Health & Diet
4 Gejala Baru Mutasi Virus Corona

7 May 2021


Foto: Shutterstock


Pemerintah mengonfirmasi mutasi virus corona B.1.1.7, yang pertama kali terdeteksi di Inggris, telah ditemukan di Indonesia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, varian B.1.1.7 sudah dikonfirmasi sebagai varian of concern (VoC) atau perhatian khusus. 

"Memengaruhi tingkat keparahan penyakit dan yang tertular bergejala, lalu jadi berat dalam waktu singkat dan berujung kepada kematian," ujar dr. Nadia dalam konferensi pers virtula pada Selasa (4/5/2021). 

WHO menyatakan varian ini harus diwaspadai. Sebab memiliki beberapa karakteristik yang menyebabkan penularan lebih cepat. Virus B.1.1.7disebut lebih menular sekitar 50% dibanding strain aslinya. 

Para peneliti telah membuktikan, mutasi virus Kent, yang dianggap paling mematikan, mampu 70 kali lebih menular dan dapat menyebar jauh lebih mudah. Melansir news.lvhn.org, terdapat 23 perubahan pada mutasi varian B.1.1.7. 

Hingga saat ini varian B.1.1.7 telah dikonfirmasi oleh sebagian besar negara-negara Eropa menjadi penyebab lonjakan kasus COVID-19. Di beberapa negara Eropa bahkan varian ini menjadi salah satu penyebab third wave atau gelombang ketiga penularan COVID-19 sehingga kasusnya kembali naik.

Tidak perlu panik dengan kemunculan varian baru COVID-19 ini, tapi kita perlu untuk waspada. Selain kehilangan rasa dan penciuman yang menjadi gejala umum dari pasien COVID-19, kenali gejala-gejala baru yang muncul dari mutasi virus ini: 

1. Batuk dan sakit tenggorokan 
Batuk dan sakit tenggorokan menjadi gejala awal dari virus COVID-19. Namun pada varian mutasi virus baru ini ditemukan seseorang yang terpapar virus lebih mungkin mengalami batuk dibandingkan varian lama. Mengutip The Guardian, batuk dan sakit tenggorokan lebih sering terjadi pada varian virus corona Inggris, B.1.1.7. 

2. Demam 
Studi Kantor Statistik Nasional Inggris menyebutkan, orang yang terpapar varian mutasi baru virus corona mengalami gejala demam sebesar 22%. Jumlah ini naik dari varian lama, sebesar 19%. 

3. Kelelahan dan nyeri otot
Gejala seseorang yang terpapar varian baru mengalami kelelahan yang berkepanjangan meningkat tajam. Nyeri otot juga semakin umum terlihat pada orang yang terinfeksi varian baru virus corona. Bahkan sejumlah kasus memperlihatkan tanda-tanda sakit yang menyiksa meningkat berlipat ganda. 

Nyeri otot dan nyeri tubuh ini disebabkan oleh virus yang menyerang serat otot dan lapisan jaringan penting. Selain itu, peradangan yang meluas juga dapat menyebabkan nyeri sendi, kelemahan, dan nyeri tubuh selama infeksi. 

Jika mengalami nyeri otot, merasa sulit untuk melakukan pekerjaan, dan tidak memiliki kondisi kesehatan lain sebelumnya yang dapat memicunya, segera lakukan test swab atau PCR Covid-19. 

4. Kabut otak 
Pada pasien long Covid-19, kabut otak banyak dikeluhkan pasien. da banyak kasus gejala virus corona panjang atau mampu bertahan lama. Penderita COVID-19 yang mengalami kabut otak mengklaim sulit mengarikulasikan pikiran dan ekspresi. Beberapa pasien bahkan mengaku harus berpikir lebih keras dan sebagian mengeluh kesulitan berbicara dengan lancar. 

Selain varian asal Inggris B.1.1.7, varian mutasi baru virus Corona yang perlu diwaspadai dan sudah terdeteksi di Indonesia adalah varian B.1.351 yang berasal dari Afrika Selatan. Varian Baru virus ini diduga menyebabkan penurunan efikasi dari vaksinasi. 

"Ada dugaan penurunan efikasi itu terjadi. Akan tetapi, vaksinnya tetap dapat memberikan dampak positif dari penanganan COVID-19," ungkap Nadia. Oleh sebab itu, Nadia menekankan proses vaksinasi COVID-19 di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Tujuannya untuk memberikan perlindungan selama virus COVID-19 bermutasi kembali. (f) 


Baca Juga: 
Waspada Penyebaran Virus Corona, Ini Lho Alasan Anda Harus Hindari Kerumunan
Ini Alasan Mengapa Test Swab Sendiri di Rumah Tidak Disarankan
Tetap Waspada Virus Corona Selama Ramadan dan Lebaran


Faunda Liswijayanti


Topic

#corona, #covid19

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?