laki. Itulah mengapa perempuan diperumpamakan dengan durian dan lelaki sebagai mentimun. Bagaimanapun juga, mentimun hancur jika diadu dengan durian,” kisah Prisia.
Rupanya, dalam kehidupan masyarakat adat Rimba Bukit Dua Belas, Jambi, wanita galaklah yang didamba. “Istri yang pemarah, terkesan rewel, dan banyak menyuruh suami adalah fondasi adat rimba untuk memastikan kecukupan pangan keluarga…kaum laki-laki hanya bisa menjawab pelan, ‘Au, au’, yang artinya iya,” lanjut Prisia disambut gelak tawa, undangan.
Kedudukan wanita rimba sangat signifikan. Perempuanlah yang mewarisi seluruh harta keluarga, pemegang kuasa atas hasil panen, dan yang berhak membagi hasil buruan yang didapat kaum pria.
Pucuk Undang Nang Delapan Teliti Nang Dua Belas, hukum adat adat Orang Rimba, menempatkan perempuan di bagian paling penting yang harus dilindungi.
"Pelanggaran atas perlindungan perempuan akan mendapatkan hukuman berat yang tidak dapat ditawar. Kalau digentung sampai tinggi, kalau dibunuh sampai mati, kalau dibuang sampai jauh,” tutup Prisia, membuat kuduk merinding.(f)
Kedudukan wanita rimba sangat signifikan. Perempuanlah yang mewarisi seluruh harta keluarga, pemegang kuasa atas hasil panen, dan yang berhak membagi hasil buruan yang didapat kaum pria.
Pucuk Undang Nang Delapan Teliti Nang Dua Belas, hukum adat adat Orang Rimba, menempatkan perempuan di bagian paling penting yang harus dilindungi.
"Pelanggaran atas perlindungan perempuan akan mendapatkan hukuman berat yang tidak dapat ditawar. Kalau digentung sampai tinggi, kalau dibunuh sampai mati, kalau dibuang sampai jauh,” tutup Prisia, membuat kuduk merinding.(f)
Topic
#Pendidikan, #Keberagaman


