
Dok. Burgreens
“Edukasi pasar lumayan berat. Kita kerap mendapat customer awam yang tidak paham makanan sehat sama sekali,” kenang Helga.
Selain diinformasikan secara lisan dari mulut ke mulut, saat itu Burgreens menggunakan media sosial sebagai sarana promosi. Sebagai salah satu pelopor restoran sehat, Helga beruntung mendapat pelanggan awal yang berasal dari kalangan public figure. Sebut saja Dewi Lestari dan Andien yang kala itu sudah menerapkan pola hidup sehat. Mereka membantu mempromosikan Burgreens tanpa diminta.
“Kita dapat free buzz dari mereka,” kata wanita yang telah menjadi vegan lima tahun terakhir ini.
Ketika kini restoran sehat bermunculan, Helga tak menganggap kompetitor sebagai ancaman. Ia lebih berfokus pada perbaikan internal demi kepuasan pelanggan daripada fokus ke seberapa kuat kompetitor. Bagi Helga, bisnis bisa bertahan jika pelanggan senang, bukan karena lebih unggul dari kompetitor.
“Saya berusaha meningkatkan kapasitas internal dengan cara berinovasi, memperbaiki pelayanan, dan menjaga kualitas makanan agar terus konsisten,” jelas anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Satu hal paling menantang dalam upaya menjaga kapasitas internal adalah bagaimana mengatur sumber daya manusia.
”Saat staff kami tidak happy, maka bisa saja mereka tak menjalankan SOP atau mempengaruhi pelayanan. Karena itu saya selalu berusaha agar sumber daya manusia menjalankan SOP secara konsisten,” ujar Helga.
Sejak awal berbisnis, Helga berusaha mengedukasi pasar guna membangkitkan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat. “Jika pasar teredukasi, maka mereka akan mampu memilih sendiri makanan yang baik bagi mereka,” kata Helga.
Salah satu bentuk edukasi yang dilakukan Burgreens adalah dengan melakukan movie screening. Baru-baru ini Burgreens mengadakan screening film dokumenter The Game Changers yang mengungkapkan betapa bermanfaatnya protein berbasis nabati.
Guna membuktikan apa yang diceritakan dalam film dokumenter tersebut Burgreens menantang sejumlah atlet yang populer di komunitasnya untuk menjalani pola makan berbasis nabati selama enam minggu.
“Tantangan ini dilengkapi medical supervision. Hasilnya hampir semua responden mengalami kenaikan performa atletik setelah go plant based,” ungkap Helga.
Di samping itu, Burgreens juga melakukan edukasi berkala ke kantor-kantor. ”Materi yang disampaikan bersifat umum misalnya tentang makanan sehat, pola gizi seimbang, cara memilih sumber informasi kesehatan yang tepat, dan sebagainya,” ujar Helga.
Untuk materi edukasi yang lebih dalam, Helga mengadakan kelas khusus yang digelar setiap bulan di Burgreens Menteng, Jakarta Pusat. Materi yang dibahas lebih spesifik misalnya nutrisi untuk penyembuhan kanker, autoimmune, ibu hamil, dan lain-lain.
“Kualitas, konsistensi, dan komunitas. Itulah strategi bisnis kami,” kata Helga menjelaskan kunci bisnisnya secara ringkas.
Tampaknya strategi tersebut berhasil. Kini Burgreens telah memiliki sepuluh cabang. “Kami punya 9 cabang di Jakarta dan Tangerang, serta 1 cabang di Bandung,” pungkas Helga. (f)
BACA JUGA:
Bisnis Jamu Dailywell Berawal dari Jus Bawang Putih
Edward Tirtanata, Sukses Menjual 1 Juta Kopi Kenangan Setiap Bulan
Elin Waty, Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia : Memulai Dari Nol
Topic
#HelgaAngelina, #burgreens, #pangansehat, #makanansehat


