Profile
8 Perempuan Supreme: Ghea Panggabean

14 Nov 2018

Foto: Dachri Megantara 

Sebutlah nama Ghea, maka imajinasi akan berkembang pada keindahan kain- kain Indonesia lurik, motif jumputan dari berbagai daerah, ulos, juga songket. Lahir dan besar di Eropa, Ghea --yang di nadinya mengalir separuh darah Belanda dari sang ibu-- jatuh cinta pada keindahan budaya negeri sang ayahanda. Menjadi desainer pula yang membuatnya menjelajah dunia, termasuk makan siang bersama (alm) Lady Diana, juga diundang makan malam khusus bersama Ratu Elizabeth II di Istana Buckingham.
 
Pada suatu siang, di butiknya yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mengenakan dress sutra putih bermotif daun argan warna biru, karyanya untuk malam apresiasi #kitasupreme untuk 8 perempuan supreme pilihan femina dan Head&Shoulders, Ghea bercerita tentang perjalanan kariernya yang sudah menyentuh 40 tahun tak lama lagi.
 
Fashion Is My Destiny
Bisnis fashion-nya mampu bertahan hingga hampir 4 dekade dengan terus menghasilkan karya yang mengubah permainan di pasar mode tanah air yang kompetitif jelas bukan hal mudah. “Kita harus dinamis. Sebagai orang yang bekerja di dunia kreatif, inspirasi harus berubah terus, enggak mungkin konstan. Saya bersyukur tiap hari bisa menemukan spirit baru,” ujarnya.
 
Anda menghabiskan masa kecil di luar negeri?
Saya lahir di Belanda. Papa saya ketika bertugas di sana, bertemu lalu menikah dengan ibu saya, wanita Belanda. Namun, ketika masih bayi, kami sekeluarga kembali ke Indonesia hingga saya berusia 6 tahun. Pada saat tinggal di Indonesia itulah saya sering diajak orang tua berkeliling Indonesia, yang membangun kecintaan saya terhadap negeri ini. Kemudian keluarga kami kembali menetap di Eropa, yaitu Jerman dan Belanda, hingga usia saya 14 tahun. Saya menyelesaikan SMA di Indonesia, dan sempat kuliah di Trisakti, mengambil jurusan seni rupa. Tapi, kemudian saya tinggalkan karena saya lebih menyukai fashion. Saya pun memilih sekolah fashion design & pattern making di London.
 
Mengapa memilih dunia fashion?
Sejak kecil saya hobi menggambar orang dengan baju-baju yang berbeda, seperti Barbie dengan koleksi baju-bajunya. Saya juga hobi mendandani teman-teman. Waktu sekolah, saya yang mendandani dan memikirkan kostum teman ketika ada acara. Saat SMP, saya menyadari bahwa kesukaan saya pada dua hal itu tidak berubah. Fashion adalah hal yang bisa mengombinasikan kesukaan saya pada baju dan gambar.
 
Orang tua langsung menyetujui pilihan Anda?
Waktu itu papa bingung. “Apa, sih, yang kamu mau?”. Waktu itu saya sudah diterima di Sastra Prancis, Universitas Indonesia, tapi tidak diambil. Lalu saya berusaha menyenangkan orang tua dengan kuliah sekretaris di Singapura. Ini untuk membuktikan bahwa saya bisa bekerja dan mandiri secara finansial. Setelah bekerja setahun sebagai sekretaris, saya memutuskan mengambil sekolah fashion. Niat saya sudah bulat.
 
Mengapa memilih berkarier di Indonesia?
Ketika kembali ke Indonesia dari Belanda tahun 1969, saya melihat Indonesia sangat kaya budaya dan sejarah. Kekangenan saya terhadap budaya Indonesia membuat saya makin ingin tahu dan mendalaminya. Begitu lulus dari London, saya memutuskan menjadi desainer di Indonesia, dengan mengambil inspirasi Indonesia untuk karya-karya desain saya.
 
Apa langkah Anda untuk mewujudkan keinginan itu?
Sebagai desainer, saya harus memiliki identitas. Saya pun mulai mencari, apa, ya, bahan khas Indonesia? Saya traveling ke berbagai daerah untuk mencari inspirasi. Ketika di Yogyakarta, saya bertemu lurik. Saya tertarik, salah satunya karena harga lurik murah. Maklum, saya masih muda saat itu, belum punya modal banyak, apalagi waktu itu saya baru berkeluarga dan memiliki bayi kembar.
 
Sesungguhnya, pilihan saya untuk mengangkat budaya Indonesia di fashion cukup melawan arus pada saat itu, karena sebagian besar desainer kita berkiblat ke Barat. Ketika menemukan lurik, saya pun bermain lurik untuk pasar anak muda. Saya memesan bermacam warna lurik dari Yogyakarta.
 
Salah satu pelanggan pertama saya waktu itu adalah Svida Alisjahbana (CEO Femina Group). Menurut orang-orang saat itu, sebagai desainer baru dan muda, pilihan saya pada lurik dianggap terobosan.
 
Apakah saat itu pasar sudah siap dengan idealisme Anda?
Harus diakui, saat itu sebagian besar desainer dan penggemar fashion Indonesia memang berkiblat ke Barat. Baru merasa fashionable bila mengenakan busana yang terinspirasi dari Barat. Saya lumayan berhasil, karena ketika mengeluarkan lurik dengan warna-warna dan desain yang playful, konsumen mau membeli. Mungkin juga karena waktu itu saya masih muda, masih baru, sehingga karya saya dinilai
sesuatu yang unik, ya.

Baca Selanjutnya: I Love Jumputan
 

Yoseptin Pratiwi


Topic

#kitasupreme, #desainerindonesia, #ghea

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.