Fiction
Gado-gado: Recehan

2 Jan 2019


ilustrasi: tania.
 
Uang satu miliar, kalau kurang seratus rupiah, juga tidak jadi satu miliar. Memang, jadinya Rp999.999.900. Ungkapan ini menggambarkan bahwa uang sekecil apa pun tetaplah berharga. Namun, banyak orang memandang sebelah mata uang receh.
 
Uang receh ini memang terkadang membebani juga. Makin banyak terkumpul di dompet, makin berat membawanya. Bikin repot, terutama buat kaum pria. Suami saya selalu mengeluarkan recehan dari dompetnya dan ditaruh sembarangan di atas meja.
 
Kadang-kadang kalau sedang ‘insaf ’, uang receh itu dibereskan dan ditampung di kaleng biskuit atau botol mineral. Kesannya, dia pria yang sangat rajin menabung. Ya, saya sempat kagum saat awal-awal menikah dulu. Lama-kelamaan saya baru ngeh, itu bukan karena dia rajin menabung, tapi cuma karena malas saja bawa uang receh di dompet.
 
Kemudian, ‘tabungan’ recehan itu diapakan? Pertanyaan yang bagus. Suami saya, tentu saja tidak terlalu peduli. Yang harus menyelesaikan persoalan ini adalah saya. Jadi, saya  kelompokkan berdasarkan besar pecahannya.
 
Uang logam seribuan dan lima ratusan biasanya saya biarkan loose, untuk dibawa saat belanja di pasar atau minimarket. Sedangkan uang pecahan seratus dan dua ratus rupiah, saya selotip membentuk gelondongan bernilai Rp1.000. Gelondongan ini ampuh buat bayar angkot atau ojek.
 
Kalau misalnya bayar angkot Rp3.000, saya mengeluarkan tiga gelondong uang recehan seratus atau dua ratus rupiah. Kalau naik ojek, misalnya harus bayar Rp8.000, maka saya memberikan selembar uang Rp5.000 dan tiga gelondong uang recehan.
 
Bergaul dengan recehan bukan hal yang baru buat saya. Nenek saya seorang pedagang jajanan di sekolah. Saya sering disuruh membantu menghitung recehan yang diperoleh dari pembeli-pembeli cilik itu. Saya melakukannya dengan gembira karena menganggap bahwa itu uang saya sendiri. Namanya juga anak kecil….
 
Kata nenek saya, kegemaran saya menghitung uang cocok banget dengan gambaran saya waktu masih bayi ketika upacara tedak siten (menginjak tanah). Kata Nenek, saya memilih uang. Oalah, berarti saya dari bayi udah matre, dong, ya, ha… ha… ha….
 
Ndilalah, waktu lulus kuliah, saya dapat pekerjaan di bank sebagai teller. Makin seringlah saya berurusan dengan uang receh. Tapi, kalau sudah menjadi pekerjaan, menghitung recehan tidak terlalu menggembirakan. Jatuhnya jadi sebel. Ada nasabah saya, seorang pedagang, setor recehan satu kresek, campur baur antara lembaran seribu dan uang receh berbagai pecahan. Kebayang, ‘kan.
 
Awalnya saya hitung dengan sabar dan memproses transaksinya. Lama kelamaan saya baru ngeh, setelah uangnya masuk di saldo tabungan, ia menarik kembali uangnya lewat ATM di depan kantor saya! Ia pun melenggang dengan uang lembaran  seratus ribu dan lima puluh ribu yang masih baru dan wangi. Ngerjain banget kan itu namanya. Saya cuma dilewatin duitnya, disuruh memilah, menghitung, dan meng-entry di sistem.
 
Ada lagi nasabah yang suka menabung dengan uang recehan. Nasabah ini sungguh-sungguh menabung, artinya tabungan tersebut baru akan diambil ketika ada kebutuhan. Tip dari teman saya, di buku tabungannya ditulis kode tertentu. Ketika nasabah tersebut mengambil tabungan lewat teller, barulah bisa ‘membalas dendam’ dengan cara uangnya dicampur uang kecil.
 
Tapi, enggak sadis-sadis amat, sih, balas dendamnya. Tidak sebanding dengan ‘kejahatannya’ memberikan uang recehan kepada saya. Ha… ha... ha….
 
Sekarang saya sudah tidak bekerja sebagai teller. Namun, tidak berarti saya berhenti bergaul dengan recehan. Tetap ada recehan dari dompet suami saya yang harus saya bereskan dan belanjakan. Lumayan, deh.
 
***

Ira Sugiarsih – Tangerang
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado



Topic

#fiksi, #gadogado

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.