
Dok. TN/ lokasi: Pantry Magic Indonesia
Dunia sains selalu menarik perhatian Debryna sejak kecil.
Menjadi seorang dokter mantap ia utarakan kepada kedua orang tuanya saat ia harus melanjutkan pendidikan tinggi di usianya yang saat itu baru 16 tahun. “Kalau jadi dokter, kamu tidak bisa kaya raya", Debryna mengingat perkataan ayahnya yang waktu itu menentang keputusannya.
Menurut sang ayah, dokter yang benar-benar baik itu tidak akan bisa menjadi kaya. Walau demikian, Debryna tidak bergeming dan tetap menjalankan pilihannya.
Menjadi seorang dokter tidak mudah, apalagi pasien yang dihadapi adalah korban bencana atau dalam keadaan gawat darurat.
“Tingkat stresnya tinggi. Apalagi kalau pasien sudah mulai curhat dan mulai meminta bantuan yang lebih dari sekadar perawatan medis,” jelas Debryna. Sebagai dokter muda yang idealis, wajar jika keinginan untuk membantu pasien yang dalam kesusahan kerap muncul. “Tapi, jadinya baper dan kepikiran terus. Ini yang bikin tidak tenang,” ujarnya.

Dok. Debryana Dewi Lumanauw
“Waktu kecil, pengasuh saya, Mbak Mah, mengajarkan masak seolah-olah dia guru IPA,” katanya, mengenang. Teori di balik gula jawa dalam kelepon yang ‘meledak’ saat digigit begitu melekat di ingatannya. Cara mengajar Mbak Mah-lah yang membuatnya secara tidak sadar suka memasak
Hobinya mengulik resep mempertemukannya dengan sourdough bread, yang kini menjadi obat mujarab untuk mengatasi stres. Dalam seminggu, setidaknya dua hari ia harus membuat roti sourdough. Selain untuk menghilangkan stres, juga untuk menjaga skill-nya supaya tidak luntur. Seluruh proses pembuatan roti sourdough begitu menarik di mata Debryna. Sebab, hanya roti ini yang bisa menyalurkan kecanduannya pada sains.
“Sourdough seperti kanvas sains buat saya,” ujar penyuka selam ini.
Dok. Debryana Dewi Lumanauw
Tidak mudah membuatnya. Namun, ia berhasil menguasainya hanya dengan berguru pada YouTube, Instagram, dan jurnal ilmiah tentang pembuatan sourdough.
Dulu, dari 10 roti yang dibuat, hanya 1 yang berhasil. Sekarang, 1 yang tidak berhasil, atau berhasil semua.
Kini, ia disebut-sebut sebagai pakar sourdough bread di Indonesia. Namun, Debryna mengaku ia pun masih dalam proses belajar. Menurutnya, seorang pembuat roti sourdough yang baik adalah yang bisa mengontrol jutaan bakteri dan jamur di dalam adonannya.
Debryna sangat menikmati seluruh langkah pembuatannya. Proses melipat (folding) adonan adalah yang paling adiktif. Ada 2 teknik dalam melipat adonannya. Yang pertama dengan cara dibanting, yang kedua dilipat dengan lembut.
“Saya penganut yang serba gentle,” ujarnya, berkelakar. Proses ini begitu menyenangkan. Para murid yang belajar membuat roti dengannya juga sependapat bahwa proses ini sangat meditative. Yang paling mendebarkan adalah saat roti dibelah dan menyaksikan lubang-lubang dalam roti terbentuk sempurna. Ini tandanya si pembuat sourdough berhasil ‘merawat’ para bakteri.
“Rasanya senang banget,” kata Debryna.
Dok. Debryana Dewi Lumanauw
Sekarang, ia membuka pre-order agar rotinya sudah ada pemiliknya. Dengan oven rumahannya, Debryna bisa membuat 12 buah roti dalam sehari. Pengalaman membuat sourdough secara tidak langsung turut mengajarkannya untuk berkata, “Ya, sudah,” pada situasi yang tidak menyenangkan.
Dulu, ia merasa sebal saat menjumpai rotinya tak berlubang. Sekarang, ia melihat kegagalan adalah sebuah proses yang wajar dalam kehidupan.
Sourdough bread juga mengenalkannya pada dunia kuliner.
“Om William Wongso yang mendorong saya untuk tetap membuat roti,” ujarnya.
Bertemu dengan teman baru dan mengikuti kegiatan berbagai komunitas kuliner membuat matanya terbuka, bahwa membantu orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara, tidak hanya dengan profesi yang ia jalankan. Menjalani hidup yang seimbang menjadi prinsip Debryna.
Saat ini, profesinya sebagai dokter, sourdough, dan free diving adalah tiga hal yang membuatnya bahagia.
Baca Juga:
Awal Mula Kikunae Ikeda Menemukan Umami
Alternatif Susu Untuk Para Lactose Intolerance
Topic
#Sourdough, #FoodStory, #Bread


