
Foto: Fotosearch
Rasanya sulit dipercaya, di dunia yang makin modern dengan kemajuan di bidang kesehatan seperti saat ini, kita mendapati fakta adanya kejadian luar biasa
(KLB) penyakit difteri. Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI pada 11 Desember lalu, Indonesia sedang menghadapi kejadian luar biasa (KLB) difteri di beberapa daerah, termasuk di DKI Jakarta. “Adanya satu kasus difteri terkonfirmasi laboratorium secara klinis sudah dapat menjadi dasar bahwa suatu daerah dinyatakan berada dalam kondisi KLB, karena tingkat kematiannya tinggi dan dapat menular dengan cepat,” kata Menteri Kesehatan, Prof. Dr.dr. Nila Moeloek, Sp.M(K).
Mendengar berita KLB difteri tentu membuat Kristanti (33) cemas dan khawatir atas kesehatan Dion (6), anak semata wayangnya. “Dion memang sudah mendapatkan vaksin DPT dulu ketika masih bayi dan sudah mendapatkan pengulangan (booster) vaksin DT beberapa bulan lalu lewat program pemerintah imunisasi di sekolah-sekolah. Namun, tetap saja berita itu membuat cemas,” ujar karyawan penerbit buku ini. Tanti terus memantau berita-berita di media massa dan selalu memantau kondisi fisik anaknya. “Saya tiap hari perhatikan apakah ada gejala demam, dan lain-lain selain memberinya suplemen untuk meningkatkan imunitasnya,” ujar Tanti.
Laporan kasus difteri sejak 1 Januari sampai 2017 menunjukkan telah ditemukan 591 kasus, dengan 32 kematian di 95 kabupaten/kota di 20 provinsi di Indonesia. “Difteri ini sangat menular dan berbahaya,” kata Menkes, saat meninjau pelaksanaan ORI (outbreak response Imunization) di SMA 33 Jakarta, 11 Desember 2017. Kemudian, per 18 Desember 2017, data menunjukkan telah ditemukan kasus dengan 32 kematian di 142 kabupaten/kota di 28 provinsi.
Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Tandanya adalah adanya peradangan pada selaput saluran pernapasan bagian atas, hidung, dan kulit. “Gejala demam tidak terlalu tinggi, tapi yang terjadi adalah adanya selaput yang melekat berwana pulih kelabu yang dapat menutup saluran napas. Selain itu, bakteri juga menyebabkan gangguan pada jantung dan sistem saraf,” ujar Menkes, Nila Moeloek.
Dalam imbauan peningkatan kewaspadaan terhadap difteri yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) disebutkan bahwa gejala awal difteri tidak spesifik, yaitu demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, serta keluar sekret hidung dengan warna kuning kehijauan dan bisa disertai darah.
Namun, penyakit ini memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorok dan hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan di leher yang disebut sebagai bullneck (seperti leher sapi). Bakteri ini menular melalui percikan ludah penderita difteri ke orang lain saat penderita berbicara, batuk, atau bersin. Bakteri ini juga ditularkan lewat kontak langsung dengan cairan yang keluar dari saluran pernapasan dan pengelupasan luka kulit penderita difteri. Benda-benda yang terkontaminasi bakteri seperti alat-alat makan dan minum juga bisa menjadi sumber penularan.
Ada beberapa hal yang disarankan PP IDAI:
1/ Bila terjadi keluhan nyeri tenggorokan dan disertai bunyi seperti mengorok atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khususnya anak berumur kurang dari 15 tahun, maka harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
2/ Anak harus dirawat di rumah sakit bila dicurigai menderita difteri agar segera mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.
3/ Apabila anak terdiagnosis difteri, akan diberikan tata laksana yang sesuai, termasuk perawatan isolasi.
4/ Untuk memutus rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus diperiksa oleh dokter dan petugas dari Dinas Kesehatan serta mendapat obat yang
harus dihabiskan untuk mencegah penyakit, apakah mereka juga menderita atau carrier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
5/ Anggota keluarga yang menderita difteri segera mendapat pengobatan.
6/ Anggota keluarga yang tidak menderita difteri segera dilakukan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia.
7/ Dan, yang tak kalah penting adalah melaksanakan semua petunjuk dokter dan petugas kesehatan setempat.(f)
Baca juga:
Apa Yang Harus Dilakukan Orang Tua Anak Penderita Spinal Muscular Atrophy, Penyebab Kelumpuhan Anak (bagian 3)
10 Hal yang Perlu Diketahui Orangtua Tentang Vaksin MR
Topic
#difteri


