Food Trend
Dine In Car Jadi Tren Makan di Luar Saat PPKM

19 Aug 2021


Pandemi memaksa semua orang untuk berdaptasi, tak terkecuali di dunia kuliner. Tidak hanya pebisnis kuliner yang harus beradaptasi demi mempertahankan usahanya, namun para konsumen pun juga harus beradaptasi menyesuaikan keadaan dan peraturan yang ada.

Pembatasan usaha yang diberlakukan oleh pemerintah melahirkan inovasi-inovasi dalam bisnis kuliner. Menjamurnya ghost kitchen atau cloud kitchen adalah salah satunya. Keengganan masyarakat untuk keluar rumah menjadi alasan tepat untuk membuat bisnis kuliner semacam ini.

Namun, di sisi lain ada pula konsumen yang masih berani dan ingin keluar rumah. Refreshing, meski hanya sekadar berkeliling kota tanpa turun dari mobil. Namun, yang namanya jalan-jalan tanpa makan seperti sayur kurang garam. Femina pun pernah melakukan ini di kala Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa awal pandemi. Berkendara dengan mobil keliling Jakarta tanpa keluar mobil, berakhir mampir di drive thru McDonald’s. Tidak makan di rumah, tapi menyantap makanan pesanan di parkiran mobil. Walau sedikit ribet, tapi ini cukup menjadi hiburan untuk anak-anak yang ikut serta saat itu. Bukan kami saja, ternyata cukup banyak pengendara mobil melakukan hal yang sama.

Makan di luar sepertinya masih menjadi hiburan yang sangat diinginkan oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah tidak melarang bagi tamu restoran untuk makan di mobil. Aturan untuk jaga jarak dan tidak berkerumun tetap bisa dilaksanakan. Melihat peluang ini, restoran yang memiliki area parkir cukup luas pun akhirnya membuat layanan makan di mobil.

Holycow! By Chef Afit adalah salah satu pelopornya. Layanan “Pesan Dari Parkiran” yang dilakukan tak lama berselang sejak pembelakuan PSBB di bulan April 2020. “Layanan ini juga ditunjang dengan lokasi Holycow! yang kebanyakan berdiri sendiri (tidak di dalam mall) dan memiliki parkiran yang cukup luas,” ujar Lucy Wiryono si pemilik.

“Semua kegiatan dilakukan dari jarak aman. Bahkan untuk pesan, menu kami buat QR code-nya. Jadi konsumen bisa langsung scan atau menunjuk menu yang dibawa crew,” terang Lucy. Untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin, ia membeli nampan yang berfungsi sebagai meja saat pelanggan makan di mobil. Nampan ini pun ada penutupnya, sehingga makanan tetap higienis saat diterima oleh pelanggan. “Bahkan, pelanggan bisa minta petugas untuk memotong-motong steak agar lebih mudah dimakan,”tambahnya.

Lucy merasakan antusiasme pelanggan pada layanan ini. Dari awal hingga saat ini, pelanggan yang makan di mobil semakin bertambah. “Jadi semacam wisata keluarga. Karena banyak yang ajak anak-anak juga,” kata Lucy.

Tidak berada di dalam mall dan memiliki area parkir sendiri memang sesuatu keuntungan untuk melakukan layanan makan di mobil. Namun, bukan berarti layanan ini tidak bisa dilakukan oleh restoran yang ada di dalam mall. Salah satunya Shabu Kitchen, restoran ini berlokasi di Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung. Dalam akun Instagramnya, diketahui restoran ini juga melayani makan di mobil dengan cara yang cukup simple. Pelanggan yang sudah parkir di Mall Boemi Kedaton cukup chat melalui WhatsApp agar petugas restoran bisa menghampiri mobil pelanggan untuk melakukan pemesanan. Selanjutnya, tata cara yang dilakukan hampir sama dengan restoran di luar mall.

Makan di mobil atau dine in car bisa menjadi salah satu alternatif atau pilihan untuk para konsumen mencari hiburan di luar rumah yang cukup aman selama pandemi. Namun, yang perlu diingat adalah cara ini beda dengan makan di luar sesungguhnya alias di dalam restoran. “Jika tujuannya untuk isi perut, saya tak menemukan masalah makan di dalam mobil,” ujar Fitri, warga Bintaro yang pernah mencoba layanan ini. “Lain cerita bila restoran gaya hidup, dimana ambience jadi elemen pembangkit selera,” tambah Fitri. Ambience tentu saja tidak bisa dihadirkan di dalam mobil.

Layana dine in car sepertinya akan sukses untuk restoran yang menyajikan makanan sehari-hari dan restoran keluarga. Atau, restoran yang memang mengandalkan makanan sebagai daya tariknya, bukan restoran yang mengandalkan suasana untuk memanjakan para tamunya.
 
Baca juga:
Sedang Disukai Penyuka Healthy Food, Apa Itu Raw Honey?
Salak Hingga Sawo Jadi Wine? Ini Cerita KHAS Fruit Wine
6 Hal Yang Tak Kamu Ketahui Tentang Tempe

 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?