Profile
Setelah Tujuh Tahun, Mata Najwa Berhenti Tayang, Najwa Shihab: Saya Bangga Jadi Wartawan

10 Aug 2017

 
 
Foto: Dok. Femina
 
Setelah tayang selama tujuh tahun, acara Mata Najwa yang digawangi oleh Najwa Shihab berhenti tayang. Ini sekaligus menjadi ujung karier Najwa di MetroTV setelah 17 tahun. 
 
Eksklusif Bersama Novel Baswedan yang ditayangkan pada 26 Juli 2017 menjadi episode live terakhir program yang telah tayang sebanyak 511 episode tersebut, sejak pertama kali disiarkan pada 25 November 2009 dengan episode Dunia dalam Kotak Ajaib.

Berikut pesan yang ia unggah ke akun Instagram resminya @najwashihab.
 


femina sempat mewawancarai Najwa untuk edisi khusus ulang tahun ke-42. Berikut sekilas sosok Najwa yang banyak dinantikan oleh penonton setiap pekan.

Tatapan dan pertanyaannya tajam. Namun, siapa sangka wanita cantik yang bisa membuat narasumbernya gelagapan ini adalah seorang yang mudah terharu?
 
Menangisnya Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini,atau bagaimana kerepotannya seorang caleg dari dalam pileg lalu menjawab berondongan pertanyaannya membuat penonton Mata Najwa terenyak. Lewat acaranya itu, Najwa Shihab (37) berusaha membuka mata dan hati masyarakat akan banyak realitas yang selama ini tidak kasatmata.
 
Saya Pembaca Berita Cilik
Masa kecil saya sungguh menyenangkan. Saya lahir di Makassar, anak kedua dari lima bersaudara. Waktu usia 3 tahun, saya, Ibu, dan kakak, Najelaa, ikut menemani Abi (ayah Najwa, Quraish Shihab) sekolahS-3 di Cairo University, Mesir. Karena Abi termasuk yang dituakan, rumah kami di Kairo selalu dipenuhi mahasiswa teman Abi untuk berkumpul dan diskusi. Kami suka ikut-ikutan duduk dekat mereka, meski enggak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Kalau teman-teman Abi datang, kami sering ‘dikerjai’ Mama, Fatmawaty Assegaf, dengan meminta saya dan Kak Ela berakting jadi pembaca berita. Kata Abi, teman-teman Abi suka sekali menyaksikan kami membaca berita dengan bahasa Arab yang amat lancar. Sayang, kini saya sudah kurang fasih berbahasa Arab, paling hanya mengerti sedikit-sedikit. Padahal, dulu waktu kembali ke Indonesia, saya sempat sulit bicara dalam bahasa Indonesia, lho.

Kembali ke Indonesia, kami tidak lantas jadi kuper karena tidak bisa berbahasa Indonesia, karena Mama selalu rajin mendorong kami tampil berani dengan ikut berbagai macam lomba, meski bahasa Indonesia kami masih patah-patah. Baik di sekolah atau di lingkungan RT RW, di Masjid Istiqlal, Taman Mini, dan alhamdulillah kami sering menang juga. Yang masih saya heran, ternyata sejak kecil saya sudah sering jadi pembaca berita ya, meski bohong-bohongan.

Selanjutnya:
Saya Dekat dengan Keluarga
 


Topic

#NajwaShihab, #presenter

 

polling
Alasan Putus

Ketika menjalin cinta, maunya, sih, hubungan berlanjut hingga jenjang berikutnya alias pernikahan. Tapi, ini tidak selalu terjadi hingga akhirnya hubungan kita dan pacar pun harus berakhir.

Apa yang biasanya membuat Anda memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan si dia?