Foto: Unsplash.com
Jakarta tercatat sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Musim kemarau berkepanjangan, peningkatan emisi gas buang industri, kendaraan bermotor, dan pembangkit listrik ditengarai menjadi penyebab utamanya.
Polusi udara dan kabut asap akan berdampak buruk bagi kesehatan. Dampaknya bisa terasa dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. Polusi udara adalah campuran partikel dan gas dari bahan alami dan buatan manusia di udara yang kita hirup, yang dapat mencapai konsentrasi berbahaya, baik di luar maupun di dalam ruangan.
Polutan udara luar ruangan yang paling banyak ditemukan di daerah perkotaan yaitu particullate matter (PM), nitrogen dioksida (NO2), ozon (O3), dan sulfur dioksida (SO2).
Sumber polusi udara dapat berasal dari proses alam (kebakaran hutan, erupsi gunung berapi, badai dan lainnya), transportasi (gas buang kendaraan, debu di jalan raya), sektor industri (pembakaran bahan bakar, proses industri, dan lainnya) dan sektor rumah tangga (pembakaran biomas, asap rokok, dan lainnya).
Kadar polusi udara di kota Jakarta cukup bervariasi. Angka kadar polusi tersebut tergantung beberapa faktor, seperti besarnya sumber polutan di daerah tersebut, arah angin, kecepatan angin, dan lain-lain.
Kualitas udara di suatu titik atau wilayah, apabila dilihat berdasarkan nilai Air Quality Index, dapat berada antara kualitas baik (<50), sedang (51-100), kurang sehat (101-150), tidak sehat (151-200), sangat tidak sehat (201-300) dan berbahaya (>300). Pada satu waktu tertentu bisa berada pada AQI baik (< 50) dan bisa juga pada AQI yang buruk (>150).
Penting bagi masyarakat untuk mengetahui kadar AQI saat beraktivitas di luar rumah. Pada saat AQI berkisar antara 100-150 maka kelompok sensitif sudah harus waspada dan jika angkanya (>150) semua kelompok masyarakat harus waspada.
Menurut dr. Feni Fitriani Taufik, Sp. P (K), M.Ked, dokter spesialis paru dan pernapasan dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dampak polusi udara sangat berbahaya terhadap kesehatan paru-paru. Sebagai organ pernapasan paling akhir, paru-paru menjadi tempat bersarangnya partikel-partikel sangat kecil dan berbahaya yang terkandung dalam polusi udara. “PM2.5 itu ukurannya halus sekali, 100 kali lebih halus daripada satu helai rambut. Terbayang, bila terus terhirup dalam jangka panjang akan meningkatkan jumlah radikal bebas yang tidak dapat dinetralisir oleh antioksidan alami dalam tubuh kita,” ungkap dr. Feni.
Hal tersebut menurut dr. Feni akan merangsang terjadinya perubahan sel dalam saluran pernapasan, diserap ke pembuluh darah, dan menyebar ke berbagai organ tubuh. Dalam waktu yang lama akan terjadi peradangan sistemik, penurunan fungsi paru, merangsang terbentuknya risiko penyempitan pembuluh darah, bahkan memicu sejumlah penyakit kronik seperti kanker paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), stroke, penyakit jantung, serta diabetes.
Baca Selanjutnya: Lantas bagaimana menyiasati kondisi udara Jakarta?
Faunda Liswijayanti
Topic
#polusi, #lingkungan, #kesehatanparu-paru


