Health & Diet
Gangguan-Gangguan Tidur dan Cara Mengatasinya

8 Jul 2016


Foto: Fotosearch

 
Badan pegal, lemas, dan sulit konsentrasi seharian sering dianggap karena badan yang tidak fit atau asupan makanan yang kurang. Padahal, nih, salah satu penyebabnya bisa saja waktu dan kualitas tidur yang kurang. Lebih jauh lagi, tidur yang terganggu bisa jadi gejala penyakit ‘berat’ lainnya. “Gangguan tidur seperti insomnia, misalnya, sebenarnya merupakan gejala, bukan jenis  penyakit. Seperti demam yang menjadi gejala berbagai penyakit. Insomnia bisa jadi gejala penyakit hipertensi, diabetes, obesitas, early aging, gangguan siklus menstruasi, hingga kanker,” jelas dr. Andreas Prasadja, RPSGT, Sleep Technologist dari Klinik Gangguan Tidur, RS Mitra Kemayoran, Jakarta. Bukan hanya insomnia dan sleep apnea (mendengkur), beberapa perilaku tidur merupakan suatu gangguan, tuh. Penyebabnya adalah pola tidur yang terganggu.
 
1. Delayed Sleep Phase Disorder (DSPD)
Ketika tidak bisa langsung tidur di saat waktu tidur yang umum (jam 22.00 – 24.00), seringkali mengeluh insomnia
“Baru bisa tidur menjelang pagi (misal, pukul 02.00, pukul 03.00) bukan berarti insomnia atau tidak bisa tidur, namun waktu tidur makin larut. Artinya, jam tidur dia memang baru jam segitu,” jelas Andreas. Pada DSPD, jam biologis penderita tidak sama dengan jam biologis umum. Hanya saja, begitu dia tertidur, tidurnya akan pulas sampai sulit bangun pagi harinya. Akibatnya, seharian mudah mengantuk, kelelahan mudah lupa, dan susah konsentrasi.
Penyebab     : Aktivitas tinggi sehingga menunda-nunda waktu tidur sehingga jam biologisnya berubah, timbul stress, dan kelelahan.
Penanganan : Dengan Lightherapy, yaitu malam sebelum tidur, hindari cahaya berlebih selama dua jam. Ketika bangun, ‘isi’ ruangan dengan cahaya alami matahari selama dua jam.
 
2. Sleepwalking
Berjalan dalam tidur terjadi ketika baru mencapai tahap Non-Rapid Eye Movement (NR) atau bukan tahap tidur pulas. Menurut Mark W. Mahowald M.D dari Stanford Center for Sleep Sciences and Medicines, seperti dilansir HuffingtonPost.com, ketika seseorang mengalami sleepwalking, bagian otak yang mengontrol perilaku terbangun, sedangkan yang merekam aktivitas malah ‘tidur’. Itu sebabnya kita tidak ingat pernah melakukan sleepwalking.
Penyebab     : Stres, kurang tidur, dan susah tidur diperkirakan jadi faktor utama. Orang yang tidur berjalan tidak membahayakan. Justru, kondisi yang ditemui saat tidur berjalan yang berbahaya bagi penderitanya, seperti terjatuh dan tersengat listrik.
Penanganan  : Dokter membantu mengatur waktu tidur.
 
3. Halusinasi
Satu siklus tidur berurutan dari Wakefullness (W atau berangkat tidur), Rapid Eye Movement (R) menuju NR (N1, N2, N3). Apabila satu fase pada siklus ini melompat, jelas Andreas, seperti dari Wà separuh N1à langsung R, keadaan kita menjadi setengah sadar dan setengah mimpi.
“Akibat dari keadaan tersebut, munculah halusinasi. Seperti mendengar suara-suara, melihat benda atau sensasi sosok lain yang hadir di kamar. Bentuk sosok ini berbeda tergantung latar belakang budaya, seperti hantu-hantu seram ala Indonesia, tapi di negara barat bagai melihat alien atau hantu temannya.”
Penyebab     : Kelelahan dan kekurangan tidur yang sangat ekstrim.
Penanganan : Memperbaiki pola tidur.
 
4. Sleep Paralysis
Selama fase R, aktivitas bermimpi meningkat tapi otot-otot diam bagai lumpuh. “Kelumpuhan (paralyze) sementara ini merupakan mekanisme pengaman tubuh supaya tidak beraktivitas seperti yang ada di mimpi. Ada kalanya kelumpuhan tetap terjadi ketika terbangun. Inilah yang disebut, dalam mitos, ketindihan.” Bisa juga sleep paralysis terjadi bersama halusinasi, menimbulkan perasaan kehadiran sesuatu dan tercekik.
Penyebab     : Kuantitas dan kualitas tidur yang sangat kurang, stres, depresi, atau kelelahan.
Penanganan : Perbaikan pola tidur, juga lingkungan tidur yang dibuat nyaman.
 
5. Sleep-related Eating
Mirip seperti sleep-walking, dalam keadaan tidur, seseorang tiba-tiba bangun, menuju dapur, masak, dan makan, lalu kembali tidur. Keesokan harinya, dia tidak ingat kejadian tadi meski ditemukan remah-remah makanan di sekitarnya. Kondisi ini terjadi saat kerja otak untuk terbangun dan tidur saling menyatu pada kerja otak saat itu.
Penyebab     : Stres akut, sedang melakukan diet ekstrim, atau terkait eating disorder seperti anoreksia dan bulimia.
Penanganan: Konsultasi pada ahli untuk identifikasi penyebabnya. Hindari konsumsi obat tidur dan penuhi kebutuhan waktu tidur.
 
6. Sleep-texting
Berkembangnya penggunaan gadget, yang digunakan sepanjang hari bahkan menjelang tidur, menimbulkan gangguan tidur berupa mengetik dan mengirimkan pesan saat tidur. Tentu, karena tidur, penderita baru menyadari telah mengirim pesan saat bangun.
Menurut Andreas, seperti kebanyakan gangguan tidur, sleep-texting terjadi pada dua jam awal tidur dalam (R). Sinar terang dari gadget membuat otak bekerja lagi meski telah lelah.
Penyebab     : Kebiasaan seseorang menggunakan gadget dipicu oleh kurang tidur.
Penanganan: Satu jam sebelum tidur matikan dan hentikan penggunaan gadget saat hendak tidur. Sinar terang dari gadget dapat menghambat produksi hormon ‘pembantu’ tidur, melatonin, yang diproduksi pada keadaan gelap. Bila perlu, simpan gadget di luar kamar.
 
7. Narkolepsi
Kelainan pada system saraf yang mengakibatkan hilang control atas tidur dan bangun. Penderita merasakan kantuk sepanjang hari dan dapat tiba-tiba tertidur di tengah aktivitas, seperti ketika bekerja atau menyetir mobil. Sleep paralysis merupakan salah satu gejala narkolepsi.
Penyebab     : Tidak diketahui pasti penyebab narkolepsi. Secara ilmiah, penderita memiliki jumlah hypocretin yang rendah pada otak. Zat kimia ini berguna mengontrol tidur.
Penanganan  : Selain meminum obat antidepresan, paling penting mengubah gaya hidup dulu. Hindari rokok dan alkohol, terutama menjelang malam, olahraga, dan menjadwalkan tidur siang beberapa menit (20-40 menit) tiap hari.(f)
 


Topic

#gangguantidur

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?