Profile
Seri Kisah Sineas: Universe Baldoza, Memotret Realitas Tanpa Menggurui

8 May 2017


Foto: Honda Tranggono
 
Kamis (4/5) lalu, Jakarta menjadi tuan rumah Good Pitch2, sebuah gerakan yang memertemukan pembuat film dokumenter dengan para calon mitra untuk bersama-sama menciptakan perubahan sosial yang berdampak, yang diadakan di Asia Tenggara untuk pertama kalinya. femina berkesempatan untuk berbincang dengan Universe Baldoza, sutradara film Audio Perpetua‚Äč, salah satu dari empat film yang mengikuti pitching untuk menggalang dukungan. 

Audio Perpetua memotret realitas sekelompok pelajar tunanetra di Manila, Filipina, di bawah bimbingan Carol, seorang guru dan juru transkrip tunanetra, dalam dunia yang dibangun oleh suara. Proses pengambilan gambar dimulai pada tahun 2015, dan hingga kini masih berlanjut. Salah satu tujuan film ini adalah meningkatkan kesadaran perusahaan dan institusi untuk memekerjakan dan memberdayakan karyawan tunanetra, yang turut didukung oleh Jesse Rebustillo, Presiden People Management Association of the Philippines.

Apa yang mendorong Anda membuat film dokumenter Audio Perpetua?
Saya ingin membuat film tentang penyandang disabilitas yang lain dari biasanya, menggunakan pendekatan yang mengobservasi hidup mereka, mulai dari kesulitan di sekolah hingga patah hati. Keinginan ini turut berangkat dari lingkungan keluarga saya, yang juga terdiri atas orang-orang dengan beragam jenis disabilitas. Sementara itu, bekerja sama dengan para aktor tunanetra memerlukan pendekatan khusus agar tidak menggurui atau membuat mereka merasa diperlakukan berbeda.
 
Mengapa memilih bentuk film dokumenter?
Ketika membuat film fiksi, kita membuat sesuatu dari nol. Namun, saat proses itu dibalik dalam pembuatan film dokumenter, dan kita mengamati hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata, apa yang kita temukan bisa jadi mengejutkan. Terkadang, yang kita temukan itu bahkan lebih bagus daripada fiksi, dan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat. Saya ingin penonton bisa jatuh hati pada orang-orang dalam film ini karena kepribadian mereka, bukannya merasa iba karena keadaan fisik mereka.
 
Seperti apa tantangan yang Anda hadapi selama membuat film ini?
Rasa gelisah adalah bagian dari keseluruhan proses ini, dan tingkat burn out-nya pun cukup tinggi. Seiring waktu, saya tahu kapan saya harus berhenti sejenak, karena film ini mengangkat tema yang cukup berat. Bila saya mengerjakannya dengan suasana hati yang kurang baik, hal ini bisa dirasakan oleh para aktor. Saya juga harus menguatkan hati saat syuting, misalnya ketika mereka jatuh atau menabrak sesuatu, saya tidak membantu mereka bangkit, demi menunjukkan realitas yang mereka hadapi. Film ini saya buat bukan untuk mengasihani kaum tunanetra, tapi menunjukkan realitas hidup mereka agar lebih banyak orang bisa memahaminya.
 
Seberapa besar pengaruh aspek pendanaan dalam proyek film ini?
Pengambilan gambar dilakukan sejak dua tahun terakhir dan sudah separuh jalan, tapi kini terhenti karena keterbatasan dana. Berkat dukungan yang kami dapat dari Good Pitch2 South East Asia, kami bisa kembali syuting. Dana jugalah salah satu tantangan terbesar dalam membuat Audio Perpetua terus berlanjut.
 
Apa pengalaman berkesan bagi Anda selama mengerjakan film ini?
Salah satu hal yang paling berkesan terjadi saat kami pitching di Good Pitch2 kemarin. Terlepas dari dukungan dana dan jejaring yang kami terima, momen yang menyentuh hati saya adalah ketika seorang wanita tunarungu bicara pada kami dalam bahasa isyarat. Kawannya yang menjadi penerjemah menyampaikan harapannya bahwa Indonesia juga membutuhkan film tentang penyandang disabilitas seperti Audio Perpetua. Saat-saat seperti inilah yang membuat kami tak patah semangat demi proyek ini. Saya juga menyaksikan betapa cinta bisa menjadi perekat yang menjaga kewarasan seseorang dan menciptakan hubungan-hubungan yang saling mendukung di tengah situasi hidup yang sulit, terlepas dari keterbatasan fisik mereka.
 
Pernahkah karier Anda di industri film dipandang remeh?
Setiap waktu, orang-orang terdekat mengkritik saya, mulai dari pilihan pekerjaan saya yang menghasilkan lebih sedikit daripada profesi yang lebih mapan seperti pengacara atau dokter, hingga ketika saya harus meninggalkan kedua putra saya demi menghadiri festival film. Hal ini pun tetap akan saya hadapi kalaupun saya memilih pekerjaan lain, karena kritik masyarakat terhadap pilihan-pilihan hidup wanita adalah persoalan budaya. Nasib wanita di masyarakat patriarkat seringkali merupakan satu langkah maju, lalu satu langkah mundur. Tapi saya orangnya terbilang keras kepala, dan akan melakukan apa yang saya yakini perlu dilakukan. Lagipula, saya tidak melakukannya untuk diri sendiri. (f)

Ingin tahu lebih banyak tentang GoodPitch? Simak video berikut ini.



 

Baca juga:
Laila Nurazizah, Penulis Naskah yang ‘Dipilih’ oleh Cerita
Gina S. Noer, Proses Panjang untuk Menulis Naskah Film yang Ditonton Jutaan Orang
Kim Eun-Sook, Wanita di Balik Kesuksesan Goblin dan Descendants of The Sun


Puji Maharani


Topic

#sutradara, #filmdokumenter