Health & Diet
Akibat Perubahan Iklim

19 Apr 2016


Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan, perubahan iklim berandil menyebabkan 10.000 kematian  tiap tahun akibat minimnya air bersih, suhu ekstrem, banjir, dan meluasnya penyebaran nyamuk. Belum lagi 7 juta kematian terjadi  tiap tahun akibat penyakit kardiovaskular, pernapasan, dan kanker yang terkait dengan polusi udara.  
Ancaman penyakit yang diakibatkan oleh serangga nyamuk adalah malaria, demam berdarah, chikungunya, japanese encephalitis, filariasis (kaki gajah), dan zika. Populasi nyamuk saat ini bertambah banyak akibat perubahan lingkungan. “Curah hujan yang tinggi dan peningkatan suhu udara mempercepat perkembangbiakan nyamuk sehingga jumlahnya pun  makin meningkat,” jelas Dr. Budi Haryanto, SKM, MKM, MSc, peneliti dari Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia.
           
Sebenarnya, nyamuk-nyamuk Aedes hidup di wilayah yang hangat yaitu wilayah tropis. “Namun, sejak 30 tahun terakhir, suhu global meningkat yang berakibat menghangatnya wilayah-wilayah subtropis, sehingga nyamuk-nyamuk tersebut bisa hidup dan berkembang biak dengan baik di wilayah tersebut,” lanjutnya.
Khusus untuk nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue penyebab demam berdarah ini pun telah mengalami mutasi. Jika dulu hanya nyamuk Aedes yang menelan darah yang terinfeksi saja yang bisa menularkan virus, kini sejak lahir mereka sudah membawa virus dengue akibat masuknya virus saat proses reproduksi. Akibatnya, kasus demam berdarah  makin meningkat.

Penyakit terkait air bersih digolongkan menjadi dua kelompok besar: kualitas dan kuantitas ketersediaan air bersih. Kualitas air yang buruk menjadi pencetus penyakit diare, kolera, dan leptospirosis. Sementara, kuantitas air yang tak mencukupi kebutuhan menyebabkan malnutrisi dan penyakit-penyakit kulit seperti gatal-gatal, kudis, kurap, panu, infeksi kulit akibat jarang mandi dan sanitasi yang buruk.
           
Ketika suhu meningkat, maka akan membuat tanah menjadi kering sehingga debu-debu yang tadinya menempel pada tanah akan beterbangan di udara. “Partikel debu berukuran 10 mikronmeter di udara dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Sedangkan pertikel debu dengan ukuran 2,5 mikronmeter menyebabkan serangan dan penyakit asma,” papar Dr. Budi.

Lapisan ozon yang menipis mengakibatkan  sinar ultraviolet dari sinar matahari langsung menembus masuk ke permukaan bumi. “Terutama di negara subtropis yang jauh dari laut sehingga tak ada uap air dari laut yang bisa menahan paparan sinar UV ini dan memiliki kelembapan tinggi. Panas matahari langsung menusuk kulit membuat kulit perih,” terang Dr. Budi.

Polusi tinggi di lingkungan bisa mengakibatkan ganguan pendengaran dan pertumbuhan tubuh serta kecerdasan anak. Sedangkan pada orang dewasa, polusi  mengakibatkan alergi, anemia, serta gangguan kardiovaskular, ginjal, dan alat reproduksi. National Institute of Environmental Health  Sciences menambahkan, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim meningkatkan gangguan irama jantung dan stroke. Selain itu, kesehatan mental pun ikut terganggu. Bagaimana stres tidak meningkat kalau banjir dan badai  makin sering terjadi. Perubahan iklim memang sudah terjadi. (f) 
 

Reynette Fausto


 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.