
Chef Richard McGeown memasak daging buatan lab untuk kritikus makanan Hanni Rützler. (dok.Mosa Meat-Press Kit)
Menurut FAO, di tahun 2050 dengan populasi dunia membengkak di atas 9 milyar jiwa, permintaan daging sapi akan bertambah hingga 70%. Mudah dikalkulasi, kita takkan sanggup memenuhi ini dengan kelangkaan lahan dan air nantinya.
Setelah berita daging sapi bikinan lab wara-wiri di tahun 2018, orang Indonesia sebentar lagi bisa ‘bertemu’ dengan penggagasnya, ilmuwan Mark Post, lewat tayangan virtual di Disrupto Fest 2020. Festival ini ekosistem bagi pemikiran inovatif di tiga fokus; teknologi, sains, dan bisnis.
Perusahaan Mark Post, Mosa Meat, berada di Kota Maastricht, Belanda.
Mosa Meat menggunakan sampel kecil sel myosatellite dari sapi, lewat proses anastesi. Sel-sel diberi nutrisi agar menjadi untaian jaringan otot. Digunakan istilah ‘cultured meat’. Cultured meat dirancang minim lemak dan bebas dari hormon pertumbuhan, serta antibiotik.
Sebanyak 96% gas emisi ditiadakan dalam lab ala Mosa Meat karena menggunakan 99% lebih sedikit lahan dan 96% lebih sedikit air. Tentu, alasan penyembelihan hewan yang dianggap tidak etis dan potensi berkembangnya penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, juga berperan. Co-Founder Google, Sergey Brin, ikutan jadi investor.
Start-up sejenis di Amerika, Memphis Meat, juga disuntiki dana orang-orang kaya dunia, seperti Bill Gates dan Richard Branson. Tyson Foods, perusahaan daging terbesar kedua di dunia, ikutan patungan karena menyadari isu climate change. Start-up lainnya bermunculan cepat di California. Tapi, Mark Post adalah yang pertama merilis cultured meat menjadi burger di dunia.
Di 2013, kritikus makanan dan ilmuwan Hanni Ruetzler mencoba burger dari cultured meat di preskon Mosa Meat. Rasa disebutnya mirip daging sapi yang dikembangbiakkan hewan, walau kurang juicy. Teksturnya pas, tapi kurang garam dan merica pada komposisi resep patty.
Kritikus lain, Josh Schonwald, menyebut daging ini terasa ‘lean’, kurang berlemak.
Mark Post langsung hepi dengan hasil icip-icip. Ini dianggapnya permulaan bagus.
Industri peternakan di Amerika menentang Post dalam menyebut produknya sebagai ‘meat’. Namun, Post meminjam kondisi ‘non-dairy milk’ yang tersemat pada produk ‘susu’ nabati yang di tahun 2018 sudah menyabet 10% penjualan dairy. Diganti atau tidak, perubahan istilah ‘susu’ disebutnya tak mengubah pengaruh besar yang sudah dibawa oleh produk alternatif.
Jadi, bagaimana progres di tahun 2020 dari daging sapi buatan lab? Apakah ini jawaban kebutuhan pangan di masa depan?
Yang penasaran bisa nonton live-streaming-nya di Disrupto Fest 2020. (f)
Baca juga:
Ramai-Ramai PO Loyang Nordic. Sudah Dengar Trennya?
Garlic Cheese Bread ala Korea Yang Lagi Viral
Chef Lokal Ini Bikin Virtual Dinner dan Wine Pairing dari Rumah
Trifitria Nuragustina




