
Foto: Shutterstock
Di masa pandemi COVID-19 ini kita semakin sering mendengar istilah komorbid. Orang-orang dengan penyakit komorbid disebut berisiko menderita gejala yang parah apabila terinfeksi virus Corona.
Komorbiditas adalah kondisi di mana seseorang menderita dua penyakit atau lebih pada saat yang bersamaan. Penyakit tersebut umumnya bersifat kronis atau menahun. Ada beberapa penyakit komorbid yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah diabetes.
Apalagi beberapa penelitian menyebutkan bahwa diabetes lebih bahaya apabila terjadi pada wanita. Center for Disease Control and Prevention menyebutkan, wanita ternyata empat kali lebih berisiko mengalami masalah kesehatan jantung yang terjadi sebagai komplikasi dari diabetes.
Selain itu, wanita pun lebih berisiko mengalami komplikasi diabetes, seperti depresi, penurunan daya lihat, hingga masalah ginjal. Tentunya di masa seperti saat ini mengontrol penyakit diabetes, terutama bagi wanita penting diperhatikan, agar kesehatan tetap terjaga.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebutkan proporsi pasien diebetes militus pada penduduk usia di atas 15 tahun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dari 5,5 persen pada tahun 2007, menjadi 6,9 persen pada tahun 2013 dan 8,5 persen pada tahun 2018. Indonesia sendiri merupakan negara urutan ke 7 dari 10 negara dengan penderita diabetes militus terbanyak di dunia.
Perlu disadari bahwa diabetes tidak hanya terjadi karena keturunan, tetapi bisa juga disebabkan oleh pola makan dan pola hidup yang tidak sehat. Diabetes merupakan masalah kesehatan kronis yang ditandai dengan kadar glukosa dalam darah yang tinggi.
Sebenarnya, glukosa merupakan sumber energi paling utama pada sel tubuh manusia. Tetapi, glukosa dalam darah yang berlebihan justru bisa mengakibatkan terjadinya penumpukan karena tidak mampu diserap oleh tubuh dengan optimal. Kondisi ini akan meningkatkan risiko terjadinya kerusakan pada organ tubuh.
Gejala Diabetes pada Wanita
Selain gejala diabetes yang umumnya terjadi seperti rasa haus dan lapar berlebih, penurunan atau kenaikan berat badan tanpa sebab yang jelas, sering buang air kecil. kaku pada jari tangan, kelelahan, penglihatan kabur, mual, dan luka yang sulit sembuh. Dilansir dari laman halodoc, pada wanita yang menderita diabetes juga mengalami gejala-gejala khusus lainnya yang berhubungan dengan kesehatan seksual wanita seperti:
1/ Perubahan Siklus Menstruasi
Ini karena perubahan hormon bisa mengakibatkan kadar glukosa di dalam darah menjadi tidak tentu. Dampaknya, menstruasi bisa terjadi lebih lama atau gejala yang muncul menjadi lebih parah.
2/ Infeksi jamur berulang pada vagina
Kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol akibat penyakit diabetes bisa membuat jamur Candida lebih mudah tumbuh di vagina. Infeksi jamur ini dapat menimbulkan gejala berupa vagina terasa gatal, nyeri, keputihan, dan perih atau tidak nyaman saat berhubungan seks.
3/ Disfungsi seksual
Gejala diabetes pada wanita bisa berupa menurunnya dorongan seksual dan vagina kering, yang disebabkan oleh neuropati diabetik atau kerusakan serabut saraf karena tingginya kadar gula dalam darah. Untuk menghindari hal ini, penderita diabetes harus melakukan kontrol secara rutin dengan menjalani pemeriksaan gula darah harian, memperbaiki gaya hidup, dan menggunakan obat diabetes sesuai resep dokter.
4/ Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
PCOS merupakan kondisi yang menunjukkan terdapatnya banyak kista di sekeliling ovarium (indung telur). PCOS tidak selalu menjadi gejala umum diabetes pada wanita, namun pada beberapa kasus, PCOS menandakan kondisi prediabetes. Kondisi ini menunjukkan seseorang berisiko tinggi terkena penyakit gula darah tinggi, tapi belum mengalami diabetes.
Salah satu alasan mengapa diabetes pada wanita lebih berbahaya, karena penyakit ini bisa lebih sulit dikontrol pada wanita. Perubahan hormon yang terjadi selama menstruasi, melahirkan, dan menopause membuat wanita lebih sulit mempertahankan kadar glukosa atau gula darah dengan baik. Oleh karena itu, wanita disarankan untuk lebih rutin memeriksakan gula darah sebelum atau sesudah menstruasi.
Selain itu, beberapa jenis pil KB juga bisa menyebabkan terjadinya peningkatan kadar gula dalam darah. Penting untuk menanyakan dokter obgyn Anda terkait pil KB yang direkomendasikan atau gunakan metode kontrasepsi yang aman untuk meminimalkan kenaikan kadar gula darah.
Lakukan Deteksi Dini Diabetes
Cara paling tepat mendeteksi gejala diabetes adalah dengan melakukan skrining gula darah. Karena dengan mengetahui sejak dini, Anda bisa menekan risiko komplikasi dan mengendalikan penyakitnya lebih cepat.
Ada beberapa cara untuk melakukan tes glukosa, seperti tes gula darah sewaktu (GDS) yang bisa dilakukan kapan saja, tanpa perlu mempertimbangkan waktu makan terakhir Anda. Namun, biasanya cek gula darah ini dilakukan apabila Anda sudah memiliki gejala diabetes, seperti sering buang air kecil atau kehausan.
Menurut Centers for Disease Control (CDC), hasil cek gula darah yang menunjukkan angka 200 mg/dL (11.1 mmol/L) atau lebih, mengindikasikan gula darah tinggi dan Anda punya diabetes.
Cara lainnya adalah dengan cek gula darah puasa, sebagai pemeriksaan lanjutan dari tes GDS. Sampel darah akan diambil setelah Anda berpuasa semalaman (kurang lebih 8 jam). Sejauh ini, tes gula darah puasa dianggap sebagai metode pemeriksaan gula darah yang cukup efektif. Berikut kategori kadar gula darah menurut hasil cek gula darah puasa:
- Normal : kurang dari 100 mg/dL (5,6 mmol/L).
- Prediabetes: antara 100 sampai 125 mg/dL (5,6 sampai 6,9 mmol/L).
- Diabetes: 126 mg/dL (7 mmol/L) atau lebih.
Prediabetes adalah kondisi ketika gula darah melebihi batas normal, tapi belum bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai diabetes. Ini warning untuk Anda segera mengubah gaya hidup agar tidak benar-benar terjangkit diabetes melitus.
Makanan memang memiliki efek langsung pada glukosa darah, sehingga bagian penting dalam mengelola diabetes adalah mengetahui apa dan berapa banyak yang harus dimakan. Perlu disadari bahwa beberapa makanan meningkatkan glukosa darah lebih dari yang lain.
Canadian Diabetes Association (CDA) menyebutkan bahwa memiliki kontrol terhadap porsi makan menjadi penting untuk mengontrol kadar gula darah. Dan Anda bisa mengontrol porsi makanan dengan mudah menggunakan tangan Anda. Berikut panduannya seperti saran CDA:
1/ Porsi Sayuran sebanyak dua tangkup tangan
2/ Porsi daging sebesar satu kepalan tangan
3/ Porsi daging dan alternatifnya sebesar telapak tangan dan setebal jari terkecil
4/ Porsi buah sebesar kepalan tangan
5/ Porsi susu low fat sebanyak 250 ml
Memiliki pola hidup sehat dan mengontrol pola makan akan mencegah Anda dari masalah kesehatan terkait diabetes. (f)
Baca juga:
5 Cara Sederhana Hidup Lebih Sehat di Tahun 2022
Veganuary, Ajakan Bagi Newbie Jajaki Plantbased Diet
Orang Tua Perlu Tahu Ini Aturan Tepat Konsumsi Gula pada Anak Per Hari
Faunda Liswijayanti
Topic
#diabetes, #guladarah


