Fiction
Rumah dari Masa Kecil

25 Apr 2016


Jauh di dalam hatiku, bagiku rumah adalah rumah joglo simbahku, tempatku lahir dan dibesarkan. Di longkangan  Ibu dan Simbah  menjemur pakaian dan, jika musim panen tiba, berkarung-karung padi. Saat ada acara kumpul-kumpul di pendapa  malam-malam, aku ikut duduk dekat Bapak dan tidur di tepi pendapa dekat longkangan yang terbuka itu. Bayang-bayang pohon di luar rumah bergoyang-goyang, terlihat seram-seram menggoda.
Tapi, bagian yang paling seram adalah senthong . Ada dua gentong besar-besar di dalamnya. Kadang kudapati ada menyan yang mengepul beserta bunga-bungaan. Namun, bukan itu yang membuatku merasa seram sendiri, melainkan ... rambut palsu simbahku. Entah kenapa, Simbah menaruh cemara  itu di dekat pintu senthong. Cahaya rumah yang remang-remang memicu imajinasi tentang kepala atau bagian tubuh lain yang tak kelihatan. Jauh-jauh hari kemudian setelah aku dewasa, segala jenis rambut palsu selalu hadir dengan imajinasi dari kegelapan itu. Bahkan pun jika berupa wig-wig yang dijual di trotoar jalan pada siang hari terang-benderang.

Pada lingkungan yang seperti itu, pertanyaan-pertanyaan masa kanak-kanak yang belum terungkapkan secara verbal itu pun berkecambah. Apalagi, anak desa dekat dengan alam. Kami menelusuri kali bertelanjang kaki, memanjat pohon talok, mengumpulkan buah asam dan jambu monyet di bukit seberang sawah. Ketika berjalan-jalan pada hamparan pasir di tepi sungai, kami memunguti segala rupa benda yang menarik hati. Kulit kerang, bebatuan, keping-keping pecahan genteng yang terikut sungai, dan apa yang kusebut ‘sampah kota’. Bungkus keripik ber-MSG, plastik detergen, roda mobil-mobilan, tutup botol sirop, tutup kaleng soda. Sambil memunguti dan memasukkannya ke dalam kantong baju, diam-diam kubayangkan orang seperti apa yang makan keripik itu, apakah di pekarangan rumahnya ada pohon sawo seperti di rumah simbahku, apakah ia suka makan jambu monyet dengan garam, apakah ia pernah naik angsa-angsaan di kebun binatang. Dan,  tiap kali menemukan cup agar-agar yang agak besar, aku selalu teringat pada seorang sepupuku yang tinggal di kota. Suatu ketika ia datang berkunjung ke rumah Simbah. Sama sekali ia tidak menyapaku. Sambil berdiri memeluk tiang pendapa, ia menyendokkan agar-agar warna oranye sesuap-sesuap ke dalam mulutnya. Bahkan ketika ia membuka bungkus yang kedua, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Aku hanya menatap sambil menahan rasa penasaran.
Sepupu-sepupuku yang tinggal di kota tidak meninggalkan kesan yang terlalu baik bagi keluargaku. Kalau tidak bersikap dingin, maka mereka bercanda dengan cara yang dianggap kasar menurut ukuran orang desa di selatan Jawa yang terbiasa oleh watak yang menahan diri. Kata Bapak, ”Anak kota kalau di pinggiran, ya, seperti itu. Tak tahu tata krama.” Lebih seperti membela caranya sendiri dalam mengasuh anak, meskipun ia orang desa.

Sayangnya, ketika aku duduk di pertengahan sekolah dasar, keluarga kami harus pindah ke kota karena ayahku harus pindah kerja.
Semenjak itu hidupku tak lagi sama.
Kota membuatku gagap. Jalanan kota yang lalu-lalang, deretan pertokoan dengan jajaran etalase, gang-gang sempit, got-got bau, semuanya hadir memberi irama kehidupan yang terus berdenyut, bahkan hingga malam telah larut. Segala hal terasa baru, cepat, dan bising.

Yang jelas membuatku gagap adalah: bahasa. Aku yang berbahasa Jawa sedari kecil mengenal  bahasa Indonesia sebagai bahasa di buku pelajaran dan televisi. Menggunakannya secara aktif membuatku tak siap. Kata-kata seperti menempel malu-malu pada ujung lidah. Ada bahasa Jawa pun sering kali kurang karib di telingaku. Misalnya, kebiasaan Kak Sandra anak ketua RT yang mengucapkan d pada kata dimamah dengan d menurut pengucapan bahasa Indonesia . Lama-lama terbiasa tetapi pada awalnya terdengar ganjil, seperti ada sesuatu yang hilang. Fonem d-nya itu seperti dengan percaya diri migrasi ke kota, mengikuti lidah tuannya.
Namun, mau tak mau aku harus beradaptasi dan belajar memfasihkan bahasa Indonesia pada lidahku. Kuamati teman-teman sekolah yang mengucapkan kata-kata dengan pelafalan dan intonasi yang terdengar renyah. Seperti suara-suara pengisi acara di televisi.
Pada suatu hari di tengah proses adaptasi ini terjadilah sesuatu yang mengubah hidupku.


    “DITA, BURUAN KE LAPANGAN, YUK. Ntar habis olahraga kita jajan siomay bareng, ya,” kata Intan, temanku. Aku buru-buru melepas seragam sekolah yang melapisi pakaian olahraga di dalamnya. Hari itu aku datang agak terlambat.
    “Ya, aku mau,” kataku, yang tak punya stok kata-kata, ragu harus menambahi apa.
    Kami pun keluar menuju lapangan. Guru menyampaikan pagi itu kami harus berlari melewati jalanan kampung yang mengelilingi sekolah. Ia menerangkan rute yang harus dilalui dan memberikan peringatan agar berhati-hati. Tak lama anak-anak laki-laki segera berebutan ingin berada di paling depan. Anak-anak perempuan, terutama yang hanya ingin bisa berkumpul dan mengobrol dengan satu sama lain, berlari pelan-pelan di belakang.
    Dari belakang guru olahraga kami menegur dengan agak genit, “Eh, apa ini. Ibu-ibu malah pada arisan. Ayo, lari yang bener. Biar sehat. Lari, lari!”
    Kami pun mempercepat lari kami, menyusul guru yang sudah berada di depan mendahului. Jalan aspal yang mulus lama-lama beralih jalanan berlubang yang menyembulkan batu-batuan. Tiba-tiba….
    BRUK! Temanku Fani yang berada di depanku terjatuh. Ia menjerit dan meringis kesakitan. Lututnya berdarah dan ada sobekan luka yang cukup lebar. Teman-teman yang berada tak jauh dari situ segera mendekat.
    “Fani kamu kenapa? Kamu enggak papa?”
    Kata-kata yang kudengar dari mulutnya adalah jawaban yang tidak kusangka.
    “Sakit. Didorong Dita.”
    Segera saja wajahku pucat. Tanganku gemetar dan dingin. Pikiranku sibuk mempertanyakan ingatanku sendiri. Aku tadi ngapain? Posisiku di mana? Ya, aku di belakang Fani. Jadi, mungkin saja aku yang mendorongnya. Tapi, kenapa aku tidak yakin? Tapi, kalau memang aku mendorongnya, ceroboh sekali aku ini.
    Melihat kesakitannya itu, bukannya  membela diri, aku hanya diam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Mataku tak berani menatap siapa-siapa. Bahkan aku tak menyadari saat guru kami yang disusul seorang teman kami telah sampai di situ. Segera saja Fani dibopong oleh guru kembali ke sekolah.
    Dingin dan gemetar di tanganku tak juga menghilang. Komentar teman-temanku hanya membuatku kian cemas. Mulai dari yang netral: “Sakit banget pasti kayak gitu, ya,” hingga yang menjurus, “Makanya mau deket-deket siapa itu harus pilih-pilih.”
    Guru mengumpulkan kami di kelas. Ia bicara panjang lebar, mulai dari keadaan Fani yang sudah dibawa ke klinik terdekat, hingga nasihat agar kami lebih berhati-hati. Lalu pada bagian akhir ceramah ia menekankan hal ini: “Dan jangan berbuat jahat pada teman kalian, ya. Kalau lari tidak usah pakai dorong-dorongan.”

    Hingga sekolah hari itu berakhir, aku duduk dengan tegang. Perutku mulas, kepalaku pening. Pertama kalinya dalam hidupku aku merasa telah berbuat jahat.
    Ketika dua hari kemudian kami menengok Fani di rumahnya, rasa tegang itu tak juga sirna. Aku mengulurkan tangan sambil berucap maaf dan semoga ia lekas sembuh. Ada sedikit rasa takut pada wajah Fani ketika menatapku. Rasa takutnya itu membuat rasa bersalahku makin menjadi.
    Sejak peristiwa itu, hampir semua teman di kelas menjauhiku. Saat aku mendekati beberapa anak yang tengah mengobrol, tiba-tiba saja pembicaraan mereka berhenti. Ketika aku pergi, mereka melanjutkan pembicaraan mereka kembali.
    Aku merasa gagap, aku seperti kehilangan kata-kata. Sopan santun dari desa di Jawa itu tidak mengajariku untuk bersuara. Di sekolah aku menjadi penyendiri dan  makin banyak diam. Di rumah aku juga makin diam. Kadang-kadang kusampaikan pada Ibu, aku ingin pulang kembali ke desa. Bahkan segala rupa hantu dan makhluk halus dari kegelapan tidak membuatku setakut itu.

Di balik diamku itu, pikiranku berkecamuk. Ada berbagai ketakutan dan kecemasan yang tak kutemukan jalan keluarnya. Pada usia sebelia itu aku dipaksa untuk menyadari: di duniaku ini suara banyak orang selalu menang, meski suara itu tak selalu benar.
    Dunia yang mendadak menakutkan itu terus berlanjut hingga jauh-jauh hari. Kecemasan-kecemasan terekam kuat di otakku. Pada tahun-tahun kehidupanku selanjutnya depresi itu menjadi sering terpicu. Aku jatuh lagi dan lagi. Banyak hal dalam hidupku yang tak selesai. Kuliahku tidak kelar, membuatku jadi defensif pada semua orang dan terutama merasa bersalah pada Bapak dan Ibu.
    Ketika aku mencoba merunut kembali kekacauan hidupku ini, aku ingat: aku tidak mendorong anak itu. Pasti raut muka takut ketika aku berkunjung itu adalah bentuk rasa bersalahnya padaku. Pasti. Aku marah. Pada hari itu, sesungguhnya akulah yang menjadi korban. Luka tubuhnya terasa sakit sebentar, lalu tak lama segera sembuh. Luka di jiwaku masih terasa nyeri bahkan setelah bertahun-tahun. Aku marah. Aku marah akan sikapnya yang pengecut, bersembunyi sebagai korban. Aku marah pada guruku yang buru-buru menjatuhkan tuduhan. Dan terutama aku marah pada diriku sendiri yang tidak membela diri.
    Ketika kutelusuri, entah untuk apa, ternyata keluarga Fani sudah pindah entah ke mana bertahun-tahun lalu dari kontrakan itu. Mereka seperti jutaan manusia lain di kota ini, seperti selalu sementara, mengapung-apung, selalu asing.


    PADA AKHIRNYA, aku memutuskan untuk menata kembali hidupku. Bosan menganggur, aku melamar kerja sebagai operator taksi. Sebenarnya usiaku sudah melampaui batas usia yang disyaratkan. Tapi, sepertinya mereka cukup terkesan saat aku mengoreksi tata bahasa dalam soal tertulis bahasa Inggris. Aku tahu mungkin ini tidak sopan. Entah kenapa, dengan sedih aku menyadari ternyata perlahan-lahan kesungkanan desa itu  makin pudar dari diriku. Aku  makin larut dalam irama kota, kefasihan lidah kota, meski diam-diam hatiku menanggung rindu pada rumah masa kecil yang jauh.

    MULAI BANYAK JALANAN DESA yang beraspal. Rumah-rumah ditegel keramik, diisi berbagai perabot elektronik, dibangun dengan cita-rasa kota. Hamparan pasir di tepi sungai yang pada masa kecilku sangat lebar itu kini telah menghilang, bertahun-tahun dikeruk dan diangkut truk-truk entah menuju kota mana, entah untuk membangun gedung di mana. Tapi, bunga widuri di tepi sawah itu masih sama menggelembungnya seperti dulu, masih sama meletusnya saat kutekan di antara jariku.
Aku sudah dua hari berada di rumah Simbah. Sepanjang perjalanan hatiku gelisah tak sabar. Anehnya, begitu sampai, aku menyadari bahwa rumah masa kecil itu selamanya berada di tempat yang jauh. Meski secara jasmani aku berada di sana, ada rentang waktu yang telah memisahkan antara aku masa kini dan Amandita kecil bertahun-tahun lalu. Ada jarak kesadaran, luka, dan kesedihan. Aku menyadari rasa rindu terhadap rumah masa kecil itu tak akan pernah selesai dan harus selamanya kutanggung.
Aku masih menekan-nekan bunga widuri di tanganku ketika kudengar suara seorang anak menangis. Ia mengenakan seragam pramuka yang tampak kedodoran. Tas Barbie warna pink berguncang-guncang di punggungnya. Aku mendekat.
“Adik kenapa?”
“Aku salah seragam. Harusnya pakai seragam batik. Huuu... huuu... Tapi malah tadi pagi dicuci sama Eyang,” ia menjawab sambil tersedu-sedu.
“Enggak apa-apa, kok. Sementara pakai pramuka dulu. Kalo pake yang basah, kamu bisa sakit, lho.”
“Tapi takut dimarahi Bu Guru, soalnya seragamnya salah.”
“Tidak apa-apa. Ayo, saya antar ke sekolah. Nanti biar saya tulis surat buat bu gurumu.”
Aku menggandeng anak perempuan yang bernama Laras itu ke sekolah. Sepanjang jalan ia masih tersedu-sedu, membuat teman-teman menoleh padanya. Kelas masih sepi. Aku memutuskan untuk menulis surat kepada gurunya, menerangkan masalah yang terjadi. Baru saja kertas selesai kulipat ketika tiba-tiba laki-laki paruh baya yang kukenali sebagai Kadus di kampung itu, masuk dan marah-marah pada anak perempuan yang kutemani itu.

“Dasar anak nakal. Kerjaannya nangis saja. Sudah diam! Kamu bikin cucuku jadi ikut-ikutan nangis.”
“Menurut saya tidak nakal. Tadi cuma bingung karena salah seragam, Pak,” aku mencoba menjelaskan.
“Laras ini sudah pasti nakal. Nakal, ya, nakal. Sudah dikenal di kampung ini. Ibunya lari dengan laki-laki yang tak jelas.”
Aku hampir tak menyadari suaraku sendiri ketika berkata dengan suara lebih keras, “Tidak ada anak yang nakal. Semua anak itu baik. Orang tua yang kebanyakan gagal mengerti.”

Orang itu melengos, ”Nakal, ya, nakal. Sudah susah diperbaiki.” Lalu kepada anak itu, ia berkata, “Awas kalau besok nangis-nangis lagi.” Masih dengan bergumam sendiri, orang itu keluar ruangan.
Aku menarik napas panjang. Surat kutitipkan pada Laras yang sudah berhenti menangis beberapa saat yang lalu dan sudah bisa tersenyum. Kutepuk pelan punggungnya sambil berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang mataku berkaca-kaca. Pertama kalinya setelah sekian lama aku merasa lega. Sesungguhnya yang kulakukan tadi adalah membela diriku sendiri, Amandita kecil di dalam sana.


***
Desi Noviyanti

Pemenang II Sayembara Cerpen Femina 2015