Foto: shutterstockSiapa tak kenal jamu dengan segala khasiatnya? Masyarakat tradisional di berbagai daerah di Indonesia telah lama memanfaatkan alam untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan, di era modern ini, kepercayaan kekuatan dari alam masih tetap kental.
Nyaris tiap kebudayaan di Indonesia memiliki obat-obat tradisional, baik itu untuk menjaga kesehatan maupun kuratif. Beberapa juga memiliki fungsi rekreatif yang menenangkan maupun yang memabukkan. Beras kencur, kunyit asem, temulawak telah lama dikenal masyarakat Jawa. Pada masyarakat Betawi ada bir pletok, sementara di tanah Pasundan ada bandrek. Di luar yang dikenal luas, masih banyak lagi ramuan tradisional, diwariskan dari orang tua kepada anak, dari para tetua kepada orang muda yang dipercaya.
“Masyarakat sejak lama mengenal ramuan yang terbuat dari tumbuhan dan juga mungkin bagian tubuh hewan, yang kini disebut herbal. Bentuknya tidak selalu ramuan yang diminum, ada juga yang dikonsumsi dengan cara dimakan. Yang paling banyak dikenal adalah jamu, berasal dari tradisi Jawa. Dalam perkembangan kosakata, jamu menjadi konsep yang generik untuk mengacu pada semua ramuan herbal,” ujar Dr. Semiarto Aji Purwanto, dosen dan antropolog makanan dari Universitas Indonesia.
Meski jamu berasal dari Jawa, ada pelebaran makna sehingga kini dipakai tidak saja untuk kebudayan Jawa, tapi juga kebudayaan lain di Indonesia. Orang Jawa, Papua, Sumatra menggunakan istilah jamu untuk minuman yang memiliki khasiat kesehatan, walaupun mereka punya istilah lokal sendiri. “Tapi, untuk minuman yang memiliki fungsi rekreatif seperti tuak dan lain-lain, tidak disebut jamu,” ungkapnya.
Tak hanya ragam herbal yang digunakan dalam jamu yang eksotis, cerita di balik jamu pun unik. Pernah dengar jamu warisan raja-raja?
Ternyata, ragam jamu pun dipengaruhi oleh struktur masyarakat setempat. Sebagai contoh, dalam masyarakat Jawa yang mengenal struktur sosial bangsawan dan rakyat, yang seakan memiliki dunia berbeda, jamu lahir dengan ideologi yang berbeda.
Dalam pengamatan Semiarto, perangkat pengetahuan dalam menjaga kesehatan yang berkembang di keraton sering kali dianggap lebih paten, bagus, manjur, karena para bangsawan dianggap lebih berhak mendapat pelayanan yang lebih baik.
Jamu yang berkembang lebih pada perawatan diri dan memanjakan, berbeda dari kalangan rakyat di mana bekerja untuk hidup lebih dominan. Karena itu, jamu-jamu yang berkembang adalah yang terkait dengan menjaga fisik yang lebih kokoh dan kuat. Dalam hal kemanjuran, di sisi ini juga tidak kalah.
lanjutkan membaca laman berikutnya.
Topic
#jamu, #foodstory, #minumantradisional


