Health & Diet
Sakit Setelah Lebaran? Ini Kemungkinan Penyebabnya!

6 Jul 2016


Foto: Fotosearch

Memang, sih, saat Lebaran risiko kita jatuh sakit jadi lebih besar. Setelah menjalani ibadah puasa selama 30 hari, pola makan dan tidur yang berubah membuat stamina kita menurun. Karena persiapan menjelang Lebaran yang cukup heboh, mulai dari persiapan mudi, perjalanan mudik yang panjang, hingga acara silaturahmi yang cukup panjang, kita pun jadi kurang istirahat.

Menurut Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc. MS. SpGK, pola makan kita saat Ramadan sendiri sudah memupuk masalah kesehatan. Asyik mengonsumsi makanan bersantan penuh lemak saat Lebaran makin memperparah keadaan. “Bangun tidur pada dini hari, pola tidur yang terganggu, dan pola makan yang berubah meningkatkan risiko tubuh terkena infeksi. Sayangnya, saat Lebaran kita sering lupa makan sayuran dan buah. Padahal, kita harus makan dengan nutrisi lengkap agar stamina tubuh tetap terjaga,” jelasnya.
           
Dengan mengonsumsi buah-buahan, tubuh kita akan mendapat asupan vitamin C yang berperan penting dalam menjaga stamina tubuh. “Vitamin C berguna mencegah infeksi, menjaga mood, dan mencegah proses oksidasi yang bisa merusak sel-sel tubuh,” ujarnya.
           
Untuk itu, demi mengembalikan stamina dan kesehatan tubuh setelah Lebaran, dokter Fiastuti menyarankan kita untuk segera memperbaiki pola makan. “Menjaga kesehatan itu nomor satu dari apa yang kita makan. Pertama, perhatikan asupan vitamin C untuk tubuh. Vitamin C ini penting untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh dan membantu proses pemulihan tubuh. Tidak perlu mengonsumsi suplemen vitamin C. Cukup makan buah-buahan yang mengandung vitamin C tinggi, seperti kiwi, nanas, atau jeruk, dua porsi sehari,” jelasnya.
           
Setiap hari, dalam keadaan sehat, tubuh kita sebenarnya membutuhkan vitamin C 40-60 mg. Vitamin C sendiri merupakan jenis vitamin yang bersifat larut dalam air. Jadi, jika terdapat kelebihan vitamin C, tubuh secara alami akan membuangnya melalui urine. Vitami C dari buah lebih baik daripada suplemen karena diserap bertahap oleh tubuh, sehingga bertahan lebih lama.
           
Selain itu, jangan sepelekan masalah tidur. Karena, saat kita tidur, tubuh melakukan proses regenerasi sel-sel tubuh yang rusak. Meski menganjurkan untuk tidur 6 hingga 8 jam setiap malam, dokter Fiastuti menekankan bahwa kualitas juga tak kalah krusial dibandingkan kuantitasnya. “Jika kita tidurnya tidak nyenyak, proses regenerasi sel-sel tubuh tidak akan maksimal. Ketika bangun, kita pun tidak akan merasa segar,” ujarnya.
           
Untuk itu, ia menyarankan agar tidur dalam keadaan gelap. Jangan menyalakan lampu, sekecil apa pun cahayanya. Karena, dalam keadaan gelap, otak kita akan memproduksi hormon melatonin yang membantu kita untuk tidur lebih nyenyak.

Dampak dari makan serampangan saat Ramadan dan Lebaran juga dirasakan oleh Zita Reyninta Sari (25), freelancer. Merasa sudah mengurangi makan karena berpuasa selama sebulan penuh, ia asyik saja makan aneka hidangan Lebaran dan kue-kue kering, bahkan nambah hingga lebih dari 10 kali. Tak hanya berat badan yang meningkat hingga 5 kilogram, selama libur Lebaran ia juga merasa jantungnya berdebar lebih kencang.

Meski merasa ada yang tak beres pada tubuhnya, Zita tak segera memperbaiki pola makannya usai libur Lebaran. “Ah, nanti saja,” begitu pikirnya. Hingga suatu hari, ia sering merasa terengah-engah. Ia juga lebih sering merasa jantungnya berdebar-debar. Belum lagi, bentuk tubuhnya juga  makin melar.
           
Menurut dr. Fiastuti, sebetulnya tubuh memiliki organ hati yang secara alami berfungsi mendetoksifikasi tubuh dari zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Tapi, jika kita terus-menerus makan makanan berlemak, kerja hati akan  makin berat. Makanan bersantan yang kerap disajikan saat Lebaran mengandung lemak tinggi. Konsumsi lemak yang tinggi berisiko meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, tekanan darah, dan juga kadar gula dalam darah.
           
Untuk itu, detoksifikasi tubuh penting dilakukan setelah Lebaran, jika kita tak ingin kesenangan pada saat hari raya berujung pada penyakit yang serius. Dokter Fiastuti menyarankan, detoksifikasinya cukup dengan memperbaiki pola makan dan memperbanyak konsumsi sayuran dan buah. “Sayur-sayuran membantu menjaga kesehatan saluran cerna, mencegah konstipasi, serta menjaga kadar lemak dan glukosa tubuh,” papar dokter Fiastuti yang menyarankan mengonsumsi sayur-sayuran 2-3 porsi sehari.
           
Konsumsi buah dan sayur juga membantu penyerapan nutrisi-nutrisi dalam makanan, seperti protein dan kalsium, lebih optimal. Tak hanya itu, buah dan sayur mengandung kadar indeks glikemik yang rendah. “Makanan dengan indeks glikemik yang rendah membuat kita kenyang lebih lama dan kadar gula darah tetap stabil,” lanjut dokter Fiastuti. (f)




Eka Januwati


Topic

#PuasadanLebaran

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.