Jika makeup artist biasanya merias wajah dengan tujuan mempercantik atau menutupi kekurangan sang pemilik wajah, Sari justru sebaliknya. Dengan keahliannya, Sari sanggup mengubah wajah cantik menjadi penuh luka dan darah. Kemampuannya menciptakan efek riasan seram inilah yang membuatnya dipercaya menjadi special effects makeup artist untuk film-film bergengsi di Indonesia, seperti The Raid 2, Killers, dan Rumah Dara.
Honor Sukarela Teman
“Makeup sudah jadi passion saya sejak kecil. Setiap ditanyai hobi, pasti jawabannya dandan. Nggak terhitung banyaknya kosmetik ibu yang saya coba. Begitu lulus SMA, saya terpikir untuk menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan.
“Tahun 2002 saya melanjutkan pendidikan di Jerman untuk mengambil jurusan cosmetics & aesthetics. Nggak hanya makeup, di sana saya mempelajari berbagai perawatan tubuh. Maklum, lulusan jurusan ini biasanya menjadi beautician.
“Jika ingin sukses menjadi makeup artist, harus banyak pengalaman. Saat masih kuliah, saya berkenalan dengan makeup artist yang bekerja di perfilman dan menawarkan saya untuk magang. Peraturan di Jerman, pekerja magang nggak menerima honor. Nggak masalah, yang penting dapat pelajaran baru. Saya lalu diajak bergabung dengan produksi film dan serial di Jerman serta Irlandia, salah satunya serial The Tudors.
“Saat itu makeup yang saya kerjakan masih sebatas rias wajah yang cantik, menata rambut, atau menambah efek wajah kotor. Senang, sih, tapi saya merasa harus menambah skill. Ketika mengerjakan film pendek di Jerman, siapa sangka kru film mengumpulkan sebagian honornya untuk saya. Lumayan dari hasil magang itu saya mendapatkan 500 euro.”
Makeup Seram Lebih Menantang
“Sepanjang bergabung di industri film, saya melihat kalau makeup film nggak terbatas pada wajah cantik, tapi juga special effects. Melihat makeup artist yang melukiskan luka di wajah aktor atau sibuk membuat efek darah, saya lalu tergelitik untuk mencoba. Tantangan membuat special effects jauh lebih besar. Saya pun memutuskan memperdalam special effects makeup di Amerika, mengingat industri filmnya yang besar.
“Melalui banyak trial and error, saya mulai mengerjakan makeup yang seram, seperti kulit yang terluka akibat tertusuk atau dipukul, potongan tubuh hingga korban luka bakar. Saya sama sekali nggak takut atau jijik—justru puas bisa mengeksplorasi tanpa batas.
“Selama di Amerika, saya juga terlibat dalam proyek kecil, seperti pemotretan majalah. Saya nggak bisa mengambil proyek yang besar, seperti saat di Eropa, karena tidak punya izin kerja.”

Darah untuk Rumah Dara
“Setelah lulus kuliah dan kembali ke Indonesia, seorang teman mengajak saya ikut casting film Rumah Dara. Berbekal CV, saya menemui sutradaranya dan menawarkan skill yang dimiliki. Rupanya mereka tertarik dan meminta saya mengerjakan keseluruhan efek di film itu.
“Rumah Dara termasuk proyek terberat karena saya bekerja sekaligus melatih tim makeup. Saya mencampur kosmetik dengan bahan kimia dan pewarna untuk menciptakan warna darah alami. Warna tersebut harus tetap konsisten saat terbasuh air. Darah buatan juga beraroma manis agar aktor tetap nyaman saat wajahnya dipenuhi cairan ini. Sedangkan potongan tubuh dicetak menggunakan silikon.
“Tentunya saya nggak asal-asalan dalam menyiapkan properti. Seluruh bahannya dijamin aman bagi kulit. Sebelum diaplikasikan pada aktor, saya mencobanya di kulit sendiri untuk mengetahui efek sampingnya.
Masalah utama adalah iklim. Indonesia yang cenderung panas membuat aktor mudah berkeringat sehingga makeup harus dipulas beberapa kali. Bahan dasar properti juga kebanyakan impor karena nggak tersedia di sini.”
Pindah-pindah Lokasi
“Pekerjaan ini menuntut kontinuitas. Misal, dalam adegan pertama wajah aktor masih mulus, adegan berikutnya akibat berkelahi, wajahnya harus ditambah luka, lalu bertambah lagi jika lukanya makin parah, namun di adegan berikutnya luka mulai sembuh.
“Durasi merias juga beragam, dari lima menit hingga hitungan jam. Saya menghabiskan tiga jam untuk merias Iko Uwais dalam The Raid karena banyaknya adegan. Belum lagi lokasi merias yang berubah berdasarkan lokasi syuting. Jika hari ini di hotel, bisa saja besoknya harus merias di hutan atau gedung tua.
“Sisi positifnya, produksi film Indonesia tengah berkembang sehingga special effects selalu diperlukan. Saya juga beberapa kali melatih makeup artist agar keahlian mereka bertambah. Bahkan, ada beberapa makeup artist yang pernah saya latih akhirnya mendapatkan proyek besar. Saya senang bisa berbagi ilmu.”
Honor Sukarela Teman
“Makeup sudah jadi passion saya sejak kecil. Setiap ditanyai hobi, pasti jawabannya dandan. Nggak terhitung banyaknya kosmetik ibu yang saya coba. Begitu lulus SMA, saya terpikir untuk menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan.
“Tahun 2002 saya melanjutkan pendidikan di Jerman untuk mengambil jurusan cosmetics & aesthetics. Nggak hanya makeup, di sana saya mempelajari berbagai perawatan tubuh. Maklum, lulusan jurusan ini biasanya menjadi beautician.
“Jika ingin sukses menjadi makeup artist, harus banyak pengalaman. Saat masih kuliah, saya berkenalan dengan makeup artist yang bekerja di perfilman dan menawarkan saya untuk magang. Peraturan di Jerman, pekerja magang nggak menerima honor. Nggak masalah, yang penting dapat pelajaran baru. Saya lalu diajak bergabung dengan produksi film dan serial di Jerman serta Irlandia, salah satunya serial The Tudors.
“Saat itu makeup yang saya kerjakan masih sebatas rias wajah yang cantik, menata rambut, atau menambah efek wajah kotor. Senang, sih, tapi saya merasa harus menambah skill. Ketika mengerjakan film pendek di Jerman, siapa sangka kru film mengumpulkan sebagian honornya untuk saya. Lumayan dari hasil magang itu saya mendapatkan 500 euro.”
Makeup Seram Lebih Menantang
“Sepanjang bergabung di industri film, saya melihat kalau makeup film nggak terbatas pada wajah cantik, tapi juga special effects. Melihat makeup artist yang melukiskan luka di wajah aktor atau sibuk membuat efek darah, saya lalu tergelitik untuk mencoba. Tantangan membuat special effects jauh lebih besar. Saya pun memutuskan memperdalam special effects makeup di Amerika, mengingat industri filmnya yang besar.
“Melalui banyak trial and error, saya mulai mengerjakan makeup yang seram, seperti kulit yang terluka akibat tertusuk atau dipukul, potongan tubuh hingga korban luka bakar. Saya sama sekali nggak takut atau jijik—justru puas bisa mengeksplorasi tanpa batas.
“Selama di Amerika, saya juga terlibat dalam proyek kecil, seperti pemotretan majalah. Saya nggak bisa mengambil proyek yang besar, seperti saat di Eropa, karena tidak punya izin kerja.”
Darah untuk Rumah Dara
“Setelah lulus kuliah dan kembali ke Indonesia, seorang teman mengajak saya ikut casting film Rumah Dara. Berbekal CV, saya menemui sutradaranya dan menawarkan skill yang dimiliki. Rupanya mereka tertarik dan meminta saya mengerjakan keseluruhan efek di film itu.
“Rumah Dara termasuk proyek terberat karena saya bekerja sekaligus melatih tim makeup. Saya mencampur kosmetik dengan bahan kimia dan pewarna untuk menciptakan warna darah alami. Warna tersebut harus tetap konsisten saat terbasuh air. Darah buatan juga beraroma manis agar aktor tetap nyaman saat wajahnya dipenuhi cairan ini. Sedangkan potongan tubuh dicetak menggunakan silikon.
“Tentunya saya nggak asal-asalan dalam menyiapkan properti. Seluruh bahannya dijamin aman bagi kulit. Sebelum diaplikasikan pada aktor, saya mencobanya di kulit sendiri untuk mengetahui efek sampingnya.
Masalah utama adalah iklim. Indonesia yang cenderung panas membuat aktor mudah berkeringat sehingga makeup harus dipulas beberapa kali. Bahan dasar properti juga kebanyakan impor karena nggak tersedia di sini.”
Pindah-pindah Lokasi
“Pekerjaan ini menuntut kontinuitas. Misal, dalam adegan pertama wajah aktor masih mulus, adegan berikutnya akibat berkelahi, wajahnya harus ditambah luka, lalu bertambah lagi jika lukanya makin parah, namun di adegan berikutnya luka mulai sembuh.
“Durasi merias juga beragam, dari lima menit hingga hitungan jam. Saya menghabiskan tiga jam untuk merias Iko Uwais dalam The Raid karena banyaknya adegan. Belum lagi lokasi merias yang berubah berdasarkan lokasi syuting. Jika hari ini di hotel, bisa saja besoknya harus merias di hutan atau gedung tua.
“Sisi positifnya, produksi film Indonesia tengah berkembang sehingga special effects selalu diperlukan. Saya juga beberapa kali melatih makeup artist agar keahlian mereka bertambah. Bahkan, ada beberapa makeup artist yang pernah saya latih akhirnya mendapatkan proyek besar. Saya senang bisa berbagi ilmu.”


