Profile
Okky Madasari, Melawan Ketidakadilan Lewat Sastra

11 Nov 2018


Foto: Dok. Okky Madasari
 
Sedikit berbeda dengan kebanyakan penulis novel menjajakan romans dalam karya sastra, Okky Madasari (33) menyajikan kritik pedas terhadap apa yang terjadi di lingkungan lewata rangkaian kata.
 
Sebut saja persoalan korupsi, isu feminism, hingga gambaran tentang masyarakat modern yang tunduk pada teknologi, adalah beberapa hal yang pernah disentilnya. Okky mendobrak batasan-batasan dan melawan ketidakbebasan dalam perjuangannya mendapatkan hak-hak kemanusiaan yang kerap dicederai.
 
Lantang Bersuara
 
Sudah enam dan satu buku kumpulan cerita lahir dari rahim kreativitasnya. Entro (2010), 86 (2011), Maryam (2012), Pasung Jiwa (2013), Kerumunan Terakhir (2016), Yang Bertahan dan Binasa Perlahan (2017), dan Mata di Tanah Melus (2018).

Tak tanggung-tanggung, karya ketiganya, Maryam, sangat berani mengangkat masalah kekerasan terhadap pengikut golongan Ahmadiyah, emndapuknya menjadi penerima penghargaan Buku Sastra Terbaik dalam ajang khatulistiwa Literary Award termuda, tahun 2012. Saat itu ia masih berusia 28 tahun, sementara kebanyakan penerima penghargaan bergengsi tersebut adalah para penulis senior, seperti Avianti Armand yang berusia 42 tahun dan Gus tf Sakai yang berusia 47 tahun, ketika mendapatkan penghargaan serupa. Tak heran jika Okky menganggap penghargaan ini menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam kariernya di dunia sastra tanah air.

Wanita kelahiran Magelang, 30 Oktober 1984, ini tak segan melihat isu yang tak berani dikuak orang lain. Ini membuat namanya banyak dilirik publik sebagai salah satu penulis yang bernyali besar.

Lewat novel pertamanya, Entrok, Okky menggambarkan sosok wanita feminis dan dominan dalam tokoh Marni, di tengah era patriarkat Orde Baru yang sering membuat posisi wanita dianggap salah dan para pria selalu kuat dan benar. Ia berhasil mendobrak struktur sosial tentang bagaimana wanita biasanya digambarkan di era tersebut: lemah dan dependen.

Di sisi lain, Okky tak segan mengusik nurani para pembacanya tentang bagaimana korupsi telah menjadi duri dalam daging, di novel 86. Sementara Kerumunan Terakhir menjadi media yang tepat bagi Okky untuk menyampaikan kegelisahannya tentang bagaimana teknologi selain bisa membawa kebaikan juga bisa menjadi masalah baru bagi dunia.

Begitu gamblang dalam menyampaikan kritik tak ayal membuat dirinya sempat beberapa kali mendapatkan protes dari publik tentang mengapa ia harus mengangkat isu yang sensitif dalam tiap karyanya. Okky tak pernah ambil pusing tentang hal itu. Menurutnya, makin geregetan seseorang dengan apa yang dibahas dalam karyanya, makin berhasil ia menguak isu tersebut.
 

Citra Narada Putri


Topic

#profil, #okkymadasari, #sastra