Money
Hati-Hati Produk Palsu di E-Commerce, Ini 5 Cara Mengenalinya!

5 May 2018


Dok: Pexels

Tak dipungkiri, tren belanja online kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, fenomena ini juga menjadi celah bagi munculnya peredaran barang-barang palsu. Apalagi, barang palsu tak hanya untuk kebutuhan gaya hidup, obat-obatan dan kosmetik yang bisa memberikan dampak bahaya bagi pengguna juga tak luput dari praktik pemalsuan.

Di sektor industri farmasi, Pharmaceutical Security Institute (PSI) mengutip data dari Kementerian Dalam Negeri AS, pada tahun 2016, secara global dilaporkan telah terjadi 3.147 temuan pelanggaran produk farmasi (produk palsu dan illegal) 127 negara, naik 5% dibanding temuan tahun sebelumnya. Padahal, peredaran obat palsu ini dapat membahayakan keselamatan jiwa konsumen yang mengkonsumsinya.

Salah satu perusahaan farmasi, Pfizer, yang juga anggota MIAP (Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan) secara aktif bekerjasama dengan BPOM dan otoritas penegak hukum di berbagai negara, termasuk di Indonesia dalam upaya untuk melakukan kegiatan edukasi publik dan penegakan hukum, sekaligus melindungi konsumen dari beredarnya obat-obatan palsu. Pada tahun 2016, misalnya otoritas penegak hukum di 13 negara Asia Pasifik menyita setidaknya 5,6 juta dosis obat-obatan Pfizer yang dipalsukan seperti Viagra dan Ponstan.

Untuk memberantas peredaran barang palsu di e-commerce, kosumen juga perlu memiliki kemampuan untuk dapat mengenali produk yang asli dan berkualitas.

Lakukan lima hal ini, agar Anda terhindar dari membeli produk palsu di e-commerce.

1/ Bandingkan harga produk yang sama ke beberapa penjual lain di e-commerce, jika selisih harganya terlalu besar dan jauh lebih murah. Maka Anda patut curiga, karena bisa jadi barang yang ditawarkan tersebit palsu atau memiliki kualitas di bawah standar.

2/ Perlu diperhatikan pula penjual barang atau obat yang tidak menerima pembayaran di tempat atau cash on delivery (COD). Tercatat modus operandi pedagang barang palsu secara online biasanya tidak menerima sistem pembayaran COD.

3/ Setiap e-commerce selalu mencantumkan kolom komentar. Baca dahulu komentar-komentar yang telah ditulis oleh konsumen terdahulu. Jika ada banyak konsumen yang mengeluhkan tentang kualitas barang, sebaiknya Anda tidak membeli di toko tersebut.

4/ Selain busana dan produk kebutuhan sehari-hari, obat-obatan juga seringkali dipalsukan oleh pedagang melalui e-commerce. Direktur Intelijen Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, ada 30 temuan obat palsu pada tahun 2011, dan jumlahnya meningkat menjadi 370 temuan pada tahun lalu. Pastikan palsu tidaknya obat-obatan yang dibeli melalui layanan cekbpom.pom.go.id. Caranya, masukkan nomor BPOM produk di bagian pencarian. Apabila produk tersebut asli, maka link produk tersebut akan muncul. Namun, jika tidak ditemukan hasil dari penelusuran nomor tersebut, maka produk itu terindikasi palsu. Layanan ini juga bisa digunakan untuk produk makanan.

5/ Konsumen harus lebih peduli dengan ikut melaporkan jika menemukan produk palsu diperjualbelikan di e-commerce, karena dengan cara ini, akan terbentuk pengawasan masyarakat yang baik. (f)

Baca Juga: 
Gemar Belanja Online, Ini 5 Tip yang Perlu Anda Ketahui Agar Belanja Aman


Faunda Liswijayanti


Topic

#produkpalsu, #perlindungankonsumen, #belanjaonline

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.