
Dok. Shutterstock
Berdasarkan penelitian The United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN-ESCAP) bersama British Council pada tahun 2019 menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah kewirausahaan sosial di Indonesia, yaitu sekitar 340 ribu bisnis.
Menurut Tuhu Nugraha, pakar digital marketing, generasi muda saat ini memiliki perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap isu sosial. Tak heran jika belakangan makin banyak bertumbuh bisnis-bisnis yang berbasis sosial atau kewirausahaan sosial.
Pertumbuhan kewirausahaan sosial yang pesat pun menjadi inspirasi yang menarik bagi para pebisnis. Pasalnya tak hanya mendapatkan keuntungan, tapi bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar membuat bisnis tersebut memiliki nilai lebih.
Untuk membahas bagaimana kewirausahaan sosial bisa mengembangkan bisnis lebih besar atau bertahan di kala krisis, Wanita Wirausaha Femina dan #SheMeansBusiness Facebook menggelar talkshow virtual bertemakan Berbisnis Sambil Berbagi yang disiarkan secara Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina pada Selasa, 23 Juni 2020 lalu.
Fitria Debora, Business Development Account Officer Du'anyam, menjelaskan bahwa brand produk anyaman dalam aneka bentuk ini sudah sejak awal memiliki visi misi sosial. Bertujuan untuk membantu wanita-wanita di Nusa Tenggara Timur yang menderita malnutrisi, para pendirinya, Azalea Ayuningtyas, Hanna Keraf dan Melia Winata memutar otak untuk membantu mereka memiliki penghasilan agar bisa mengonsumsi makanan yang lebih bergizi.
“Saat itu para founders melihat, dengan memberikan makanan (donasi) tidak akan menyelesaikan masalah. Makanya, ketika ada sumber daun lontar yang melimpah dan mereka bisa menganyam, maka diajak untuk menghasilkan sebuah produk," ujar Fitria.
Walau memiliki misi mulia, bukan berarti bisnis berjalan tanpa tantangan. Seperti yang diceritakan Fitria, para perajin Du'Anyam adalah wanita yang selain menganyam juga merupakan ibu rumah tangga yang harus berladang. Terlebih lagi, sebagai produk kerajinan tangan tanpa mesin, butuh waktu untuk bisa menyelesaikan produknya. Kesibukan mereka dan produksi anyaman yang memakan waktu menjadi kendala tersendiri.
"Jadi kalau misalkan ada orderan 1.000, baru bisa selesai 500. Ini salah satu hal yang bikin sulit sih," tambahnya.
Namun dengan strategi yang tepat dan mengandalkan pesanan dari perusahaan dalam jumlah besar, membuat Du’Anyam semakin berkembang pesat. Bagaimana tidak? Setiap bulannya, diakui Fitria, mereka bisa membuat setidaknya 5.000 produk anyaman dalam aneka ragam bentuk. Sehingga para wanita perajin di NTT bisa mendapatkan penghasilan tambahan dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Dok. Istimewa
Di sisi lain, sebuah brand tas penuh warna berbahan nilon dengan nama NIION, justru menemukan cara bertahan di tengah krisis COVID-19 karena berbagi pada mereka yang membutuhkan. Tunjung Larasati, Co-Founder NIION, menceritakan bahwa sebelum pandemi COVID-19, bisnisnya bisa memproduksi hingga 3.000 tas per bulannya.
Namun begitu pandemi datang, menghentikan segala produksi tas-tasnya. Seperti yang diceritakan oleh Tunjung, bahwa sehari setelah pengumuman PSBB, omset NIION hanya 150 ribu Rupiah atau hanya laku satu tas saja.
Kendati demikian, Tunjung mengerti betul bahwa tas bukanlah kebutuhan dasar yang diincar masyarakat di tengah pandemi. Sehingga, ia pun lebih memilih untuk mencari jalan lain, salah satunya dengan membuat gerakan kolaborasi dengan pekerja kreatif untuk membuat paket donasi yang diberi nama Box of Fun dan Art Coverage.
"Box of Fun ini adalah paket bundling yang mana 100 persen keuntungannya untuk dibuat Alat Pelindung Diri bagi rumah sakit di Bandung. Sedangkan Art Coverage adalah masker yang menjadi media berkolaborasi dengan ilustrator-ilustrator lokal," jelas Tunjung tentang kampanye sosial yang dilakukannya di tengah pandemi
Setelah melakukan ragam kampanye tersebut, ia dan teman-temannya di NIION merasakan dampak positif. Karena sejak 27 April lalu brandnya telah memproduksi sekitar 11 ribu masker dan membantu meningkatkan penjualan produk mereka.
Sementara itu, Al's Catering yang sangat populer di daerah Jabodetabek sebagai perusahaan katering berkualitas premium, juga tak kalah terdampak dengan adanya pandemi. Bagaimana tidak? Banyak acara-acara besar, pertemuan, pernikahan dan jenis acara lainnya yang banyak memanfaatkan jasa catering, harus berhenti total.
"Kita sangat bingung, yang tadinya hampir setiap minggu ada acara, jadi nihil sama sekali karena klien ada yang cancel dan postponed. Itu langsung sepi total sampai dua minggu," cerita Allesandra Hanafiah, Creative Director & Pastry Chef Al's Catering.
Allesandra dan sang adik, Avanda Hanafiah, Executive Chef & F&B Director Al's Catering, pun akhirnya memutar otak agar bisnis bisa tetap berjalan di tengah pandemi. Yaitu menjajakan layanan nasi boks, yang banyak dibeli oleh perusahaan yang masih mengoperasikan kantornya di tengah PSBB, seperti perbankan.
Selain itu, Al's Catering juga memberdayakan tenaga karyawan lepas untuk membantu menyediakan makanan-makanan kondimen seperti bawang goreng atau tempe kering, untuk kebutuhan pesanan sehari-hari.
Menariknya, kendati di tengah pandemi pemesanan mengalami penurunan yang drastis, Al's Catering justru membuat sebuah donasi makanan untuk tim medis. "Awalnya saat itu kami coba memberikan nasi boks kepada tenaga medis di rumah sakit rekanan pemerintah yang menangani COVID-19. Kemudian berkembang, kami menginformasikan kepada klien-klien perusahaan yang ingin mendonasikan makanan juga bisa melalui kami," cerita Allesandra.
Cara Al’s Catering menjadi perantara bagi perusahaan-perusahaan yang ingin memberikan donasi berupa makanan pun turut membantu bisnis ini bisa bertahan di tengah pandemi.
Untuk diketahui, Berbisnis Sambil Berbagi* adalah virtual talk kolaborasi kedua antara #SheMeansBusiness Facebook dan Wanita Wirausaha Femina. Sebelumnya, virtual talk mengangkat tema Potensi Bisnis Setelah COVID-19* yang membahas tentang melihat peluang bisnis dalam memasuki fase new normal. (*Semua tayangan live talkshow bisa diakses di galeri video Facebook Pages Wanita Wirausaha Femina).
Sejak tahun 2019, Wanita Wirausaha Femina telah bekerjasama dengan #SheMeansBusiness Facebook menggelar workshop untuk UMKM wanita di kota-kota di Indonesia. Tahun ini, mengikuti kondisi masyarakat, workshop offline tersebut berpindah platform, dilaksanakan di ruang digital lewat Facebook Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina. Dan sejak bulan Maret 2020, Facebook telah melakukan online training yang menjangkau hingga 26.696 pemirsa.
Diharapkan melalui berbagai talkshow virtual yang diadakan dengan menghadirkan sejumlah pembicara inspiratif ini, dapat memberikan pengetahuan, jaringan, keterampilan serta teknologi yang dibutuhkan para wanita wirausaha untuk memulai dan mengembangkan bisnis mereka.
Dan Anda pun bisa mendapatkan keistimewaan untuk bergabung di Facebook Group Wanwir Mahir Digital, dimana menjadi wadah bagi wanita wirausaha untuk berjejaring dan mendapatkan ilmu-ilmu digital marketing baru guna mengembangkan bisnis lebih besar lagi. Ayo segera gabung di FB Group Wanwir Mahir Digital, caranya:
1. Klik link https://www.facebook.com/groups/wanwirmahirdigital/
2. Klik permintaan JOIN GROUP
3. Lalu ISI DATA USAHA yang diminta (wajib diisi)
4. Klik Setuju (Agree) rules admin
5. Tunggu approval dari Admin Femina
BACA JUGA :
Pola Konsumsi Masyarakat Berubah Pasca Pandemi COVID-19, Ini yang Perlu Diperhatikan UMKM
Cara 3 Wanita Wirausaha Muda Sukses Jeli Membaca Peluang Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19
Maksimalkan Penjualan Online Selama Masa COVID19 untuk Lancarkan Bisnis
Topic
#wanwir, #mahirdigital, #facebook, #kampanyesosial, #wanitawirausaha, #shemeansbusiness


