Profile
Jessica Farolan, Berani Kupas Seksualitas di Panggung Stand-Up Comedy

10 Dec 2017


Foto: Pio Kharisma

Wajah wanita memang asing ditemui di panggung komedi. Baik sebagai komedian slapstick yang banyak ditemui di berbagai acara televisi tanah air maupun komedi satir layaknya monolog yang akrab disebut stand-up comedy.

Penilaian budaya patriarkat, yang membuat opini wanita tidak lebih penting dibandingkan pendapat para pria, kerap jadi hambatan bagi para wanita komika untuk mengocok perut para penontonnya. Ini jadi salah satu penyebab minimnya minat mereka untuk menekuni pekerjaan tersebut sebagai profesi.

Namun, hadirnya beberapa nama wanita komika yang blak-blakan menertawakan diri sendiri dan menyelipkan pesan pemberdayaan di ajang komika khusus wanita, Perempuan Berhak, beberapa waktu lalu, memberikan angin segar atas eksistensi di industri yang masih didominasi para pria ini.

Mari simak perjalanan karier mereka mendapatkan hak untuk bersuara dengan cara berkelakar ria, salah satunya, Jessica Farolan (29), Trainer Psikologi.

Wanita berparas khas Tionghoa ini pertama kali berhasil mengocok perut penonton ketika menjadi salah satu finalis komika di ajang SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) Season 2, tahun 2012. Padahal, menurutnya, ia bukanlah tipe orang yang suka melucu. Justru sebaliknya, ketika sekolah dulu ia cenderung culun dan kutu buku.

Namun, ketika menyaksikan SUCI Season 1, ia sangat tertarik dan membuat komunitas di kampus, serta mendatangkan Ernest Prakasa dan Ryan Adrindhy (finalis SUCI 1) untuk menjadi mentor. “Di situlah saya pertama kali belajar. Saya sendiri kaget, karena ternyata saya yang dulu dikenal culun dan kutu buku ini bisa melucu juga,” tuturnya.

Baca juga:
Fathia Saripuspita: Rasanya Ingin Mati Saat Tak Ada yang Tertawa Saat Kita Melucu di Panggung Stand-Up Comedy
Ligwina Hananto, Melawak Bukan Hal Baru
Aksi Komika Wanita di Pertunjukan Stand-up Comedy #PerempuanBerhak

Kendati tak berhasil jadi pemenang, penampilan Jessica di panggung stand-up comedy tanah air memberikan kesan tersendiri bagi publik. Bukan tanpa sebab. Menjadi satu-satunya wanita komika yang menjadi finalis, ia dengan berani membahas tentang seksualitas secara gamblang, yang saat itu belum ada yang cukup punya nyali mengulas tema tersebut.

Pada perjalanan kariernya sebagai wanita komika, Jessica memang banyak membahas tema-tema sensitif dan kerap dianggap tabu. Tentu ia punya alasan sendiri.

“Kita tidak mendapatkan pendidikan yang tepat tentang sesuatu karena kerap menabukan hal tersebut, sehingga akan menimbulkan kecenderungan melakukan sesuatu yang salah. Maka, saya berusaha untuk membuat masyarakat melihat kembali apa yang mereka anggap tabu agar tidak ada kesalahpahaman,” tutur Jessica, yang menganggap panggung komedi menjadi platform yang tepat untuk menyebarkan misinya tersebut.

Dalam petualangannya menjalani profesi sebagai komika paruh waktu di sela-sela kesibukannya sebagai seorang trainer, perjalanan Jessica tak meluncur mulus begitu saja. Ketika ia secara eksplisit mengulas materi humor yang sensitif dan tabu, seperti hubungan keperawanan dan moral, menstruasi, organ wanita, seks edukasi hingga poligami, beberapa orang mencibirnya.

“Waktu masih di SUCI 2, ada yang bilang lelucon saya terlalu vulgar dan tidak lucu. Padahal, dalam materi tersebut ada pesan edukasinya lho,” ujar Jessica, yang pada akhirnya lebih memilih untuk tampil off air karena materi-materi humornya tidak cukup ramah untuk acara televisi. Tak heran, setelah acara SUCI 2, ia jarang tampil di layar kaca. (f)


Topic

#standupcomedy, #perempuanberhak, #komika

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?