Foto: Fotosearch
1/ Tidak ada komunikasi finansial selama pacaran
Banyak wanita merasa tabu membicarakan masalah keuangan ketika masih berpacaran. Umumnya, mereka takut dianggap tidak romantis, dicap perhitungan, atau bahkan dicap mata duitan. Padahal, jika sebuah hubungan sudah serius dan menuju ke pernikahan, minimal wanita harus tahu penghasilan pasangan dan mulai memikirkan urusan pembagian tugas keuangan. Dengan begini, ketika menikah, wanita tidak lagi terkaget-kaget atau merasa tidak puas. Bahkan, dianjurkan untuk mengangkat isu tentang perjanjian pranikah agar makin jelas pemisahan antara harta bawaan dan harta bersama.
2/ Tidak menyiapkan pensiun sejak dini
Sebagian besar wanita lajang beranggapan, mengelola keuangan adalah urusan wanita yang telah menikah. Mereka merasa belum perlu mengikuti asuransi atau berinvestasi. Menabung pun dilakukan kalau masih ada sisa uang gaji, setelah dipotong berbagai tagihan dan biaya bersenang-senang. ‘Kredo’ wanita lajang adalah santai dan menikmati hidup, mumpung belum punya tanggungan. Banyak wanita lajang hanya memikirkan hari ini saja, padahal mereka akan menuai manfaat di hari tua, jika sudah memiliki pension plan, yakni kemandirian finansial.
3/ Investor konservatif
Wanita lebih suka bermain aman. Berinvestasi adalah sesuatu yang jarang ada dalam kamus mereka. Umumnya, wanita lajang memilih tabungan dan deposito, karena tidak ada risiko kehilangan uang. Padahal, sebenarnya banyak pilihan investasi yang profitnya bisa lebih besar dibanding menabung, meski risikonya lebih tinggi. Karena itu, wanita lajang harus lebih agresif dalam berinvestasi dan mulai paham bentuk dan risiko berbagai jenis investasi. Susunlah semacam ‘tangga’ investasi, mulai yang berisiko rendah hingga tinggi. Dimulai tangga paling rendah (seperti Obligasi Indonesia Ritel atau ORI), hingga obligasi dan saham.
4/ Sembarangan menyimpan dokumen finansial dan aset
Kebanyakan wanita lajang slebor mengumpulkan kuitansi penting, tagihan kartu kredit, polis asuransi, akta pembelian, hingga slip peminjaman. Padahal, dokumen tersebut sangat diperlukan sebagai bukti jika sampai terjadi kekeliruan atau kecurangan dari pihak tertentu. Selain itu, mereka juga harus memiliki daftar kekayaan aset yang dimiliki dan mengetahui posisi keberadaannya. Saran Mike, simpanlah segala macam tagihan dan kuitansi pembayaran minimal selama sebulan, rajin mem-print out buku tabungan, dan menyimpan kuitansi yang berhubungan dengan dunia keuangan, seperti reksa dana
5/ Jor-joran pesta pernikahan
Siapa, sih, yang tidak menginginkan pesta perkawinan yang berkesan? Untuk mewujudkannya, tak jarang mereka rela mengeluarkan dana jor-joran yang melebihi kemampuan. Mengenakan kebaya karya desainer terkenal, make up yang kinclong, dan resepsi di hotel berbintang. Alhasil, demi pernikahan yang fantastis, banyak wanita membobol tabungannya hingga tandas. Ingat, hidup yang sebenarnya justru dimulai setelah pernikahan. Jangan mengandalkan angpau yang akan diperoleh. Setidaknya, alokasikan dana untuk 3-6 bulan biaya kebutuhan sehari-hari setelah pesta pernikahan.
6/ Membuka rekening bersama ketika pacaran
Membuka rekening bersama sebaiknya dilaksanakan setelah menikah. Jadi, kalau sampai hubungan itu putus, tidak menimbulkan konflik.
7/ Menggabung gaji dan tabungan di satu rekening
Jangan pernah menggabung gaji dan tabungan di dalam satu rekening. Bukalah rekening khusus untuk tabungan. Cara ini akan membuat tabungan aman karena tidak terjadi tumpang tindih yang mengakibatkan tabungan terpakai untuk hal-hal yang kurang penting.
8/ Belum memiliki prioritas keuangan
Harus diakui, wanita lajang sering merasa lebih santai. Mereka merasa belum memiliki kewajiban membayar pos-pos tertentu, seperti listrik, kebutuhan dapur, atau uang sekolah anak, layaknya wanita menikah. Tak heran bila akhirnya mereka pun lebih santai dalam mengeluarkan uang. Sebaiknya dana untuk belanja bulanan baru bebas dikeluarkan setelah semua utang dan tagihan dibayar, termasuk tagihan kartu kredit, tagihan ponsel, dana tabungan, serta cicilan premi asuransi.
9/ Suka menunda bayar tagihan
Kebiasaan buruk ini bisa menuai kerugian karena menyebabkan tagihan makin menggunung. Belum lagi ditambah denda karena telat membayar. Sebaiknya, luangkan satu hari khusus di pekan pertama atau kedua setiap bulan untuk membayar semua tagihan. Kalau nggak mau repot, gunakan sistem auto debet (tagihan langsung dipotong dari rekening Anda) atau lewat e-banking.
10/ Besar pasak daripada tiang
Banyak wanita lajang lebih boros dalam menggunakan penghasilannya. Sepertinya, kalau gaji belum habis, hati belum plong. Gaya hidup wanita lajang memang cenderung lebih bebas dan belum terkendali.
Joanita Roesma




