Fiction
Rambu Solo’

30 Apr 2016


JANTUNG Ayah telah berhenti berdetak. Tubuhnya kaku serupa patung kayu di kubur batu. Dari hari ke hari, ia bersemayam di dalam peti mati, menanti upacara Rambu Solo’.
    Sebulan setelah Ayah menderita sakit yang tidak tersembuhkan itu, ibu kandungku memutuskan untuk menjadi TKW di Arab Saudi. Ibu tiriku tidak setuju. Perang mulut pun tidak terhindarkan.  
    “Mengapa harus ke negeri orang untuk mencari dalle, Rante?” tanya ibu tiriku suatu pagi, menjelang hari keberangkatan ibu kandungku.
    “Di sana, saya bisa mendapatkan banyak uang, Eppi!” jawab ibu kandungku dengan nada ketus.  
    “Ambe Raiya masih sakit. Kita wajib merawatnya,” balas ibu tiriku, sinis.          
    “Rambu Solo’ juga penting. Mana mungkin kita bisa mengumpulkan dana dengan hanya berjualan kain sarita?” jelas ibu kandungku, meradang.
    Bagi kedua ibuku, tidak ada hari tanpa perang mulut. Satu kalimat yang terlontar dari mulut ibu tiriku akan dibalas ibu kandungku dengan rentetan pidato pedas. Sebelum lelah, tidak akan ada yang mengalah.
    Sementara itu, aku melangkah menuju sumbung, tempat to makula Ayah disemayamkan. Di tanganku terletak sebuah nampan kayu berukir pa’ kapu baka, simbol persatuan satu rumpun keluarga Toraja. Di ruangan ini, aroma kematian melimpah ruah. Membuat tubuhku menggigil dijaring pilu. Sebatang rokok dari nampan yang kupegang, jatuh ke lantai. Air minum di cangkir dari bambu betung, berkecipak dan menetesi sarapan pagi untuk Ayah.
    “Selamat pagi, Ambe,” sapaku setelah menaruh nampan berisi sarapan Ayah di lantai sumbung. “Apa kabar Ambe pagi ini?”
    Di lantai sumbung, sarapan pagi untuk Ayah sehari yang lalu --beserta makan siang dan makan malamnya-- telah basi dan tak tersentuh. Di dapur, perang mulut antara kedua ibuku terus berlangsung. Perang mulut itu terus berlanjut di hari-hari berikutnya, hingga ibu kandungku terbang ke Arab Saudi.    


    AYAHKU MEMILIKI DARAH tana’ bulaan, bangsawan tinggi Toraja. Telah menjadi tradisi agar upacara Rambu Solo’ keturunan tana’ bulaan diselenggarakan secara besar-besaran bagaikan pesta. Tedong bonga yang berharga ratusan juta, menjadi syarat utamanya. Orang Toraja percaya, tedong bonga akan menjadi kendaraan dan bekal menuju puya. Makin banyak tedong bonga, kedudukan arwah Ayah di puya akan  makin agung. Arwah Ayah bisa diangkat Deata menjadi To Membali Puang. Ia akan sejajar dengan para leluhur. Dengan demikian, arwah Ayah akan melindungi dan mengabulkan doa-doa kami.
    Sayangnya, usaha untuk menyelenggarakan Rambu Solo’ bagi Ayah terasa bagaikan menggantang asap. Setelah lulus kuliah dan bekerja di kota, kakak-kakak kandungku meninggalkan ajaran aluk. Mereka lupa kampung halaman dan tidak bersedia mengumpulkan dana Rambu Solo’ bagi Ayah. Tinggallah aku dan kedua ibuku yang memikul beban. Berulang kali sepupuku, Duma’, mengabarkan bahwa orang tuanya berniat memberi sumbangan dana.
    “Ambe dan Indo-ku memberi sumbangan dana untuk Rambu Solo’ bagi Kakek,” tutur Duma’. “Mereka juga ingin memberi sumbangan dana untuk Rambu Solo’ ambe-mu. Sesama satu keluarga tentu harus saling menolong, bukan?”
    Aneh! Meskipun selalu ribut, kedua ibuku sepakat menolak sumbangan dana tersebut. “Mereka memberi utang!” jelas ibu kandungku, ketus.  
    “Bila mereka menyelenggarakan Rambu Solo’ pula, kita harus kembalikan sumbangan itu,” tambah ibu tiriku, geram.    


    DULU, ibu tiriku pernah sekali mengandung. Janin di rahimnya itu  gugur sebelum dilahirkan. Tidak heran, ia menganggap diriku sebagai putri kandungnya sendiri. Kami pun bersama-sama merawat to makula Ayah.
    Sejak kepergian ibu kandungku ke Arab Saudi, ibu tiriku menjadi orang tua tunggal. Ia bekerja keras mencari nafkah, menyekolahkan aku, dan menabung untuk biaya kuliahku. Untuk itu, ibu tiriku membatik kain sarita dari subuh sampai pagi buta. Dalam keadaan masih mengantuk, ia memikul lipatan-lipatan kain sarita menuju pasar dan destinasi wisata di Tana Toraja: Kete Kesu, Batutumonga, Sa’dan, Rantepao, Enrekang, atau Makale. Tak jarang pula, ia menjajakan kain sarita di kompleks kuburan batu Lo’komata dan kambira. Sering kali, ia tidak pulang berhari-hari, lalu membawa bertumpuk-tumpuk uang dolar dan rupiah.
    “Dunia ini tidak ramah bagi perempuan, Raiya,” nasihat ibu tiriku,  tiap kali aku malas belajar. “Karena itulah, kamu harus berpendidikan tinggi dan mandiri. Agar kamu bisa membela kehormatanmu, tidak senasib denganku.”  
    Dari tahun ke tahun, usaha kain sarita yang dirintis ibu tiriku berkembang pesat. Berkat bantuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, ibu tiriku bisa mempekerjakan puluhan orang untuk membatik kain sarita. Kain sarita yang dulu hanya terjual di Tana Toraja, kini menyebar ke Pulau Jawa, hingga Eropa dan Amerika. Ibu tiriku telah berpameran kain sarita di Jakarta, Paris, Milan, San Francisco, dan puluhan kota besar lainnya. Tongkonan kami yang semulanya sunyi dan diselimuti duka, telah ramai dengan perempuan yang membatik kain sarita.
    Sesungguhnya, aku bangga pada ibu tiriku. Tapi, ia mengaturku ini-itu. Bahkan, setelah aku kuliah di Makassar, ibu tiriku tetap mencengkeramku seperti merpati piaraan. Ia tidak segan-segan mendatangi tempat kos dan kampusku. Ia memastikan diriku benar-benar belajar, tidak buang waktu untuk pacaran atau jalan-jalan di mal. Selain itu, ibu tiriku tetap mempertahankan kehidupan yang penuh prihatin. Meskipun telah sukses menjadi pengusaha dan menjadi miliarder, ibu tiriku tetap perhitungan soal uang. Akibatnya, di kampungku, beredar gosip bahwa kami adalah orang paling kikir sedunia. Membuat telingaku merah dan hatiku memeram bara marah.
    Sayangnya, sejak berangkat ke Arab Saudi, ibu kandungku bagaikan batu yang jatuh ke danau, hilang tanpa menyisakan jejak dan berita. Telah sebelas tahun berlalu, tapi sepucuk surat pun tidak kuterima darinya. Aku sungguh merindukannya. Bila ibu kandungku di sisiku, ia tentu membelaku dari perlakuan ibu tiriku.


    PADA PENYELENGGARAAN Ma’palao dalam Rambu Solo’ bagi Kakek, bara kemarahan yang bersarang di hatiku, menemukan celah dan melimpah ruah.
    “Kalian memang kikir, Raiya!” teriak sepupuku, Duma’, sambil mengunyah sirih. “Sudah kaya raya, tapi satu ekor tedong bonga pun tidak kalian sumbangkan untuk Rambu Solo’ Kakek.”      
    “Kami harus berhemat, Duma’!” sahutku kesal. Ibu tiriku yang berulah, tapi aku terkena getahnya. “Kami harus mengumpulkan Rambu Solo’ bagi Ambe.”
    “Untuk apa berhemat bila mendatangkan malu?” balas Duma’, sambil terus mengunyah sirih. “Lagi pula, sumbangan tidak akan menjadi abu. Kita berhak mendapat warisan Kakek sebesar sumbangan yang diberikan.”  
    Seisi kampung pun tahu muslihat orang tua Duma’. Mereka berutang miliaran rupiah kepada lintah darat, sehingga mereka bisa membeli dua ratus ekor tedong bonga yang disumbangkan dalam Rambu Solo’ bagi Kakek. Mereka tengah mengincar tanah milik Kakek di Bori dan Londa, sebagai imbalan sumbangan itu. Konon, di sana terkandung emas. Semasa Kakek hidup, banyak pengusaha tambang yang ingin membelinya dengan harga miliaran rupiah sampai triliunan. Tapi, Kakek selalu menolaknya. Sebab, di sana tersebar kubur batu para leluhur.
    “Kini, seluruh orang kampung tahu, kalian kikir!” seru Duma’, menyentakku dari lamunan. Lalu Duma’ meludahi wajahku dengan air liur sewarna merah kesumba. Kesabaranku hangus sudah. Dalam sekejap, kami bergumul dan memutuskan iring-iringan Ma’palao menuju kubur batu. Perempuan-perempuan menjerit kaget. Kain panjang berwarna merah yang dipegang para pengiring Ma’palao, jatuh ke tanah. Aku dan Duma’ terus baku hantam, hingga ibu tiriku meraih tanganku. Lalu  ia menyeretku menjauhi iring-iringan Ma’palao.
    “Kamu membuatku kecewa!” desisku sambil melepaskan tanganku dari cengkeraman ibu tiriku. “Semua orang tahu kita kaya raya, tapi satu tedong bonga pun tidak kamu sumbangkan untuk Rambu Solo’ Kakek.”
    Sambil mengentakkan kaki, aku berlari menuju tongkonan. Aku ingin segera memeluk Ayah dan melabuhkan kesedihanku di tubuhnya yang tak lagi bernyawa. Tapi, sebelum naik ke tongkonan, mataku dipaku selembar koran nasional yang menggantung di anak tangga. Pada halaman depan, terpampang judul besar yang mencatut nama ibu kandungku. Di bawah judul besar itu, mencuat pula foto ibu kandungku dengan tangan terbelenggu.
    “Indo-mu hanya melindungi diri dari majikan yang terus menidurinya dengan paksa,” tutur ibu tiriku sambil melangkah menujuku. “Kini, ia mendekam di penjara Arab Saudi dan terancam hukuman pancung.”
    “Apa?” desisku tak percaya. Ingin kubantah pernyataan ibu tiriku, tapi berita di koran nasional itu  malah membenarkannya.
    “Seluruh tabungan kita telah saya kirimkan untuk membebaskannya,” tambah ibu tiriku. “Indo-mu akan bebas. Bulan depan, Indo-mu akan kembali ke Tana Toraja. Tapi, kita kembali miskin. Butuh sebelas tahun lagi untuk mengumpulkan dana penyelenggaraan Rambu Solo’ bagi ambe-mu.”    
    “Mengapa kamu menolong indo-ku?” tanyaku dengan bibir gemetar. Sulit untuk kumengerti: ibu tiriku menolong ibu kandungku. Padahal, selama ini  mereka bagaikan anjing dan kucing, sering ribut  tiap bertemu.
    “Karena saya pernah mengalami pengalaman yang tidak jauh berbeda, Lai’ Raiya,” jawab ibu tiriku. “Ketika saya seusia dirimu, kekasih saya menodai dan meninggalkan saya dalam keadaan hamil. Untunglah ambe-mu menikahi saya untuk menyelamatkan saya dari tuduhan pemali mapangngan buni’.”
    Angin sedingin es berembus dan mengecup seluruh pori-pori tubuhku. Tiba-tiba, bumi terasa berguncang. Aku merasa gamang. Sebelum tubuhku tumbang, ibu tiriku merengkuh dan mendekapku. Tangisku pecah di kehangatan dadanya yang selama ini kujauhi.
    “Dunia ini tidak ramah bagi perempuan, Lai’ Raiya,” tutur ibu tiriku sambil membelai rambutku yang kusut masai. “Karena itulah, kamu harus berpendidikan tinggi dan mandiri. Agar kamu bisa membela kehormatanmu, tidak senasib denganku dan ibu kandungmu.”
    “Indo,” bisikku parau. Seumur hidup, baru hari ini aku memanggil ibu tiriku ‘Indo’. (f)


Catatan:

Indo:  Ibu
Ambe: Ayah
To makula: Jenazah yang belum diupacarakan, masih dianggap ‘orang sakit’.
Rambu Solo’: Upacara pemakaman dalam adat Toraja.
Sarita: Dikenal sebagai batik Toraja dan dipercaya dibawa leluhur Tana Toraja dari surga.
Tongkonan: Rumah adat orang Toraja.
Deata: Dewa.
Kambira: Kuburan bayi di dalam lubang-lubang di pohon.
Sumbung: Bagian belakang tongkonan tempat menyimpan mayat.
Aluk: Adat.
Puya: Surga/alam baka.
Pemali mapangngan buni: Larangan berzina.
Lai’:  Nak (untuk perempuan).
Ma’palao:  Mengusung jenazah ke pemakaman.
Tedong bonga: Kerbau belang putih yang dianggap sakral. Harganya ratusan juta rupiah.  

TENTANG PENULIS
Sulfiza Ariska (31), Mahasiswa, Yogyakarta
    Tiap tahun, banyak peserta sayembara fiksi femina mengangkat seluk-beluk upacara adat sebagai latar belakang cerita. Salah satunya, Rambu Solo’ yang menarik perhatian dewan juri. Sulfiza mempelajari budaya Toraja dan prosesi Rambu Solo’ sejak tahun 2013.
    Selain cara mengenal tradisi, kisah ibu dan anak yang universal dirangkai dengan daya kejut di akhir cerita. Ide tentang ibu tiri yang selalu jahat juga direkonstruksi ulang dalam cerpen ini. “Padahal, ibu kandung kan  juga ada yang jahat. Tiap manusia berpotensi berbuat jahat, dan tidak terbatas pada siapa pun,” tegas Sulfiza. Ia juga melihat adanya pergeseran dalam budaya masyarakat Toraja. Dulu menjalankan prosesi Rambu Solo’ dianggap kemuliaan bagi keluarga, sekarang banyak hal yang dipertimbangkan ulang oleh sebuah keluarga sebelum menjalankan tradisi itu.
Ia juga berharap, dengan mengangkat kearifan lokal dalam fiksi, seperti kain sarita (kain serupa batik yang dilukis dengan kuas bambu di Toraja), dapat membantu melestarikan wastra yang hampir punah itu.


***
Sulfiza Ariska

Pemenang III Sayembara Cerpen Femina 2015