Food Story
Demi Cokelat, Tissa Aunilla Lepaskan Karier Pengacara

20 Mar 2020


Tissa menerangkan proses higienis pabriknya ke Raja dan Ratu Belanda.

 
“Kalau dulu tidak pindah haluan, mungkin sekarang masih duduk di meja kerja kantor pengacara,” ujar Tissa Aunilla, co-founder Pipiltin Cocoa.

Sebelum terjun ke dunia cokelat Indonesia, Tissa adalah seorang pengacara di salah satu firma hukum terbesar di Indonesia. Selama tujuh tahun ia membangun kariernya di bidang hukum. Namun, semuanya rela ia tinggalkan demi menggapai mimpi mengembangkan cokelat Indonesia.
           
Mulanya tercetus ketika Tissa yang gemar baking mengulik cokelat asal Swiss, Felchlin, kesukaannya. “Di sana tertulis bahwa biji cokelat yang digunakan berasal dari Jember,” kata Tissa.

Nyatanya, negara penghasil cokelat nomor satu di dunia menggunakan biji cokelat Indonesia, begitu juga dengan negara-negara penghasil cokelat premium lainnya. Ironisnya, saat itu Indonesia tidak memiliki brand cokelat premium lokal. Padahal, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai penghasil biji cokelat terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.
          

Peluncuran cokelat dari perkebunan Ransiki, Papua Barat, bersama BEKRAF.  (dok.Pipiltin Cocoa)
 
Sebenarnya, ketertarikan Tissa pada dunia makanan sudah dirasa sejak bangku SMA.

“Ingin bisnis makanan, tapi enggak berani bilang ke orang tua,” ujar Tissa. Maka, ia memilih jalur pendidikan dan pekerjaan yang konservatif untuk menenangkan hati orang tuanya.

Diakui Tissa, tindakannya waktu itu memang cukup nekat. “Tapi, nekatnya dengan perhitungan,” terang Tissa.

Saat itu permintaan pasar akan cokelat premium di Indonesia cukup besar, memang ada peluang bisnis baru yang cukup menjanjikan. Panggilan jiwa untuk ‘bekerja’ dengan cokelat sudah tidak terbendung, dan akhirnya Tissa mengakhiri zona nyaman dan karier menjanjikannya di firma hukum.

Butuh waktu tiga tahun untuk mempersiapkan bisnis ini. Mulai dari mengubah ruang tamu menjadi gudang, hingga mengambil sertifikat Master Chocolatier di Swiss. Prosesnya melalui banyak tahapan dan melelahkan.


Berbicara di Chocolate Expo 2019 di Jepang. (dok.Pipiltin Cocoa)

Tahun pertama dan kedua bukanlah waktu yang menyenangkan, terutama soal cash flow perusahaan. “Dulu uang gampang dicari, sekarang susah,” kenang Tissa. 

Penyesalan adalah hal yang dirasa Tissa wajar saat menghadapi keadaan yang susah. Namun, berkat kegigihannya dalam mempromosikan cokelat Indonesia, tanggapan positif muncul dari para konsumen, dan menjadi pemicu semangat untuk terus maju.
 
          
         Dok. Tissa Aunilla
Yang membuat Tissa jatuh cinta dan yakin dengan cokelat Indonesia adalah keragamannya.

“Aceh, Bali, Flores, hingga Papua. Tiap daerah memiliki taste yang berbeda,” terangnya.

Ia bahkan bekerja sama dengan Osaka University untuk meneliti kekayaan rasa cokelat Indonesia. Hasilnya sangat menggembirakan.

“Jika cokelat dari negara lain memiliki 1 hingga 2 kuadran rasa, cokelat Indonesia menyentuh 4 kuadran rasa dalam cokelat,” jelasnya.

Kekayaan dan kualitas premium cokelat Indonesia ini membuatnya bangga dan ingin memperkenalkannya pada dunia. Sebab, keberhasilannya dalam menaikkan angka penjualan cokelatnya juga merupakan kebahagiaan para petani yang memasok biji cokelat untuknya.
           
Dok. Tissa Aunilla
 
Tissa tidak menyangka bahwa jerih payahnya membangun bisnis cokelat premium akan menyentuh dan memberi perubahan besar pada kehidupan petani di pelosok Nusantara.

"Mulai dari membeli biji cokelat mereka dengan harga yang layak, hingga membuka kembali lahan pekerjaan ibu-ibu petani yang sempat terhenti di Papua,” terang Tissa.

Momen menyentuh bersama para petani kerap dijumpainya. Seperti saat Tissa memberikan cokelat Pipiltin buatannya kepada petani yang memasok biji cokelatnya. Itu adalah pertama kalinya para petani tersebut merasakan nikmatnya cokelat. Mengetahui produk yang dibuat dari biji cokelatnya, membuat para petani semangat untuk menghasilkan biji cokelat yang berkualitas. Bahkan, tumbuh keinginan di generasi penerus untuk sekolah memajukan pertanian mereka.

“Saat masih di firma hukum, ada rasa puas pada diri sendiri saat closing sebuah pekerjaan. Sekarang, uang yang didapat memang tidak sebanyak dulu, tapi rasa puas karena bisa membantu para petani  dan rasa bangga bisa berguna bagi orang lain adalah hal yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata,” ungkap Tissa. (f)
 
Baca Juga:


Topic

#FoodStory, #Cokelat, #PetaniCokelatIndonesia

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?