Fruitcake yang kita kenal punya ‘saingan’.
Di Jakarta, Stollen bermunculan di toko roti di musim Natal. Berbentuk mirip umumnya country bread tapi bertutup ‘bedak’ gula bubuk dan menggunakan ragi.
Walau beberapa menganggapnya sebagai 'salju', taburan gula sejatinya melambangkan bayi Yesus berbalut selimut lembut.
“Stollen disiram clarified butter, ditabur gula bubuk, dan didiamkan sekian hari,” buka Attila Körmöczi, Executive Chef InterContinental Jakarta. Ia menjualnya dalam rangka menu Natal , seharga Rp168.000++ dan Rp268.000++, bermodal resep Nenek.
Proses pendiaman bersama clarified butter ini mengudang penasaran femina. Rupanya tak hanya fruitcake yang lezat seiring waktu.
Stollen beraroma kayu manis dan kapulaga. Manisnya dari marzipan, manisan kulit jeruk, kismis, dan lemon. Sebagai isian, ada kacang-kacangan. Setelah dipanggang, roti langsung disiram clarified butter. Ini adalah mentega leleh yang didiamkan hingga mengeras. Lapisan lemak teratasnya dibuang, menghasilkan rasa mentega yang lebih ringan.
“Di rumah saya, Stollen akan didiamkan berhari-hari di luar ruang,” sambungnya lagi.
Kue ini biasanya dimakan sedikit demi sedikit. Agar tidak kering, roti dibungkus kain katun lembap selama penyimpanan. Kain kembali dibasahkan saat mengering.
Dengan teknik penyimpanan yang tepat, roti bisa bertahan hingga 4-6 bulan.
Catatan pertama memuat Stollen terdapat pada bon rumah sakit katolik, St. Bartholomew's di tahun 1474. Di masa puasa Adven, Stollen 'cuma' dibuat dari terigu, air, dan minyak. Mentega dilarang karena dipandang sebagai kenikmatan dunia, bersama-sama telur dan susu sapi.
Baru di 1490, larangan diangkat oleh Prince Elector Ernst dan Duke Albrecht III yang berkuasa di wilayah Medieval Saxony. Permohonan mereka sempat ditolak oleh Paus Nicholas V di Roma dan baru dikabulkan setelah empat Paus selanjutnya, yakni oleh Paus Innocent VIII. Surat pengabulan berjuluk “Butter-Letter memperbolehkan kalangan keluarga istana menggunakan mentega dalam pembuatan roti tanpa sanksi. Rakyat biasa diperbolehkan menggunakannya dengan syarat membayar 1/20 Gulden emas setiap tahunnya sebagai donasi pembangunan katedral Freiburg Minster.
Sejak 2008, Stollen versi wilayah Dresden (ibu kota negara bagian Sachsen, Jerman) dilindungi oleh undang-undang sebagai produk dengan indikasi geografis Dresden. Dresdner Christstollen dijual bersegel emas “Schutzverband Dresdner Stollen e. V”, yakni asosiasi Stollen setempat. Serta, hanya ada sekian bakery resmi penjual versi bersegel emas ini. (f)
Foto: Dok.Instagram InterContinental Jakarta
Baca juga:
Lagi Tren, Ini Bedanya Anggur Muscat dari Jepang
Setelah 20 Tahun, Dapur Cokelat Bercerita
Oat Mylk yang Lagi Hits di Jakarta
Trifitria Nuragustina


