Health & Diet
Bersifat Karsiogenik, Ini Bahaya Pewarna Kuning Buatan Pada Makanan

18 Nov 2020


Foto: Unsplash


Makanan dan minuman terasa nikmat bukan hanya karena rasa dan aromanya, tetapi juga karena warnanya yang unik. Seni dari pewarna makanan membantu kita membedakan tiap hidangan dan produk makanan yang satu dari yang lain. Isyarat visual ini dapat menstimulasi selera makan kita bahkan sebelum mencicipinya, dan kemudian meningkatkan rasanya yang enak. 

Menurut Survei FMCG Gurus COVID-19, di masa pandemi ini orang Indonesia menjadi jauh lebih sadar kesehatan daripada sebelumnya. Konsumen Indonesia lebih memperhatikan bahan dan daftar nutrisi pada label kemasan daripada sebelumnya dan ini meningkat sebesar 18% pada Juli 2020 dibandingkan pada Mei 2020. Tentunya jika kita semakin peduli dengan kesehatan maka kita juga perlu mengetahui ada kandungan pewarna makanan apa saja di balik makanan yang secara visual tampak menggiurkan.

Salah satu pewarna makanan yang sering digunakan adalah warna kuning. Alasan di balik popularitas ini tampaknya lebih dari sekadar tradisi kuliner. Warna kuning sangat terkait dengan buah-buahan matang, sayuran, rempah-rempah dan bahkan keju yang lezat. Di mana sensasi ini dapat membangkitkan rasa kelimpahan, ceria dan kebahagiaan dalam diri kita. Seseorang bisa dengan mudah membayangkan pohon lemon dengan buah kuningnya yang matang atau sawah keemasan sebelum musim panen.

Mintel GNPD, salah satu firma riset intelijen pemasaran global, dalam rilis yang dikirim kepada Femina (17/11/2020) menyebutkan telah menyurvei produk baru yang diluncurkan antara 2015 dan 2019 di Kawasan Asia Pasifik dan menemukan bahwa warna kuning memiliki persentase tertinggi dari semua pewarna makanan yang digunakan. Di antaranya, 47% datang dari kategori makanan ringan, roti, saus, dan bumbu. 

Produk makanan dan minuman sehari-hari yang menggunakan pewarna kuning antara lain makanan bayi, sereal, keripik, kue, saus, keju olahan, minuman energi, es krim, dan mie instan. Dalam hal mengonsumsi mie instant, menurut data dari Asosiasi Mi Instan Dunia (World Instant Noodle Association), Indonesia menempati urutan ke-2 secara global untuk konsumsi mi instan setelah Tiongkok.

Pewarna makanan kuning juga tidak berdiri sendiri. Terkadang pewarna kuning dipadukan dengan warna lain untuk mendapatkan warna hijau yang lebih pekat atau merah yang lebih cerah. Warna kuning umumnya tersedia secara alami dalam bentuk riboflavin atau vitamin B2, karoten, kurkumin, karthamus yang diekstrak dari tanaman seperti buah palem, bunga karthamus dan kunyit. 

Sayangnya, jenis pewarna makanan kuning yang lebih umum digunakan terbuat dari bahan buatan yang disebut tartrazine. Ini adalah satu dari banyak pewarna makanan yang terbuat dari minyak bumi atau petroleum - dengan kemungkinan bersifat karsinogenik. 

Hal ini tentunya menimbulkan potensi risiko kesehatan, terutama pada anak. Karena dampak negatifnya, beberapa negara telah mencabut larangan atau membatasi penggunaan tartrazine dengan peringatan. Misalnya saja, Uni Eropa yang telah mengeluarkan undang-undang tahun 2010 yang mewajibkan adanya tanda peringatan pada kemasan jika makanan dan minuman mengandung salah satu dari enam pewarna sintetis, termasuk tartrazine. Lima pewarna buatan lainnya termasuk quinoline yellow, carmoisine, sunset yellow, ponceau 4R dan allura red.

Di Asia Pasifik, negara konsumen mi instan terbesar seperti Tiongkok dan Vietnam telah melarang keras penggunaan tartrazine dalam makanan favorit mereka tersebut. Di negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council, setiap makanan yang dibuat dengan pewarna buatan, termasuk tartrazine, juga harus mencantumkan pernyataan peringatan pada labelnya, yang menunjukkan adanya bahan yang memberi dampak negatif pada aktivitas dan konsentrasi anak. Uni Emirat Arab membatasi penggunaan tartrazine. Dan baru-baru ini pada tahun 2020, Brasil juga memberlakukan regulasi label peringatan yang serupa.

Langkah-langkah dan regulasi tersebut merupakan hasil dari serangkaian studi ilmiah mengenai risiko dari pewarna makanan buatan. Sebagai contoh, sebuah studi oleh Universitas Southampton pada tahun 2007 menunjukkan bahwa campuran enam pewarna makanan (tartrazine, allura red, ponceau 4R, quinoline yellow WS, sunset yellow dan carmoisine) dan pengawet natrium benzoat memiliki kemungkinan keterikatan dengan peningkatan hiperaktif pada anak-anak.

Konsumen umum mungkin tidak memperhatikan produk makanan dan minuman kemasan mana yang mengandung tartrazine. Untuk mengidentifikasinya, perhatikan label bahan pada kemasan makanan. Umumnya tartrazine diidentifikasi sebagai E102, FD&C Yellow 5, Food Yellow 4 atau C.I. 19140. Sedangkan warna kuning alami yang diperoleh dari kunyit ditandai sebagai kurkumin CI 75300 dan beta karoten CI 75310. 

Oleh karena itu, saat berbelanja, perhatikan label makanan dan minuman untuk menghindari risiko pewarna makanan buatan, dan cobalah untuk memilih hanya yang menggunakan pewarna makanan alami. (f)


Baca juga: 
Pandemi Mengubah Perilaku, Konsumen Lebih Pilih Kualitas dari Harga Murah
Waspadai Potensi Diabetes Dibalik ‘Comfort Food’
Reservasi dan Menu Digital Harus Mulai Diterapkan Pelaku Usaha Kuliner


 


Faunda Liswijayanti


Topic

#makanan, #pewarnamakanan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?