Health & Diet
Penderita Hipertensi Paru-Paru Sulit Dideteksi, Kenali Gejalanya

8 Sep 2017


Foto: Fotosearch

 
Kata hipertensi paru-paru mungkin masih terdengar asing bagi kebanyakan orang. Penelitian Prof. Dr.  Marius M. Hoper dan tim, yang dimuat di The Lancet Respiratory Medicine, 2016, menyebutkan, ada lebih dari 25 juta kasus hipertensi paru-paru di dunia, 50 persen dari yang terdiagnosis dan tidak melakukan pengobatan, meninggal dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Gawatnya, perbandingan antara wanita dan pria yang mengidap penyakit ini adalah 2:1. Seperti apa ‘wajah’ penyakit ini sebenarnya?
 
Penderita hipertensi paru-paru terlihat sehatsehat saja dari tampilan luarnya (invisible illness), meski  sebenarnya mereka sedang berjuang keras, bahkan untuk sekadar bernapas. Cara mudah untuk  mengetahui penderitaan pasien hipertensi paru-paru adalah dengan mengambil sedotan dan meletakkannya di mulut. Kemudian tutup hidung dan bernapaslah melalui sedotan tersebut selama satu menit. Itulah yang penderita hipertensi paru-paru rasakan selama 1.440 menit dalam sehari.
 
Dalam buku panduan yang diterbitkan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia, Hidup bersama Hipertensi Paru, disebutkan bahwa kelainan ini hanya dapat diukur menggunakan prosedur kateterisasi jantung kanan dan echocardiography (USG jantung). Tanpa prosedur tersebut, kecil kemungkinan seseorang mengetahui dirinya menderita hipertensi paru-paru.
 
Meski demikian, ada beberapa gejala umum yang bisa dirasakan penderita: sesak napas saat beraktivitas fisik seperti naik tangga, mudah lelah, jantung kanan bengkak (dilihat dari hasil rontgen), nyeri dada atau rasa tertekan di dada, detak jantung tidak beraturan, mudah pingsan atau pusing, bengkak air di tungkai kaki atau perut, batuk kering atau batuk darah, bibir dan kuku berwarna biru akibat kekurangan oksigen.
 
Hipertensi paru-paru memang menyesakkan, lahir dan batin. Tak hanya memberatkan penderitanya untuk bernapas, tapi juga memberatkan dompet. Begitu terjadi, penderita penyakit ini tidak akan kembali normal lagi. Mereka tergantung pada obat-obatan sepanjang sisa hidupnya, karena penyakit
ini sangat sulit bahkan bisa dibilang tidak bisa sembuh. Tanpa pengobatan, bisa fatal akibatnya. Ya, ini memang bukan jenis penyakit yang suka berdamai...
 
Ada 14 obat untuk hipertensi paru-paru, tapi hanya empat jenis yang masuk di Indonesia. Biaya berobat mencapai Rp1 juta – Rp3 juta per bulan, jika di klinik hipertensi paru –karena adanya bantuan biaya dari rumah sakit, atau pengeluaran pribadi tanpa bantuan Rp10 juta – Rp20 juta per bulan. “Memang mahal. Satu tablet ada yang harganya Rp100.000, bahkan ada yang mencapai Rp500 ribu,” kata Dhian. Karena itu, disarankan bagi penderita
 
hipertensi paru-paru untuk memiliki asuransikesehatan sehingga bisa mengurangi beban biaya berobat. Yang juga membuat berat adalah hingga saat ini di Indonesia, hanya ada dua klinik hipertensi paru, yaitu di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita – Jakarta dan Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta.
 
Menurut Prof. Bambang, hipertensi paru-paru memang tergolong penyakit langka, sehingga tidak semua dokter jantung tahu tentang hipertensi paru, berpengalaman, atau pernah menangani pasien dengan masalah seperti ini.
 
Diagnosis hipertensi paru-paru tentu jadi pukulan keras dan menyakitkan bagi penderitanya. Namun, penolakan, kemarahan, depresi, dan melawannya dengan menunda dan tidak patuh pada pengobatan, hanya akan membawa penyakit ini makin parah. Berdamailah pada diri sendiri dan bangkitkan semangat hidup. Anda bisa menyimak situs www.HipertensiParu.org dan komunitas grup Facebook IndoPHfamily untuk mencari informasi atau update daftar dokter yang memiliki perhatian pada penyakit ini, hingga saling berbagi cerita dan menguatkan. (f)
 


Topic

#hipertensiparu-paru

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?