Food Trend
Pengalaman, Kata Kunci Wisata Gastronomi

21 Nov 2018

Turis mencari makanan di Ubud. (Foto: Dok. Unsplash).
 
Soal kekayaan gastronomi, Indonesia sudah punya modal besar. Ada antara lain lebih dari 3500 resep masakan dari 1340 suku, 2184 ikan air tawar, hingga 2500 ikan air laut. Semua adalah aset yang perlu dilibatkan dalam penciptaan pengalaman.

Ya, pengalaman adalah sebuah kata kunci, seperti disebutkan Maya Syahrial dari t
im Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja, Kementerian Pariwisata RI, sebagai kemutlakan wisata gastronomi, dalam diskusi bertema Indonesia Menuju Destinasi Wisata Gastronomi Dunia.
 
Untuk membuat wisata gastronomi maju, Virginia Kardasan, juga dari tim yang sama, memaparkan, ada tiga tindakan yang perlu dilakukan. Yaitu penggalian (penelitian), pelestarian, dan penyebarluasan.

Virginia menyinggung antara lain langkah-langkah terpuji yang dilakukan para chef di belakang kemudi restoran klasik hingga progresif, seperti NUSA Indonesian Gastronomy di Jakarta dan Roemah Langko di Lombok. Panelis lainnya dalam diskusi berbentuk FGD ini, 
Ida Bagus Suar, pemilik Bali Pesto, Ubud, sekaligus perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, juga menyebutkan restoran Locavore di Ubud sebagai contoh konkret pelestari gastronomi dalam cara modern dan pembawa impact yang nyata. 
 
Bergerak maju dalam memajukan wisata gastronomi harus dilakukan secara bertahap; dari segera, jangka menengah, dan jangka panjang. Yang perlu segera dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran untuk mengembangkan wisata gastronomi sebagai magnet bagi wisatawan. Selanjutnya perlunya penggalian tentang asal-muasal bahan hingga ke meja makan, diistilahkan sebagai proses hulu ke hilir.

“Biodiversitas negeri ini unik. Sejarah yang lekat dengan biodiversitas juga perlu dipelajari, misalnya seperti mengapa rempah banyak bersumber di Maluku namun berujung di meja makan Aceh,” ujar Virginia, di diskusi yang berlangsung di hotel Aryaduta Jakarta, ini.

 
Kemasan makanan yang menimbulkan sampah lingkungan juga menjadi problema. Di Bali, dimana awareness kesehatan dan alam sudah menjadi perhatian, sampah plastik mulai menjadi pertimbangan konsumen untuk berbelanja sebuah produk. Jika wisata gastronomi di Indonesia mau berbenah, hal-hal yang mendukung lingkungan, juga menjadi hal penting. 
 
Akademi Gastronomi Indonesia, dibina oleh Vita Datau, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja, Kementerian Pariwisata RI, pernah merumuskan konsep segitiga gastronomi sebagai landasan bagi pengembangan wisata gastronomi. Tiga segitiga ini melibatkan makanan, ritual/ upacara, rempah, dan storytelling.

Dulu, berwisata itu sekadar pleasure, mass tourism. Sekarang pengalaman dikejar karena bersifat memorable,” ujar Virginia. (f)

Baca juga:
Amaliah Membawa Kearifan Tumpeng di Festival Pangan di Italia
Di Hari Kopi Internasional, Mari Berbincang dengan Andy Easthope, Juri Kopi Internasional​


 

Trifitria Nuragustina


Topic

#kemenparri, #wisatakulinerbali, #indonesiagastronomi

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.