Reviews
Kim Ji-young, Born 1982, Mengurai Isu Kesehatan Mental dan Patriarki

26 Nov 2019

Foto-foto: dok. Lotte Entertainment
 
Film yang dibuat berdasarkan novel laris berjudul sama karya Cho Nam-joo ini seolah merangkum berbagai pengalaman tidak menguntungkan wanita di Korea Selatan yang mengutamakan anak laki-laki. Situasi wanita karier hingga kasus kamera tersembunyi yang mengintai wanita di berbagi tempat umum, yang baru-baru ini menggembarkan.

Kim Ji-young (Jung Yu-mi), wanita kelahiran 1982, yang menurut teori termasuk generasi milenial awal, masih merasakan kentalnya budaya patriarki di Korea Selatan. Sejak kecil Kim Ji-young memiliki melihat wanita selalu jadi pihak yang harus terus berkorban. Ibunya harus memupus cita-cita menjadi guru untuk membiayai sekolah adik-adiknya.

Hubungan dengan ayahnya pun tak manis. Ayahnya hanya membawa oleh-oleh untuk adik laki-lakinya. Bukannya melindungi dari pria yang mencoba melecehkan, ia malah disalahkan oleh ayahnya karena dianggap berpenampilan menggoda. Ayahnya bahkan tak tahu apa makanan kesukaannya. 
 

Saat bekerja, ia harus menerima kenyataan bahwa kemampuannya jadi tak dipandang karena ia  wanita. Kekhawatirannya akan mengalami apa yang dialami atasannya yang menikah dan memiliki anak, menjadi kenyataan. Menjadi full-time mother dan housemaker, tangannya selalu sibuk. Bukannya tak mencintai anak dan suaminya, namun tak disangkal, ia makin jarang tersenyum. Ia merasa jadi sering lupa, namun yang ia  tak sadari adalah bukan hanya pergelangan tangannya yang sakit, perlahan kesehatan mentalnya juga digerogoti penyakit.

Suaminya, Da hyeon (Gong Yoo) lah yang pertama menyadari kalau Ji-young mengalami masalah. Pada saat tertentu, saat ia merasa benar-benar tertekan, Ji-young mendadak menjadi orang lain, kadang teman kuliahnya, ibunya, atau neneknya. Da hyeon sebenarnya pria berpikiran modern yang ingin berbagi peran dalam mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun sayang niat baiknya seringkali hanya sebatas niat.

Merasa bingung dan tak tahu mesti berbuat apa, Da hyeon akhirnya menemui psikiater. Namun, untuk mengembalikan senyum Ji-young diperlukan usaha Ji-young dan dukungan seluruh keluarga, bahkan segenap sistem dalam masyarakat. 



Pengambilan gambar yang tidak dindah-indahkan, dan cerita yang mengalir maju - mundur tanpa klimaks yang berlebihan, membuat film ini terasa nyata. Sedikit banyak kondisi sosial yang mengutamakan pria masih juga terjadi di Indonesia. Namun yang paling relevan adalah ancaman kesehatan mental pada wanita setelah melahirkan. Postpartum depression bisa terjadi pada wanita di belahan dunia mana pun.

Senang, penulis film membuat karakter mengutamakan terapi untuk menyembuhkan kesehatan mental ketimbang kembali berkarier. Pasalnya, semula penonton seolah digiring untuk menduga kalau Ji-young mengalami depresi karena harus melepas karier, padahal masalahnya lebih kompleks dari itu. 

Di Korea Selatan, film ini mendapat reaksi luar biasa dari masyarakat. Di satu sisi film ini meraih box office dengan menjual lebih dari 3,6 juta tiket sejak diputar pada 23 Oktober. Namun kabarnya film ini juga menyebabkan banyak pasangan kekasih putus. Penyebabnya, para pria melarang kekasihnya untuk menonton film yang disebut-sebut mengembuskan semangat feminisme ini. Itu malah makin membuktikan kalau apa yang dialami Kim Ji-young relevan dan nyata. Seperti kata Gong Yoo saat promosi, film ini layaknya disaksikan lebih banyak orang dari berbagai generasi. Penonton bisa belajar. (f)

Baca Juga:
 


Topic

#review, #filmkorea, #koreancorner, #gongyoo

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?