
Foto: Unsplash
Sekitar 94% konsumen di Asia Pasifik mempertimbangkan untuk menggunakan metode pembayaran baru dalam bertransaksi. Fakta tersebut menjadi temuan Mastercard New Payments Index. Survei yang dilakukan di 18 negara secara global, termasuk India, Australia, dan Thailand mengungkapkan bahwa sebagai dampak pandemi 84% konsumen di Asia Pasifik memiliki akses ke lebih banyak cara untuk membayar dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai catatan bagi para pengusaha, 74% responden mengatakan bahwa mereka akan berbelanja di usaha kecil dengan frekuensi yang lebih besar jika mereka ditawarkan pilihan pembayaran tambahan.
"Studi Mastercard menemukan bahwa orang-orang di kawasan Asia Pasifik tidak hanya telah mengadopsi teknologi pembayaran baru—mereka telah melakukan perubahan sebagian berdasarkan kebutuhan, tetapi juga mempertimbangkan masalah keamanan dan kenyamanan pribadi, disaat hal tersebut menjadi sangat penting," kata Sandeep Malhotra, Executive Vice President, Products & Innovation, Asia Pacific.
Ke depannya, penggunaan berbagai teknologi pembayaran akan terus menjadi tren karena para konsumen merasa nyaman dengan hal tersebut dan pemahaman mereka meningkat. Di lain sisi, penggunaan uang tunai akan menurun. Sekitar 69% responden di Asia Pasifik mengatakan mereka berencana untuk mengurangi penggunaan uang tunai. Dan memilih untuk menggunakan dompet digital atau mobile wallet untuk pembayaran.
“Pergeseran perilaku ini diperkuat oleh keinginan konsumen untuk berbelanja dan dengan cara yang mereka inginkan. Sehingga bisnis dituntut untuk dapat menyediakan beberapa pilihan berbelanja dan pembayaran,” tambah Malhotra.
Tentunya ini akan menjadi tantangan baru bagi para pemilik bisnis ke depannya. Baagimana mereka mampu berkomperisi tidak hanya dari sisi produk dan promosi tapi juga sistem layanan pembayaran yang ditawarkan. Teknologi sekali lagi mengambil peran Penting sehingga para pebisnis dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan digital mereka. Terbukti 60% konsumen yang disurvei mengatakan mereka akan menghindari pedagang yang tidak menerima pembayaran elektronik dalam bentuk apa pun.
Di antara berbagai metode pembayaran yang muncul, berikut pilihan dari konsumen di Asia Pasifik:
1/ Kode QR
Kode QR telah mendapatkan traksi yang sangat kuat di Asia Pasifik dibandingkan wilayah lain di dunia. Dari jumlah mereka yang telah menggunakan kode QR untuk pembayaran, 63% mengatakan mereka lebih sering menggunakan kode QR untuk pembayaran pada tahun lalu dibandingkan sebelumnya. Di India dan Thailand, angkanya mencapai 64%, di atas rata-rata global sebesar 56%.
Di Asia Pasifik, mayoritas responden menganggap kode QR lebih nyaman (71%) digunakan untuk pembayaran secara langsung karena konsumen dapat langsung mengaksesnya dari ponsel sendiri.
Konsumen di Thailand (77%) dan India (71%) menganggap kode QR aman. Tingkat kepercayaan ini bahkan lebih tinggi dari anggapan bahwa uang tunai adalah alat pembayaran yang aman. Ini artinya tingkat kepercayaan konsumen pada pembayaran dengan kode QR lebih tinggi dari pada Uang tunai.
2/ Mata Uang Kripto
Khususnya kalangan milenial, mata uang kripto makin diminati. Saat ini konsumen dapat membeli, menjual, dan memperdagangkan mata uang kripto sebagai komoditas atau investasi. Konsumen juga semakin menunjukkan minat untuk dapat membelanjakan aset kripto untuk pembelian sehari-hari.
Sekitar 45% dari responden di Asia Pasifik mengatakan mereka cenderung mempertimbangkan untuk menggunakan mata uang kripto di tahun depan. Milenial dan generasi Z relatif lebih nyaman menggunakan mata uang kripto (41%) dibandingkan dengan generasi X dan Boomers (26%), dengan 71% dari generasi milenial mengatakan mereka lebih terbuka untuk menggunakannya dibandingkan tahun lalu.
Walaupun minat konsumen terhadap mata uang kripto – terutama mata uang digital seperti Bitcoin – tinggi, masih tetap harus ada usaha untuk memastikan pilihan konsumen, perlindungan, dan peraturan sehubungan dengan penggunaan mata uang tersebut sebagai alat pembayaran.
3/ Biometrik
Konsumen semakin nyaman dengan Biometrik. Sekitar 64% konsumen di Asia Pasifik mengatakan mereka bersemangat tentang potensi metode verifikasi biometrik seperti penilaian gaya berjalan dan otorisasi sidik jari. Bahkan, 62% merasa lebih aman menggunakan biometrik untuk memverifikasi pembelian daripada memasukkan pin.
Apapun jenis pembayaran yang akan menjadi tren kedepannya, isu keamanan tetap menjadi prioritas. Tahun lalu, 1 dari 4 responden di Asia Pasifik melaporkan bahwa mereka adalah korban penipuan. Masalah keamanan (47%) dan masalah perlindungan data (42%) menjadi alasan utama konsumen mau mencoba sebuah alat pembayaran baru. (f)
Baca Juga:
Hari Bangga Buatan Indonesia, Ini 3 Produk Lokal Pilihan Inspirasi Lebaran
3 Manfaat Adopsi Digital Payment untuk Bisnis UKM
Sudah Saatnya UKM Menggunakan Pembayaran Digital
Faunda Liswijayanti
Topic
#pembayarandigital, #uang


