
Foto: Dok. Pribadi
“Kalau mau belajar, semua orang bisa menjadi penulis skenario,” tegas Laila Nurazizah (26) yang akrab disapa Lele ini. Memulai kariernya lewat film Sanubari Jakarta (2013), omnibus sepuluh film pendek bertema kisah cinta kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), ia sempat dilabeli spesialis film-film ‘sulit’ yang butuh riset panjang. Salah satunya adalah Jejak Dedari (belum tayang), hasil kolaborasinya bersama Erwin Arnada yang memakan waktu riset hingga dua tahun di Bali.
Namun, Lele percaya bahwa menulis skenario film adalah perkara jodoh-jodohan. Bukan sang penulis naskah yang memilih cerita, tapi ceritalah yang memilih mereka. Kadang-kadang ia sudah menulis hingga setengah jalan, tapi ternyata tidak klop dengan sutradara atau produsernya, sehingga akhirnya berhenti. Pernah juga naskahnya sudah jadi, tapi filmnya batal diproduksi.
‘Jodoh’ terbaru Lele adalah film horor Danur: I Can See Ghosts, hasil adaptasi buku Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati, yang telah disaksikan lebih dari satu juta penonton. Lele, yang telah melakukan riset kecil-kecilan dua tahun sebelumnya untuk mencari formula film laris, memperkirakan Danur akan mencapai setidaknya 500.000 penonton.
Penggemar film horor ini pun memiliki cara unik untuk membuat penonton filmnya ‘ketakutan’ di bioskop. “Film horor harus diramu dengan penuh perhitungan, agar tidak ada karakter yang berteriak sendirian atau satu karakter yang tidak berteriak. Bila ‘ketukannya’ benar, kejutan dalam film horor bisa terukur, dan suspens akan terbangun dengan baik,” ungkap wanita yang senang mengutak-atik angka lewat statistik sosial ini.
Berkenalan dengan dunia film lewat ekstrakurikuler di SMA, Lele melanjutkan pendidikannya di Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia pada tahun 2009. Di sana, ia belajar banyak hal yang membekalinya sebagai penulis skenario, seperti psikologi manusia. Kini, sambil menyelesaikan kuliah pascasarjana Administrasi Bisnis, Institut Teknologi Bandung, pengagum sutradara Wes Anderson ini juga menjalankan bisnis dekorasi pesta. Kegiatan barunya ini membuatnya belajar merangkai bunga, yang kemudian sering menjadi pengobat rasa jenuhnya saat menulis.
Memulai karier sebagai penulis skenario di usia yang terbilang muda, 21 tahun, membuat Lele sempat dipandang sebelah mata. Tema LGBT yang diangkat dalam karya pertamanya bahkan sempat membuatnya dikira penyuka sesama jenis. Sementara itu, ketika mulai kebanjiran tawaran, wanita yang tergabung dalam manajemen khusus penulis skenario Serunya Scriptwriting ini pun belajar memilih dan memilah.
Mengibaratkan dirinya di industri film sebagai anak kecil yang menyelinap ke sana kemari, Lele tidak mencari kesempatan untuk berada di bawah sorotan. Baginya, film adalah sebuah karya bersama, dan skenario film bukanlah miliknya semata, tapi juga milik sutradara, produser, dan para pemain.
Di mata wanita kelahiran 8 April ini, yang lebih sulit bukanlah menjadi wanita yang menulis skenario film, tapi menjadi wanita yang bekerja di industri film. Dengan jam kerja yang tak menentu, penggemar film animasi buatan Studio Ghibli ini harus disiplin menciptakan rutinitasnya sendiri. Biasanya, ia menulis naskah dari pagi hingga menjelang siang, lalu rehat dan lanjut bekerja lagi di sore hari.
Tak hanya skenario film layar lebar, Lele juga menulis untuk televisi, dan kini tengah menulis serial untuk salah satu televisi swasta. Lebih dari lima tahun berkarier, kini ia menantikan peluang untuk kembali ke dunia yang pernah dikenalnya. “Saya baru ditawari menulis serial kriminal, formatnya webseries,” kata penggemar serial NCIS ini, antusias. (f)
Baca juga:
Gina S. Noer, Proses Panjang untuk Menulis Naskah Film yang Ditonton Jutaan Orang
Topic
#pekerjakreatif


