Foto: pixabayKelompok Kerja (POKJA) Nasional untuk Retinopathy of Prematurity (ROP) dan bayi prematur menyebutkan, dalam lokakarya tahun 2010 menunjukkan, 32 dari 613 bayi prematur yang diskrining di 21 fasilitas kesehatan di Indonesia mengalami ROP.
Pada 2012, peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melakukan analisis prevalensi ROP di RS Cipto Mangunkusumo berdasar data kelahiran hidup bayi prematur antara tahun 2005 – 2010. Hasilnya, ditemukan bahwa 32 dari 269 bayi atau 11,9% terdiagnosa ROP. Gangguan penglihatan karena ROP dapat terjadi mulai tahap ringan sampai berat, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan permanen pada anak-anak.
Di Makassar, data di RSUP Wahiddin Sudirohusodo dan RSPTN Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa sejak 2013 hingga 2019, terdapat 682 bayi prematur yang diskrining dan 45 di antaranya mengalami ROP. Dari total bayi yang mengalami ROP, 9 bayi memperoleh perawatan laser dan injeksi dan 4 bayi kehilangan penglihatan karena terlambat skrining.
Protokol nasional untuk skrining dan terapi ROP sudah tersedia, namun kesulitan yang terjadi di lapangan adalah perpindahan bayi prematur yang sedang dalam perawatan intensif di suatu rumah sakit ke rumah sakit tersier, yang biasanya memiliki peralatan dan personel yang memadai, dapat memperburuk kondisi bayi tersebut.
Hal ini mendorong Helen Keller International (HKI) bersama dengan PERDAMI Sulawesi Selatan, IDAI Sulawesi Selatan dan RSPTN Universitas Hasanudin meluncurkan prakarsa baru skrining untuk pencegahan kebutaan akibat retinopati prematuritas (Retinopathy of Prematurity/RoP). Prakarsa ini menerima pendanaan penuh dari program Seeing Is Believing, yang merupakan inisiatif global dari Standard Chartered Bank.
“Melihat kondisi dan data yang ada di Makassar, maka kami memunculkan inovasi untuk melakukan skrining di rumah sakit tempat bayi prematur dirawat. Bahkan bila perlu dan kondisi memungkinkan, terapi juga dilakukan di RS tempat bayi dirawat. Upaya jemput bola ini bertujuan agar penglihatan bayi-bayi prematur ini dapat terselamatkan sehingga kualitas hidup mereka lebih baik, " ujar Dr. dr. Habibah S. Muhiddin Sp.M(K), Ketua PERDAMI Sulawesi Selatan.
Beliau menambahkan, ini merupakan upaya untuk melengkapi sistem pelayanan kesehatan yang sudah berjalan, sampai masing-masing rumah sakit mampu menjalankan mekanisme pencegahan kebutaan akibat ROP. Prakarsa ini membutuhkan dukungan Dinas Kesehatan dan partisipasi dari rumah-rumah sakit. "Kami berharap di masa mendatang, ROP tidak akan menjadi masalah karena semua rumah sakit memiliki kapasitas yang memadai. Mari kita bekerja bersama-sama untuk mencegah kebutaan.”
Koordinator Tim ROP Sulsel, dr. Marliyanti N. Akib, Sp.M(K), M.Kes menjelaskan bahwa, untuk menjalankan skrining ROP di Makassar, Tim ini tetap mengacu pada koridor hukum yang berlaku dan etika kesehatan. Ada beberapa anggota Tim ROP yang sudah mengikuti pelatihan manajemen dan skrining ROP di India. "Bersama dengan HKI, kami sudah melakukan sosialisasi tentang ROP kepada perawat unit neonatus, dokter anak, dokter mata, dokter obgyn, dokter anestesi dan manajemen 20 rumah sakit yang memiliki layanan persalinan di kota Makassar.”
Dengan diluncurkannya Prakarsa ini, penanganan kasus ROP diharapkan lebih baik sehingga terwujud upaya deteksi dini dan penanganan ROP yang tepat pada bayi prematur, berdasarkan pedoman nasional yang ditetapkan oleh PoKJa nasional untuk ROP. Implementasi program akan membutuhkan partisipasi dari pemerintah, organisasi profesi terkait, dan manajemen rumah sakit. Pelaksanaan skrining ROP sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), yaitu untuk menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.
“Kepedulian terhadap sesama dan saling bersinergi untuk bersama-sama mencegah kebutaan di Indonesia merupakan fokus utama program Seeing is Believing dari Standard Chartered Bank. Kami senantiasa berkolaborasi bersama pemerintah dan mitra terkait lainnya untuk menjalankan berbagai inisiatif antara lain melalui pemberian akses pemeriksaan mata yang terjangkau bagi masyarakat. Kami berharap inisiatif yang telah berjalan selama 14 tahun dapat berkelanjutan sebagai wujud komitmen Bank untuk memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program kesehatan pemerintah,”ujar Diana Mudadalam, Country Head of Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia.
“Retinopati prematuritas dapat dicegah, dan jika terdeteksi dini, dapat didiagnosa dan dirawat," ujar Dr. Satya Prabha Kotha – Regional Advisor for Eye Health, Helen Keller International. (f)
Baca Juga:
Cegah Wabah Berulang, Ini Pentingnya Vaksinasi Hepatitis A
Menebar Inspirasi Gaya Hidup Sehat Lewat Heritage Run 2019
Cegah Stroke Dengan Rutin Mengukur Tekanan Darah Sendiri Di Rumah
Topic
#mata, #kebutaan, #kesehatananak, #bayiprematur


