
Winarti Handayani mengawali bisnis Kamalika Artprints pada tahun 2011. Berawal dari kartu ucapan, ilustrasi lukisan tangannya kemudian juga dicetak di bahan kain, sehingga bisa diaplikasikan dalam produk yang lebih luas seperti tas, pouch, kartu, dan dekorasi dinding. Sambutan pasar yang baik membuat Kamalika Artprints berkembang hingga memiliki workshop dengan mesin cetak sendiri dan beberapa gerai.
Bermunculannya pelaku bisnis yang menawarkan produk dengan aplikasi ilustrasi tak membuat Kamalika Artprints goyah. Sebagai pemain lama, Winarti justru merasa senang. “Banyaknya bisnis serupa memicu kreativitas sekaligus membuat konsumen lebih menyadari kehadiran produk-produk dengan ilustrasi.”
Namun di awal pandemi, Maret 2020, tantangan besar terjadi. Seluruh toko offline miliknya terpaksa tutup. “Tahun lalu kami pusing karena tidak ada penjualan yang biasanya secara offline. Saat itu tim kami ada 24 orang sementara penghasilan kami nol. Memang kami punya website Kamalikaartprints.com, tapi penjualan kami sebagian besar dari toko,“ ujar Winarti dalam Bincang UKM Angkatan 3, Memaksimalkan Media Sosial untuk Meningkatkan Pemasaran Produk Kreatif (Fashion/Craft), program kerjasama Wanita WIrausaha Femina dengan Facebook SheMeansBusiness tahun 2021 yang didukung oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta.
Untuk mempertahankan bisnisnya, Winarti memutuskan untuk memasuki pasar digital. Acara special untuk brand lokal yang diusung marketplace pada bulan April 2020, jadi momen yang ia pilih untuk membuka toko digital. Kehadirannya mendapat sambutan baik dari pasar.
“Mungkin karena pelanggan lama Kamalika Artprints sudah lama menunggu untuk bisa belanja online, tanpa harus ke toko, begitu kami buka toko di e-commerce responnya luar biasa. Kami surprise banget. Dalam satu bulan, ketika rekening sudah mau habis tiba-tiba penghasilan untuk semua toko bisa ditutup dengan penjualan di marketplace.”
Tak hanya membuka tempat pemasaran yang berbeda, ia dan tim pun melakukan beberapa penyesuaian produk dan strategi pemasaran. Winarti bersama tim membuat produk yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah pandemi yang butuh perlindungan saat ke luar rumah atau membuat kegiatan di rumah saja jadi lebih menyenangkan, seperti masker kain, celemek, outerwear, rok, dan produk dekorasi rumah.
Soal masker, sebelumnya Winarti mengaku ragu, tapi melihat semua orang membuat masker, Kamalika Artprints pun ikut mencoba memproduksi masker, tentu dengan desain khasnya yang imut. Ternyata, masker yang mereka tawarkan laku keras. Setiap produk baru keluar, selalu habis dalam hitungan jam. Demi memenuhi permintaan pasar Winarti sampai perlu menambah unit-unit di luar workshop, untuk membantu produksi masker. “Pandemi ini justru membuat kami semakin sibuk.”
Kamalika Artprints kini mau tidak mau sekarang juga harus aktif menggunakan media sosial sebagai media promosi dan komunikasi dengan pelanggan. Menurut Winarti agar maksimal, promo-promo di media sosial harus rutin, selalu di-update, dan berkesinambungan.
“Dalam satu hari kami minimal kami mengunggah tiga konten di akun Instagram @kamalikaartprints. Agar kontinu ada tim yang merencanakan konten, yaitu saya, stylist, dan admin. Agar bisa terus mengunggah, adanya stok foto sangat penting.”
Selain itu antara media sosial dan marketplace harus bersilangan, karena pelanggan akan melihat keduanya. Belakangan mereka juga bekerjasama dengan key opinion leader untuk menarik pelanggan yang lebih luas. Pokoknya segala cara harus dicoba.
“Kalau mau bisnis kita maju, kita harus konsisten, disiplin, dan mau belajar menggunakan media sosial supaya tidak tertinggal,” ujar Winarti. (f)Baca Juga:
Jurus Mengunci Hati Konsumen
Atina Maulia, Membangun Vanilla Hijab dari 2 Lembar Kain
Membaca Tren Fashion Global 2022 Bagi Pelaku UKM
Topic
#facebook, #shemeansbusiness, #digitalmarketing, #bincangukm, #wanwir




