Profile
Seri Kisah Sineas: Baby Ruth Villarama, Mahkota untuk Pekerja Migran

26 May 2017


Foto: Zaki

Kamis (4/5) lalu, Jakarta menjadi tuan rumah Good Pitch2, sebuah gerakan yang memertemukan pembuat film dokumenter dengan para calon mitra untuk bersama-sama menciptakan perubahan sosial yang berdampak, yang diadakan di Asia Tenggara untuk pertama kalinya. femina berkesempatan untuk berbincang dengan Baby Ruth Villarama, sutradara film Sunday Beauty Queen‚Äč, salah satu dari empat film yang mengikuti pitching untuk menggalang dukungan. 
 
Sunday Beauty Queen mengangkat kisah kehidupan para pekerja domestik asal Filipina di Hong Kong. Dengan menggelar kontes kecantikan, mereka mencari kebebasan dan pemberdayaan yang mengembalikan kepercayaan diri mereka. Selain ditayangkan di bioskop komersial mulai 26 Desember 2016 lalu, film ini juga mencuri perhatian di berbagai festival film. Sebagai film dokumenter pertama yang diputar di Metro Manila Film Festival, Sunday Beauty Queen langsung menuai penghargaan Best Picture. Dalam sesi pitching di Good Pitch2, para panelis pun mengakui kekuatan film ini dalam menciptakan empati terhadap pekerja migran yang seringkali dipandang sebelah mata.

Perjalanan karier Anda sebagai sutradara dokumenter?
Setelah lulus dari jurusan Jurnalistik di University of Santo Tomas Espana tahun 2000, saya memulai karier sebagai koresponden asing untuk sejumlah stasiun televisi dan lembaga asing di Filipina.

Pada tahun 2005, saya mendapat tawaran sebagai peneliti dan asisten produser untuk film dokumenter Asia’s Titanic. Film ini mengisahkan kapal feri Dona Paz, yang pada tahun 1987 ditabrak kapal pengangkut minyak dan membakar hidup-hidup 4000 lebih penumpangnya, menyisakan hanya 24 jiwa yang selamat. Film yang kemudian tayang di National Geographic Channel inilah yang membuat saya ketagihan dengan film dokumenter.

Penghargaan yang pernah saya raih di antaranya medali perak untuk film Burden of Gold di United Nations New York Film Festival 2007 dan FIPRESCI (International Federation of Film Critics) for “Busong” (Palawan Fate) 2012 International Critics Prize di Eurasia International Film Festival di Almaty, Kazakhstan.

Setelah merampungkan kuliah pascasarjana di jurusan Film Distribution and Marketing di Birmingham City University lewat beasiswa Chevening pada tahun 2015, saya menggarap film Sunday Beauty Queen
 
Mengapa tertarik menyorot soal pekerja migran?
Pekerja migran sangatlah dekat dengan kehidupan saya, dan juga bagi orang-orang Filipina. Ada 2,5 juta orang Filipina bekerja sebagai pekerja domestik di luar negeri dan 10 juta bekerja di sektor lainnya. Kemiskinan dan kurangnya kesempatan bekerja di dalam negeri memaksa mereka meninggalkan anak dan keluarga demi bisa mengais rezeki di tanah orang. Almarhumah ibu saya sendiri juga bekerja sebagai pekerja domestik demi bisa membiayai hidup saya.

Tahun lalu saja, pekerja migran asal Filipina menghasikan devisa hingga 30 juta dolar AS (sekitar Rp399 miliar). Sayangnya, banyak sekali perlakuan diskriminatif dan ketiadaan jaminan keamanan yang dihadapi para pahlawan devisa ini.
 
Pesan yang ingin disampaikan lewat dokumenter Sunday Beauty Queen?
Harapan saya film ini bisa mengubah persepsi orang tentang pekerja migran, dan membuat masyarakat lebih menghargai mereka yang berjuang menjadi tulang punggung keluarga dan dalam kondisi rentan di negara asing. Setiap orang berhak mendapatkan mahkota, tanpa memandang status sosialnya.  Saya juga berharap ada perubahan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan dan keamanan yang lebih baik bagi pekerja migran. 

Lewat program Good Pitch2, saya berharap bisa mendapatkan dukungan untuk memperluas jejaring penayangan film ini, juga komitmen pemerintah Filipina dan Hong Kong untuk menjamin nasib pekerja domestik asal Filipina. 
 
Tantangan dalam membuat film dokumenter?
Pembuatan film dokumenter butuh waktu lama, karena harus melakukan pendekatan personal pada subyek yang didokumentasikan. Pembuat film dokumenter juga harus membangun rasa percaya, agar mampu membuat subyek membuka dirinya.

Untuk syuting Sunday Beauty Queen, saya harus bolak-balik Manila-Hong Kong. Awalnya, ada saja pekerja migran yang antipati pada jurnalis. Mereka merasa dimanfaatkan, karena diwawancarai tentang kesulitan mereka ketika bekerja di rantau tidak membuat nasib mereka membaik. Beberapa subyek yang sudah menjalani proses syuting tiba-tiba mundur, karena majikannya tidak ingin mereka terlibat dalam film ini. Bahkan legalitas pembuatan film ini sempat dipertanyakan oleh beberapa majikan.
 
Proyek apa yang ingin Anda kerjakan setelah Sunday Beauty Queen?
Saya selalu ingin menjadi jurnalis, menjadi seorang storyteller. Itu passion saya!  Saya pastinya akan membuat film dokumenter lain, mungkin akan bekerjasama dengan suami saya yang juga bekerja di industri perfilman.

Saya juga bermimpi bisa membuat sebuah arthouse cinema. Saya bisa memberi wadah agar film-film independen bisa dinikmati banyak orang. Bila kelak saya sudah tidak menjadi sutradara film dokumenter lagi, saya ingin menjadi seorang gift wrapper. Menurut saya, pekerjaan itu membutuhkan nilai seni yang tinggi dan bisa membuat orang lain yang menerimanya senang. Pada dasarnya, saya senang kalau bisa membuat orang lain bahagia. (f)

Baca juga:


Reynette Fausto


Topic

#sutradara , #film