Health & Diet
Kanker Serviks Bisa Dilawan, Lakukan Vaksinasi dan Pemeriksaan Rutin

6 Mar 2019



Foto: Shutterstock
 
Data kesehatan menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks (mulut rahim) terbanyak di dunia. Sebagai penyakit yang slow-growing, kanker serviks menyebar dengan cepat di Indonesia.
 
Kanker servik disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus), terutama tipe 16 dan 18. Biasanya penyakit ini tidak menunjukkan gejala atau keluhan pada tahap awal. Gejala atau keluhan baru muncul ketika kanker sudah memasuki stadium 2 atau lebih. 
 
“Keputihan yang berulang meski telah diobati, juga post coital bleeding (pendarahan pasca senggama), kerap menjadi gejala yang dirasakan—meski tidak selalu merujuk pada kanker serviks,” jelas dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan onkologi ginekologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. Fitriyadi Kusuma, Sp. OG (K) Onk.
 
Skrining menjadi hal yang penting dilakukan untuk terhindar dari kanker serviks. Sejak aktif berhubungan seksual, pemeriksaan setiap tahun diperlukan untuk memantau kondisi organ kewanitaan.  Saat ini, terdapat beberapa tes yang bias dilakukan untuk mendeteksi lesipra-kanker.
 
1/ Tes IVA
IVA merupakan metode pemeriksaan yang paling mudah, murah, mampu laksana di Indonesia. Mulut rahim dibalur dengan asam cuka (25 persen) kemudian reaksi yang terjadi dianalisa.
 
2/ Papsmear
Tes ini dilakukan dengan pengambilan contoh sel-sel yang dilepaskan (eksfoliasi) dari lapisan epitel serviks, yang akan tampak tidak normal bila terjadi perubahan karena infeksi HPV, lesipra kanker atau kanker, jika diperiksa di laboratorium. Terdapat dua jenis papsmear, yaitu konvensional (tingkat akurasi 50 – 70 persen) dan thinprep (tingkat akurasi 80 persen).
 
3/ Tes DNA HPV
Pemeriksaan molekuler ini memiliki tingkat akurasi hingga 99 persen.  Tes ini dapat mendeteksi kemungkinan timbulnya lesipra-kanker meski belum terjadi perubahan pada sel.
 
4/ Kolposkopi
Pemeriksaan ini menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Jika memang ditemukan ada jaringan yang terinfeksi, biopsy terarah (pengambilan sejumlah kecil jaringan tubuh) dapat dilakukan dengan alat ini.
 
Selain pemeriksaan rutin, yang juga perlu dilakukan adalah melakukan vaksinasi HPV. Vaksin HPV membantu mencegah infeksi high-risk HPV (sub-tipe 16 dan 18) yang menyebabkan kanker serviks. Manfaat vaksin ini secara maksimal dapat diperoleh apabila seseorang belum pernah melakukan hubungan seksual. Namun, bagi wanita yang sudah menikah atau pernah berhubungan seksual, vaksin ini juga bermanfaat karena belum tentu seseorang tersebut pernah terpapar oleh virus HPV dengan sub-tipe yang dapat dicegah olehv aksin(HPV sub-tipe 6, 11, 16 dan 18).
 
“Vaksinasi ini dapat dilakukan oleh wanita berusia mulai 9  sampai  55  tahun,  meski  masa  terbaik adalah pada 9 sampai 12 tahun. Vaksinasi akan dilakukan tiga kali (0 bulan, 1 – 3 bulan, dan 6 bulan),” tutur dr. Fitriyadi.
 
Jangan lupa, Anda yang telah menerima vaksin, sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan dan deteksi dini rutin karena sebanyak 30 persen kasus kanker serviks dapat disebabkan oleh sub-tipe HPV yang tidak dapat dicegah oleh vaksin tersebut. Dengan vaksinasi dan pemeriksaan rutin, tak perlu khawatir kanker akan menyerang organ kewanitaan Anda.(f)

Baca Juga: 
Penyakit Kanker Seperti Yang Pernah Diderita Ustadz Arifin Ilham, Bukan Penyakit Instan
Tembakau, Pinang, dan Alkohol, Faktor Utama Penyebab Kanker Rongga Mulut
6 Hal yang Bisa Membantu Mengurangi Risiko Kanker Payudara

Faunda Liswijayanti


Topic

#kankerserviks

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.