
Mikael Teguhjaya. (dok.TN)
Tanah asal, iklim, penanganan pasca petik, hingga roasting memengaruhi ini. “Belum lagi ketika diseduh, persepsi seorang cupper bisa berubah,” ujar roaster di balik usaha biji kopi Juno The Coffee Company, Mikael Teguhjaya. Istilah ‘cupper' merujuk ke seseorang yang melakukan penilaian karakter kopi.
Ditemui di acara Juno x 21 Factory – Coffee x Galato Cupping, pria Bangka tersebut ingin mengedukasi tentang kopi dalam pertemuan yang lebih kasual. Berlangsung di toko gelato 21 Factory, acara intimate ini mempertemukan muka baru dan lama. Kopi semakin punya tempat di minat banyak orang.
Baca juga keseruan gelato tasting di berita ini.
Bagi awam, mengobservasi rasa dan aroma dalam sebuah sesi coffee cupping adalah ujian tersendiri. Sebaliknya, bagi yang terlatih, melakukan cupping ditunggu-tunggu karena di sinilah bisa ditemukan karakter kopi yang menarik, mengikuti origin-nya.
“Hirup fragrance kopi bubuk ini dan tulis sesuatu bahan yang mengingatkanmu pada aroma itu,” ujar Mikael, memberi instruksi ke peserta untuk mengendus aroma kopi bubuk dalam-dalam.
Taster’s Flavor Wheel dicetak pada kertas tasting peserta. Grafis flavor wheel menggambarkan aroma dan rasa secara lebih spesifik. Namun, tanpa mengacu pada ini, taster di acara kasual boleh-boleh saja mengaitkan karakter kopinya dengan sesuatu yang lebih familier di lidah. Misalnya, alih-alih mengaitkan aroma burnt sugar (roasted) sebagai perbendaharaan baku dalam flavor wheel, bisa saja pencoba mengaitkannya dengan aroma permen karamel.

Setelah itu, kopi diseduh menggunakan metode tubruk. “Kita dorong layer teratas ini sebanyak 3 kali dan cium aromanya. Aromanya lebih riil dan untuk negesin saja sebagai konsistensi. Kemudian, cium juga aroma crema yang menempel pada punggung sendok,” ujar Mikael.
Setelahnya, kopi diseruput kencang. Sampel kopi yang tersiram ke seluruh bagian mulut membantu peserta lebih mengenali taste, aftertaste, acidity, dan body kopi yang sedang diobservasi.
Setelahnya, kopi diseruput kencang. Sampel kopi yang tersiram ke seluruh bagian mulut membantu peserta lebih mengenali taste, aftertaste, acidity, dan body kopi yang sedang diobservasi.

Mikael menyeruput kopi dengan kencang. (dok.TN)
Ekspresi para peserta menarik diamati. Ada yang mengendus bubuk kopi berkali-kali dan mengoreksi coffee notes yang semula ditulisnya pada kertas. Ada yang tersenyum-senyum karena kopi di depan matanya mengingatkan dengan makanan yang disuka. Banyak pula yang meninggalkan catatannya kosong. "Saya ragu-ragu, takut salah cicip," ujar seorang peserta yang merupakan first-timer acara cupping/ tasting.
Cupping bukanlah ajang pamer kemampuan. Setuju dan tidak setuju antar ahli bahkan bisa terjadi. Satu cupper atau roaster bisa mengidentifikasi karakter dan membantu yang lainnya. Dan ketika diskusi terbentuk, inilah kesenangan melakukan cupping bersama-sama.
Memamani karakter kopi bukan hanya untuk pebisnis kopi. Bagi penikmat sehari-hari (skala nonkomersil), memahami karakter kopi membantunya menemukan gaya kopi yang disuka di kedai kopi.

Jeny Kwok, penikmat kopi, ikutan tasting. (dok.TN)
Kopi yang dicoba:
1/ Kolombia (daerah Sierra Nevada). Diolah full washed
2/ Gayo Arasy (Desa Pantan Musara, Takengon, Aceh Tengah). Diolah wet hull
3/ Mesakada (Desa Banea di Kabupaten Mamasa, ul-Bar). Diolah semi washed
4/ Malino (Kabupaten Gowa, Sul-Sel). Diolah full washed
5/ Etiopia (provinsi dataran tinggi Sidamo). Diolah natural
6/ Gunung Puntang, Ja-Bar (varietas typica). Diolah honey process
7/ Gunung Haluna, Ja-Bar. Diolah yellow honey process (f)
Baca juga:
3 Chef Internasional Akan Hadirkan Makanan Indonesia di London
Gaya Berbeda Penikmat Gelato di Bali dan Jakarta, Kata Gregory Lentini
Gaya Berbeda Penikmat Gelato di Bali dan Jakarta, Kata Gregory Lentini
Trifitria Nuragustina
Topic
#junothecoffeecompany, #kulinermenteng, #jualbijikopi




