
Foto: 123RF
Bukan tak mungkin, di masa depan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan banyak mengambil alih beberapa aspek kehidupan manusia. Salah satu yang paling berdampak adalah akan makin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan AI. Sebuah penelitian yang dirilis media teknologi The Futurist, memprediksi bahwa dalam 30 tahun ke depan manusia akan tersaingi oleh robot. Ditambah, 50 persen populasi dunia tak memiliki pekerjaan karena banyak profesi di berbagai bidang diisi oleh robot.
Baca juga: Robot dengan Kecerdasan Buatan Siap Menggantikan Para Pekerja, Siapkah Anda?
Menurut Kate Dennis, Corporate Communication Manager University of Technology Sydney, yang femina temui akhir Agustus lalu di Jakarta, pekerjaan yang bersifat terstruktur, repetitif, otomatis, dan kalkulatif akan menjadi area
pekerjaan yang pertama kali tergantikan.
Jenis pekerjaan yang seperti ini, menurut temuan perusahaan software AlphaBeta bertajuk The Automation Advantage, ditemukan pada pekerjaan yang banyak dilakukan oleh pria dan low skill worker. Misal saja, pekerjaan seperti kasir, cleaning service, hingga buruh pabrik adalah jenis pekerjaan yang lebih mudah diotomatisasi dengan menggunakan mesin.
Dengan ini, para pria menghadapi risiko lebih tinggi pekerjaannya tergantikan oleh AI. Antonny Liem, pendiri Merah Cipta Media, grup perusahaan berbasis internet dan advertising, juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, low skill worker sangat mungkin menjadi pihak yang pertama tergusur pekerjaannya oleh perkembangan teknologi yang kian canggih. Dalam hal ini Indonesia bisa berada di tengah ancaman tersebut.
“Low skill worker lebih banyak ditemukan di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Jadi, kita harus siap terkena imbasnya,” tutur Antonny, yang mengimbau agar kita siap untuk mengembangkan kemampuan diri.
Penggunaan AI pada jenis pekerjaan ini karena mesin dianggap dapat mengerjakan pekerjaan berat yang bersifat berulang dengan biaya yang lebih ekonomis, akurat, dan teliti bila dibandingkan manusia. Ini adalah persoalan efektivitas dan efisiensi kerja yang lebih baik dikerjakan oleh mesin.
Namun, bukan berarti mereka yang tidak masuk dalam kategori low skill worker aman dari ancaman tersebut. Pasalnya, beberapa pekerjaan kelas menengah juga memiliki ritme kerja yang bersifat repetitif dan mudah diotomatisasikan. Misal saja, akuntan, pegawai asuransi, aktuaris, bankir, staf legal, hingga pustakawan berisiko tunduk pada otomatisasi.
Kabar baiknya, masih menurut penelitian yang sama, pekerjaan-pekerjaan yang lebih banyak dikerjakan oleh wanita, seperti pengasuh anak, bidan, perawat, penata rambut, hingga pendidik lebih rendah risikonya tergantikan oleh mesin. Pekerjaan jenis ini dinilai sangat mengandalkan empati sosial, keterampilan interpersonal, dan kreativitas, yang lebih sulit terotomatisasi oleh AI.
Di sisi lain, jenis pekerjaan yang juga lebih sulit tergantikan dengan AI, menurut Antonny, adalah pekerjaan-pekerjaan yang bersifat human centric and interaction, dan posisi strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, atau dengan kata lain pembuat kebijakan.
“Misalnya, dokter atau psikolog, yang erat kaitannya dengan interaksi antarmanusia. Robot tidak bisa melakukan ini. Juga mereka yang bekerja di pemerintahan atau petinggi perusahaan, karena kita tidak akan mengizinkan robot mengontrol manusia,” tutur Antonny.
Tak dapat dipungkiri, fakta bahwa akan makin banyak pekerjaan manusia yang akan tergantikan di masa depan, membuat banyak orang khawatir.
Menurut penelitian Pegasystem bertajuk What Consumers Really Think About AI: A Global Study terhadap 6.000 orang di
berbagai belahan dunia, ditemukan bahwa kecerdasan buatan terhadap beberapa hal saat ini tak memenuhi ekspektasi mereka. Bahkan, 70 persen responden merasa takut terhadap AI, sedangkan sepertiganya merasa tidak nyaman dalam menggunakannya.
Ketakutan dan kekhawatiran tersebut timbul karena kesalahpahaman yang tercipta dalam film sains fiksi yang menggambarkan bahwa AI akan menguasai dunia. Sedangkan ketidaknyamanan menggunakan AI dikarenakan mereka harus memberikan sejumlah informasi pribadi pada mesin tersebut. Padahal, 84 persen di antara mereka secara tidak sadar
setidaknya pernah sekali mencoba teknologi yang digerakkan oleh AI.
Kendati demikian, sekitar 38 persen optimistis bahwa AI akan makin membaik dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. Sedangkan 73 persen dari responden sangat terbuka untuk menggunakan AI, jika memang bisa membuat hidup lebih mudah. (f)
Baca juga:
6 Fakta GIF, Gambar Bergerak Lucu yang Telah Berusia 30 Tahun
DIY: 5 Langkah Membuat GIF Menggunakan Photoshop
Terjemahan Google Translate Semakin Akurat dengan Teknologi Berbasis Artificial Intelligence
Topic
#gadget, #artificialintelligence


