Dok. Instagram Abracadabra Film
Belum juga selesai dengan film Imperfect dan Habibie & Ainun 3, Reza Rahadian kembali tampil di layar perak Indonesia tiga kali berturut-turut dalam waktu yang sangat berdekatan. Berbeda dengan permainan watak dan drama romcom yang biasa dibintanginya, kali ini Reza tampil pada film bernuansa sulap, Abracadabra. Ia memerankan sosok Lukman, seorang pesulap yang siap berhenti berkarier dan menampilkan pertunjukkan terakhirnya.
Ternyata, pertunjukan penutup Lukman tidak berjalan sesuai rencana ketika seorang anak dan ibunya menghilang di balik kotak properti sulapnya, yang menjadikan Lukman dan kotak ajaibnya sebagai buronan polisi. Lukman yang mencari cara mengembalikan anak-ibu yang hilang hingga ke pantai rahasia dan bukit batu menangis, terus diikuti tiga polisi yang terus mengejarnya.
Sayangnya, hal yang tidak berjalan sesuai rencana pada film ini bukan hanya pada trik sulap, tapi juga pada naskah pentas teater yang dijadikan sebuah film layar lebar tanpa adaptasi yang memadai. Banyaknya aktor senior dengan kemampuan berolah peran mumpuni seperti Butet Kartaredjasa, Jajang C. Noer, Dewi Irawan, dan Egy Fedly, seakan mubazir dengan dialog dan karakter yang tak sesuai zaman dan tanpa pengembangan berarti sepanjang film.
Secara visual, Abracadabra mengingatkan penonton pada tone cantik, senada, dan sinematografi simetris karya Wes Anderson, penggambaran karakter ala Tim Burton yang seakan berasal dari dunia lain, dilengkapi dengan tata musik yang eksentrik bagai ketukan dialog musikal pada cerita. Sayangnya baurnya gambaran era dan ketidaksesuaian kostum dengan situasi lingkungan, semakin menjadi anomali pemuas keinginas ego sang sutradara, Faozal Rizal.
Bila film lansiran Four Colours Film ini dikategorikan sebagai film komedi, humor yang disampaikan tampak tak relevan dengan penonton dan zaman. Film ini jelas tidak dibuat untuk menghibur publik luas Indonesia yang terbiasa dimanjakan dengan jalan cerita jelas dan bumbu drama, bukan hanya sekadar pemuas mata. Jalur cerita yang tak jelas dimana bermula dan berakhir menjadi sebuah teka-teki hingga penghujung film, selayaknya sebuah karya tanpa konklusi berarti.
Abracadabra nampak bagai sebuah film eksperimental yang memang dipersiapkan untuk ajang festival film ketimbang penonton komersial. Sebuah projek coba-coba yang membuat para penonton ingin memasuki kotak ajaib dan menghilang mengejar sosok Reza Rahadian ketimbang menyelami dongeng sang penyampai cerita.
Abracadabra, siap tampil di Bioskop Indonesia mulai 9 Januari 2020. (f)
Baca Juga
5 Drama Korea Mulai Tayang Januari 2020
Marie Kondo Mengajak Anak-anak Belajar Merapikan Barang
Belajar Mencintai Diri Sendiri Lewat Film IMPERFECT
Topic
#Abracadabra, #RezaRahadian, #FaozanRizal, #UlasanFilmFemina


