
Tahun 2015 adalah tahun yang istimewa bagi Juliet Burnett (33), karena di tahun itulah ia berkesempatan untuk memainkan dua karakter impiannya: Giselle dan Odette (Swan Lake). Dalam kancah balet, kedua peran tersebut adalah impian bagi banyak penari. Bukan hanya karena butuh kesempurnaan teknik tingkat tinggi, tapi juga energi yang besar, ekspresi, dan emosi untuk menarikannya. Dia disebut-sebut sebagai 'Dancer to Watch' di Dance Australia's Annual Critics' Survey tahun 2008, 2011, dan 2012. Juliet juga pernah mendapat nominasi untuk Telstra Ballet Dancer Awards 2009.
Menemukan Passion di Usia Dini
Giselle adalah tarian balet dari Prancis yang pertama kali dipentaskan tahun 1841, berkisah tentang seorang gadis desa yang lugu, yang jatuh cinta pada pria impiannya. Sayangnya, pria tersebut hanya ingin memanipulasi keluguannya. Demi mengetahui pengkhianatan cinta sejatinya, Giselle pun meninggal karena patah hati. Namun, arwahnya terus menghantui untuk membalaskan dendamnya. Kisah yang romantis dengan balutan dunia supranatural inilah yang dibawakan oleh Juliet saat menari di Jakarta, sewaktu pementasan Indonesia Ballet Gala, Agustus lalu.
Bagi Juliet, Indonesia sudah seperti kampung halaman keduanya. Lahir di Sydney, dari ayah berkebangsaan Australia dan ibu berkebangsaan Indonesia, tak membuat Juliet kehilangan unsur Indonesia. “Tiap tahun, saya selalu pulang ke Indonesia, bertemu dengan keluarga besar dan para sepupu,” ujar wanita yang masih keponakan dari almarhum penyair W.S. Rendra ini.
Juliet juga akrab dengan masakan Indonesia. Favoritnya adalah kerak telur dan terung balado. “Saya vegetarian. Makanya, banyak makan tahu, tempe, dan urap sayur. Ibu saya mengajari saya memasak nasi goreng. Sangat mudah membuatnya,” ujar Juliet, yang sesekali berbicara dalam bahasa Indonesia di rumahnya dan mengaku follow beberapa akun Twitter dari Indonesia.
Ayahnya, Kyle Burnett, yang seorang pelukis, bertemu dengan ibunya, Widyas Brotoatmojo, yang berasal dari Solo. Hubungan yang berlangsung singkat itu berujung pernikahan, hingga sang ayah memboyong ibundanya ke Sydney pada tahun 1974.
Di usia 5 tahun, kedua orang tuanya telah memasukkannya ke sekolah balet. “Seperti anak-anak pada umumnya, saya hanya menjalaninya sebagai pengisi waktu. Yang saya ingat, saya pernah menarikan peran Tingker Bell. Saya selalu mendapat nilai tinggi di kelas balet. Tapi, tak pernah berpikir bahwa jalan inilah yang akan menjadi masa depan saya,” katanya.
Di usia yang masih sangat muda, yakni selepas SMP, Juliet sudah tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya, yakni menjadi seorang penari. Ia pun memilih melanjutkan sekolah balet full time. “Di kelas 10, saya sudah memilih belajar tari secara full time. Saya sangat menikmati tari. Di kelas 11 dan 12, saya masuk Australian Ballet School. Di sana, ballet company umumnya punya sekolah pendidikan tari,” tutur Juliet, yang pernah mendapatkan beasiswa untuk belajar di The Royal Ballet (Inggris), San Francisco Ballet (Amerika Serikat), Dutch National Ballet, dan The Royal Ballet of Flanders (Belanda).
Pagi harinya, Juliet berlatih praktik menari, seperti gaya tarian Rusia, teknik-teknik stretching, koreografi, dan lainnya. Lalu, pada sore harinya ia belajar akademis yang berkaitan dengan tarian, seperti, musik, panggung, dan drama.
Sejak dini, ia sudah menjalani apa yang disebut konsistensi. Seperti tak kenal kata jemu, Juliet mendisiplinkan tubuhnya dan mendedikasikan 6 hari dalam seminggu untuk balet. “Bagi saya, dua hari libur weekend adalah sebuah kemewahan,” kata Juliet, yang dengan bangga mengatakan, hidupnya sekarang adalah impiannya yang mewujud.
Antara Tari Jawa dan Balet
Kesadaran bahwa darah penari telah mengalir dalam dirinya baru ia rasakan ketika ia belajar tarian Jawa di Surakarta, tahun 2012, dari sang maestro, Ibu Rusini. “Entah kenapa, saya seperti mudah sekali masuk ke dalam ritme tarian Jawa. Saya seperti sudah familiar dengan gerakannya, rasanya seperti pernah saya tarikan sebelumnya,” kenang Juliet, yang tidak akan pernah melupakan pengalaman tersebut.
Juliet mengatakan, ia menemukan ada kesamaan antara tari Bedhoyo Ketawang yang ia pelajari dengan balet klasik. Seperti keanggunannya, gaya pembawaan yang harus elegan, dan kesederhanaannya.
Ia pun teringat pada cerita pamannya, Rendra, bahwa nenek Juliet, Raden Ayu Catharina Ismadillah, adalah seorang penari keraton. Meski sang nenek sudah meninggal saat dia masih kecil, pamannyalah yang terus mengingatkannya tentang darah seni neneknya, yang tanpa ia sadari telah mengaliri tubuhnya.
“Jika India dan Cina punya karakter baletnya sendiri, menurut saya, Indonesia juga sangat bisa mengembangkan balet dengan karakteristiknya sendiri. Apalagi budaya seni dan tarian Indonesia sangat kaya,” tutur Juliet, yang di bulan Januari ini tampil di Ballet Stars Under the Stars, Federation Square, Melbourne, Australia.
Ada atau tidak ada pementasan, latihan sudah menjadi bagian dari keseharian Juliet. Ritual paginya, ia manfaatkan untuk menulis, baik itu untuk blog pribadinya maupun untuk blog The Australian Ballet. Juliet juga kontributor untuk The Dance Tabs website, dan publikasi Dance International serta Gourmet Traveller.
Barulah, di pukul 10.00, ia akan meluweskan tubuhnya lewat latihan tari hingga sore hari. Pernahkah ia merasa capek atau bosan dengan rutinitasnya? “Tentu pernah. Ketika sedang bosan, yang saya lakukan adalah mengingat kembali, kenapa saya ada di sini. Motivasi bagi saya adalah tentang mengingat, kenapa saya memilih jalan itu. Jika memang kita mencintai pilihan kita, tentu harus ada yang namanya pengorbanan,” ujar Juliet, yang bersuamikan musikus asal Australia, Nick Thayer.
Sebagai penari yang harus menjaga kebugaran, adakah diet khusus yang ia jalani? Bagi saya, menjadi vegetarian sudah cukup untuk menjaga kebugaran. Sebagai penari, saya butuh banyak energi. Itulah kenapa saya selalu banyak makan. Pada dasarnya, saya memang suka makan.”
Di luar dunia tari, Juliet juga memiliki sederet aktivitas sosial. Ia menjabat sebagai duta untuk kegiatan amal CARE Australia's Walk In Her Shoes Challenge dan Ambassador for The Future Climate Justice Initiative.
Beberapa kali Juliet juga diminta untuk menjadi model, baik untuk iklan produk maupun pemotretan fashion di majalah Harper's Bazaar, Women's Fitness, Vogue, dan Net-a-Porter Australia.
Setelah lebih dari 12 tahun berkiprah di bawah bendera The Australian Ballet, salah satu dance company yang besar di Australia, dan bisa dikatakan bahwa kariernya sedang di puncak, Juliet mengambil keputusan berani untuk resign. Ia berencana meniti karier menari di Eropa. “Saya ingin membuka lembaran baru dengan membuat lompatan karier berikutnya,” tuturnya.
Juliet pun membagi quote dari pengalamannya berhasil mewujudkan impiannya di tahun 2015, ”Dreams don't always just happen. More often than not, you have to make them happen.”
Meski saat ini hidupnya dalam transisi, ia optimistis pada masa depan karier dan aspirasinya. Seperti juga pesan W.S. Rendra yang selalu ia ingat, “Peran seorang seniman adalah menjadi voice bagi masyarakat.” (f)




