Reviews
Film Kartini, Emansipasi Melewati Batas Zaman

18 Apr 2017


Foto: Dok. Legacy Pictures
 
Sudah sejak pertengahan tahun 2016, banyak orang menanti dan membicarakan Kartini. Bukan hanya ramai memperbincangkan perjuangan Kartini saja, tapi juga bagaimana kemampuan aktris Dian Sastrowardoyo dapat menjawab ekspektasi tinggi para penikmat film ketika ia harus memerankan sosok ikonik pahlawan emansipasi wanita ini.

Sifat ‘memberontak’ sudah tampak jelas dalam diri Kartini bahkan ketika ia masih kecil. Bagaimana ia meronta-ronta kala ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) mengharuskan ia tidur terpisah dari ibu kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim), yang juga asisten rumah tangga di keluarganya. Jika Kartini ingin mendapatkan gelar bangsawan Raden Ajeng, ia harus rela hidup terpisah dengan ibu kandungnya, yang saat itu tak memiliki gelar bangsawan.

Sejak masa haid pertamanya, ia pun dipingit dan tinggal di dalam rumah utama, bersama dengan keluarga dan ibu tirinya, R.A Moerjam (Djenar Maesa Ayu) serta mengikuti tata krama dan aturan ala bangsawan di Jepara. Kartini juga dilarang keluar hingga ada bangsawan yang melamarnya.

Simak trailernya di sini:

 

Kegelisahan atas kehidupannya yang terkekang aturan tersebut perlahan mulai runtuh, kala sang kakak, R.M Sosrokartono (Reza Rahadian) memberikan kunci untuk ‘pintu ke mana saja.’ Begitu dia menyebutnya. ‘Pintu’ itu sebenarnya adalah sebuah lemari dengan buku-buku berbahasa Belanda yang membuat matanya terbuka akan dunia luar. Dari situ, lahirlah berbagai imajinasi dan inspirasi Kartini untuk menulis. Ini juga menjadi salah satu cara Kartini mengusir kebosanan dan sebagai bentuk pemberontakan atas rantai-rantai kekang yang membatasi geraknya.

Ia pun menularkan semangat pemberontakan dan membuka mata atas dunia luar kepada dua adiknya, R.A Roekmini (Acha Septriasa) dan R.A Kardinah (Ayushita). Layaknya three musketeers, ketiganya tak hanya memperkaya wawasan dengan buku-buku cerita tebal yang diwariskan sang kakak, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan edukasi dasar bagi wanita dan meningkatkan ekonomi warga miskin melalui keterampilan membuat kerajinan ukiran Jepara yang khas.

Di film ini, Dwi Sasono juga tampil menjadi suami Kartini, Raden Adipati Joyodiningrat, dan Denny Sumargo sebagai kakak Kartini, R.M Slamet Sosroningrat. Sutradara Hanung Bramantyo menyuguhkan kesegaran dan celoteh-celoteh ringan yang akan membuat Anda ikut tertawa. Salah satunya, ia menampilkan sisi tomboi Kartini di balik keanggunan seorang putri bangsawan. (f)
 

Citra Narada Putri


Topic

#ResensiFilm, #Kartini

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.