Profile
Chef Gerry Girianza, Antara Jalan-Jalan, Memasak dan Hobi Berselancar

29 May 2017


Foto: Dok. Femina
 
Jauh dari penampilkan klimis dan sesekali terlontar logat Sunda dalam candanya menjadikan Gerry Girianza Ekaputra (32) pribadi berkarakter yang cocok untuk layar YouTube. Cuap-cuapnya di cooking channel Kokiku TV kini ditemani vlog pribadinya di channel Gerry Girianza. Sesekali, penyuka sambal goreng krecek buatan nenek ini menyelipkan hobi berselancarnya dalam video.

Sejak kapan suka masak?
Saya sejak kecil membantu Nenek di restorannya di Sukabumi. Mulai dari ngaheuheud (membakar daun pisang) untuk bungkus pepes sampai memasak nasi goreng.

Merasa memasak adalah bidang yang paling dikuasai, maka saya masuk ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung mengambil jurusan manajemen tata boga, mengikuti jejak bapak saya.
 
Berapa lama Anda berada di dapur profesional?

Tiga tahun saya bekerja sebagai line cook hingga sous chef di beberapa hotel di Amerika Serikat. Saat visa kerja habis, saya menjadi konsultan restoran di Bali, hingga bertemu chef Mandif Warokka di sebuah kompetisi memasak.

Karena ingin belajar dari beliau, saya rela melamar pekerjaan, walau turun jabatan menjadi chef de partie. Di Ju-ma-na Bar, Banyan Tree Bali, saya bersamanya selama tiga tahun dengan jabatan terakhir sebagai sous chef.
 
Bagaimana akhirnya bisa berkarier di televisi?
Terkesan dengan syuting chef Billy Kalangi di dapur Ju-Ma-Na di tahun 2012, saya nyeletuk ke teman, bahwa suatu hari akan berada di posisi itu. Saat ditanya caranya, saya enggak tahu!

Saya lalu audisi untuk Top Chef Indonesia. Walau belum tahu akan lulus atau tidak, saya nekat resign dan ternyata jadi pemenang ketiga. Saya sebenarnya malu karena juri-jurinya, Chris Salans dan Will Meyrick, lebih memahami masakan Indonesia ketimbang saya. Saya akhirnya kembali ke Sukabumi untuk belajar lagi masakan lokal pada nenek!

Selama tiga season pula saya berada dalam program Sendok Garpu dengan chef  Norman Ismail. Ketika menjadi konsultan katering, saya menerima tawaran dari Kokiku TV, sebuah cooking channel di YouTube. Serunya dunia videografi menggiring saya untuk memiliki vlog mengenai restaurant review dan memasak. Hal ini berujung ke penawaran dari Kompas TV sebagai host Menu Lokal. Saya jalan-jalan, makan, dan memasak. Persis seperti mimpi saya di Bali!
 
Apa yang disukai di  industri ini?
Saya bisa mengatur waktu kerja. Dunianya juga tidak monoton. Saya juga menyukai pengalaman mendatangi restoran legendaris hingga warung yang sedang laris manis. Gara-gara syuting pula saya pernah menyantap daging ular di Pecenongan. Enak, lho!
 
Apa kiat dalam menggaet viewer di YouTube?
Video mutlak menghibur. Sekarang lagi tren video tantangan nyeleneh, misalnya membuat seblak dengan 100 cabai rawit yang harus kami habiskan, ha… ha… ha…! Demi konsistensi unggahan dua video per minggu di channel Gerry Girianza, saya mengedit di sela-sela perjalanan ke lokasi syuting. Ilham 'Black' Maulana adalah sahabat merangkap cameraman, dan co-host.
 
Apa rencana berikutnya?

Saya ingin mencicipi kuliner Indonesia sambil bertualang, seperti acara No Reservation milik TV personality favorit saya, Anthony Bourdain.
 
Apa pesan Anda bagi koki yang ingin terjun ke showbiz?
Jadilah koki di dapur industri dulu agar punya tanggung jawab profesi kala berada di televisi. KIta juga harus rendah hati untuk terus belajar meskipun mungkin sudah tahu makanannya. (f)

Baca juga:
Chef Degan Septoaji, Pengajar Indonesia Pertama di Le Cordon Bleu Paris
Iron Chef hadir di Indonesia, Berani Melawan 3 Chef Ini?
Chef Ragil Imam Wibowo dan Meilati Batubara: Dari Perut Turun ke Hati


Theofilia Viyoshi Bangun


Topic

#Profil