Profile
8 Perempuan Supreme: Sakdiyah Ma’ruf

15 Nov 2018


Foto: Hermawan

'Wajah wanita' memang asing ditemui di panggung komedi, khususnya komedi satir monolog atau yang akrab disebut stand-up comedy. Tak dipungkiri, Kehadiran Sakdiyah Ma’ruf memberikan warna dan perspektif yang berbeda. Ia menjadikan stand-up comedy menjadi panggung untuk memberdayakan sesama wanita. Sakdiyah menceritakan lika-likunya dalam melihat sebuah isu sensitif dari perspektif komedi.
 
Lelucon Bermisi Penting
Kepiawaiannya dalam menyampaikan kritik sosial tentang keadilan dan kesetaraan yang dikemas dengan lelucon jenaka di atas panggung, mengantarkannya menyabet penghargaan bergengsi dari Amnesty International, Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent di Oslo, Norwegia, tahun 2015. Bagi wanita yang akrab dipanggil Diyah ini, stand-up comedy adalah panggungnya untuk berekspresi.
 
Motivasi untuk tetap berkarya?
Ada beberapa hal. Pertama, perempuan itu haknya seperti dalam film-film Hollywood ketika ada orang ditangkap polisi, yaitu ‘you have the right to remain silent’. Jika saya yakini apa yang akan saya katakan adalah benar, berdasarkan riset dan pengalaman pribadi, maka saya harus bicara. Kedua, ini adalah dedikasi untuk ibu saya yang tidak bisa menuntaskan mimpinya untuk menjadi seorang pelakon teater setelah menikah. Setidaknya, apa yang tidak diselesaikan beliau, bisa saya lanjutkan. Lainnya, mungkin dengan saya terus berkarya, siapa tahu ada seorang anak perempuan dari lingkungan yang membuatnya tertekan, melihat apa yang saya sampaikan, bisa terinspirasi. Saya rasa, jika itu terjadi, misi saya tercapai. Kita tidak pernah tahu.
 
Momen paling berkesan?
Ketika membahas lelucon tentang islamofobia di acara The Chaser Lecture di Australia, saya dihujani tepuk tangan. Saat turun panggung, saya didatangi oleh seorang pelayan perempuan yang wajahnya seperti orang Timur Tengah. Dia mengucapkan terima kasih karena telah membahas tentang islamofobia dan memberikan perspektif berbeda pada dunia. Riuh tepuk tangan dari penonton tidak lagi seberharga apa yang disampaikan oleh pelayan tersebut, yang mungkin juga menghadapi perjuangan berat hidup sebagai muslim di negara yang mayoritas non-muslim. Ketika ternyata apa yang saya sampaikan bisa begitu berharga bagi satu orang saja, itu sebuah kebahagiaan untuk saya.
 
Bedanya Anda dengan komika lain?
Mungkin orang berpikir, saya tipe komika yang suka menyentil isu-isu yang kontroversial. Sebenarnya, saya hanya menyampaikan pengalaman-pengalaman yang pernah saya rasakan saja. Saya ini apa adanya, tajam, dan with a mission. Ada beberapa momen yang mungkin saya kelihatan culun di panggung, tapi apa yang tersampaikan kepada penonton adalah sesuatu yang tulus.
 
Refleksi Diri
Terkenal dengan gaya berkomika berbahasa Inggris, nama Sakdiyah telah melambung hingga ke mancanegara. Padahal, menjadi seorang komika tak pernah masuk dalam daftar panjang cita-citanya. Tapi siapa sangka, wanita yang menjadi satu dari delapan Perempuan Supreme pilihan femina dan Head & Shoulders ini sudah punya jiwa humoris di bawah alam sadarnya, bahkan sejak usia belia.

Cita-cita ingin jadi komika?
Cita-cita saya terus berganti. Karena besar di masa Orde Baru, saya pernah ingin jadi ABRI. Kemudian berubah jadi arkeolog dan sempat ingin jadi dokter karena melihat konflik Ambon dan Poso. Melihat jauh ke belakang, keinginan menjadi seorang komika sepertinya sudah terjadi di bawah alam sadar. Waktu kecil suka bermonolog di belakang rumah, berimajinasi punya talk show sendiri dan mengundang artis favorit, seperti Jon Bon Jovi. Bahkan, suka buat skit (komedi pendek) dengan guyonan bahasa Jawa. Percaya enggak, waktu SMP, saya pernah ikut lomba lawak dan menang jadi juara 2 dari 3 peserta.  Hahaha….
 
Apa yang mendorong Anda menjadi seorang komika?
Setelah menonton Life of Broadway Robin Williams, terbuka mata saya bahwa membicarakan apa yang saya pikirkan dan khawatirkan ternyata bisa dengan cara humor seperti yang dilakukan Robin. Setelahnya, momen-momen yang membawa saya menjadi seorang stand-up comedian seperti terjadi beruntun. Saat studi S-2 jurusan Studi Amerika di Universitas Gadjah Mada tahun 2009, ada tugas kuliah untuk mengulas budaya Amerika. Tiba-tiba saya terpikir untuk menulis tentang stand-up comedy. Jadilah open mic pertama saya -- ditonton para profesor -- bicara tentang islamofobia. Mereka kaget ternyata saya bisa melakukannya.
 
Pernah ingin berhenti karena dapat serangan akibat membahas isu yang sensitif?
Saya sering mengalami momen ingin mundur, tapi bukan karena dapat reaksi negatif, melainkan karena refleksi pribadi. Apakah saya sudah melakukan dan menyatakan hal yang benar dengan tidak menertawakan orang-orang yang sedang berada di posisi tertekan dalam relasi kuasa? Misal, di TEDex Ubud, saya bicara tentang burka. Saya sedikit menyesal karena ketika bicara tentang konservatisme, perempuan adalah korban utama. Kenapa saya jadi menyerang perempuan yang jadi korban konservatisme ini, bukannya ideologi konservatisme itu sendiri?
 
Jadi lebih menahan diri di panggung?
Lebih berhati-hati tentu saja iya, tapi jangan lantas membatasi kreativitas dan jadi takut berekspresi. Kita harus tahu persis siapa sasaran leluconnya dan posisinya seperti apa. (f)

Baca Juga: 
8 Perempuan Supreme: Ghea Panggabean
8 Perempuan Supreme: Najelaa Shihab
8 Perempuan Supreme: Susi Pudjiastuti











 

Citra Narada Putri


Topic

#perempuansupreme